Telset.id – Canva mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada 1.271 orang, atau setara 22 persen dari total staf perusahaan. Langkah ini diumumkan langsung oleh co-founder dan CEO Canva Melanie Perkins. Keputusan tersebut menjadikan Canva salah satu perusahaan teknologi yang melakukan perampingan besar, sehari setelah Squarespace mengumumkan PHK terhadap 19 persen stafnya.
Dalam catatannya kepada karyawan, Perkins menyatakan bahwa perubahan ini tidak hanya berarti pengurangan tenaga kerja. “For some people, this will mean changes to their roles or being asked to relocate to centralised hubs,” kata Perkins. “Sadly, it will also mean saying goodbye to teammates and friends who have helped build Canva into what it is today.”
Perkins menjelaskan alasan di balik keputusan berat tersebut. Menurutnya, Canva telah mengeksplorasi berbagai alternatif sebelum akhirnya mengambil kesimpulan bahwa perubahan kecil tidak akan cukup. “After exploring a wide range of alternatives, I’ve come to the difficult conclusion that small changes won’t be enough. To set ourselves up for the next decade, we need to refound Canva, getting back to our roots of small, empowered teams with the freedom to make decisions, take ownership and focus on what matters most for our community,” ujarnya.
Restrukturisasi Tim Produk dan Aturan Kerja Hybrid
Perubahan yang dilakukan Canva mencakup penggabungan tim Product, Growth, dan Platform ke dalam satu organisasi produk. Langkah ini disebut sebagai upaya “simplifying layers” dan “consolidating overlapping responsibilities.” Selain itu, Canva menjadikan Sydney sebagai “primary home for more of our product teams, as well as roles in other Specialties where shared context and close collaboration are especially important.”
Mulai Januari, Canva juga akan “expect” sebagian besar karyawan hybrid untuk menghabiskan 2 hingga 3 hari di kantor setiap minggu, “depending on what makes sense in your area.” Aturan ini menandai penyesuaian kebijakan kerja fleksibel yang sebelumnya diterapkan perusahaan.
Bagi karyawan yang meninggalkan Canva, perusahaan menyiapkan paket benefit yang mencakup gaji minimal enam bulan, cakupan kesehatan selama dua belas bulan, serta sumber daya dukungan karier. Paket ini disebut sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka selama membangun Canva.
Baca Juga:
Keputusan PHK ini menjadi sorotan karena Canva selama ini dikenal sebagai salah satu platform desain paling populer di dunia, termasuk di Indonesia. Perusahaan terus menghadirkan inovasi produk, seperti yang terlihat lewat kehadiran Canva Craft sebagai model AI internal pertama mereka. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa Canva tetap berinvestasi pada pengembangan teknologi di tengah tekanan efisiensi organisasi.
Selain itu, Canva juga aktif merilis pembaruan produk sepanjang tahun. Perusahaan tercatat merilis 100 pembaruan Visual Suite sepanjang 2026, yang memperlihatkan fokus mereka pada pengembangan fitur bagi pengguna. Namun, di sisi lain, survei Canva juga mengungkap bahwa 98% profesional Indonesia memakai AI untuk presentasi, menandakan adopsi teknologi yang tinggi di pasar.
Restrukturisasi ini menempatkan Canva dalam fase transisi menuju apa yang disebut Perkins sebagai “refound” — kembali ke akar perusahaan dengan tim kecil yang berdaya dan memiliki kebebasan mengambil keputusan. Bagi 1.271 karyawan yang terdampak, paket benefit yang disiapkan menjadi jaring pengaman, sementara bagi Canva, langkah ini menjadi taruhan untuk menyiapkan fondasi satu dekade ke depan.
Pengumuman Canva menyusul langkah serupa dari Squarespace yang melakukan PHK terhadap 19 persen stafnya sehari sebelumnya. Hal ini menunjukkan gelombang efisiensi yang melanda sektor teknologi, dengan perusahaan-perusahaan menata ulang struktur organisasi untuk menghadapi periode berikutnya.
[ META_DESCRIPTION]
Canva memangkas 1.271 karyawan atau 22 persen staf dalam restrukturisasi besar. CEO Melanie Perkins sebut perusahaan perlu “refound Canva” untuk dekade berikutnya.





Komentar
Belum ada komentar.