Ilustrasi pusat data modern dengan rak server dan lampu LED biru yang menyala terang

Data Center AS Bakal Konsumsi 20% Listrik Nasional pada 2035

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • BloombergNEF memproyeksikan pusat data AS konsumsi 20% listrik nasional pada 2035
  • Permintaan listrik pusat data diprediksi mencapai 194 GW pada 2035
  • Angka proyeksi meningkat 2,5 kali lipat dalam 15 bulan terakhir
  • Kekurangan pasokan listrik diperkirakan mencapai 19 GW meski dengan laju koneksi rekor
  • PJM Interconnection akan kirim 34% listrik ke pusat data pada 2035
  • Hampir setengah pembangunan pusat data AS tahun ini diproyeksikan tertunda
  • Biaya listrik regional naik 75,5% akibat permintaan pusat data

Telset.id – Konsumsi listrik pusat data di Amerika Serikat diproyeksikan melonjak drastis dalam satu dekade mendatang, mengancam pasokan energi nasional. Menurut perkiraan terbaru dari BloombergNEF (BNEF), pusat data di AS akan mengkonsumsi sekitar 20% dari total listrik negara tersebut pada tahun 2035, meningkat signifikan dari angka 5,9% saat ini.

Laporan BNEF yang baru dirilis memperkirakan permintaan listrik dari pusat data pada 2035 mencapai 194 GW. Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar 83% dibandingkan perkiraan yang mereka keluarkan pada Desember lalu. Bahkan dengan laju koneksi jaringan rekor yang dipertahankan setiap tahun selama satu dekade, diperkirakan masih akan terjadi kekurangan pasokan sebesar 19 GW.

Proyeksi ini menyoroti tekanan luar biasa yang ditimbulkan oleh boom pusat data AI terhadap infrastruktur energi AS. Perkembangan ini juga menjadi perhatian serius bagi industri teknologi global, termasuk di Indonesia yang mulai merasakan dampak serupa. PHK karyawan di divisi data center beberapa perusahaan teknologi menunjukkan bahwa industri ini sedang mengalami transformasi besar.

BNEF sebelumnya memperkirakan permintaan pada 2035 sebesar 106 GW pada Desember lalu, dan angka itu sendiri sudah 36% di atas proyeksi yang mereka terbitkan pada April 2025 yang sekitar 78 GW. Dengan kata lain, angka proyeksi 2035 telah meningkat sekitar 2,5 kali lipat hanya dalam waktu 15 bulan. Lonjakan terbaru ini mencerminkan volume fasilitas AI baru yang masuk ke dalam pipeline pengembangan, bukan kapasitas yang sedang dalam konstruksi.

Texas data center

Banyak lembaga peramal lain juga bergerak ke arah yang sama. EPRI, organisasi nirlaba kelistrikan, lebih dari dua kali lipat perkiraan tahun 2024 mereka. Sementara itu, S&P menaikkan proyeksinya lebih dari sepertiga antara Oktober dan April. Hal ini menunjukkan konsensus yang semakin kuat di kalangan analis bahwa pertumbuhan pusat data akan jauh melampaui perkiraan awal.

Hampir setengah dari kapasitas yang diproyeksikan akan digunakan untuk beban kerja pelatihan dan inferensi AI. AS diperkirakan akan menjadi tuan rumah bagi 64% chip AI dunia berdasarkan permintaan daya pada tahun 2033. BNEP memperkirakan bahwa pusat data akan menyumbang sekitar 12% konsumsi listrik AS pada tahun 2030 sebelum mencapai 20% lima tahun kemudian. Virginia dan Texas diperkirakan akan berada di atas rata-rata nasional.

Gartner secara terpisah memperkirakan bahwa konsumsi listrik pusat data global akan tumbuh 26% tahun ini, mencapai 565 TWh pada tahun 2026. Angka ini menunjukkan bahwa masalah konsumsi energi bukan hanya masalah AS, melainkan fenomena global yang membutuhkan perhatian serius.

Kapasitas pusat data terbanyak yang pernah terhubung ke jaringan listrik AS dalam satu tahun adalah 7,1 GW. Mempertahankan laju tersebut hingga 2035 masih menghasilkan kekurangan 19 GW dalam skenario dasar BNEF, bahkan setelah memperhitungkan pembangkit listrik gas di lokasi. Lloyd Arnold, analis BNEF dan salah satu penulis laporan, mengatakan kepada Bloomberg bahwa dari output “setiap pembangkit listrik batu bara, setiap pembangkit listrik gas, setiap ladang surya di AS,” satu unit energi dari lima akan digunakan untuk pusat data.

PJM Interconnection, operator jaringan 13 negara bagian yang wilayahnya mencakup koridor pusat data Virginia Utara, akan mengirimkan 34% listriknya ke pusat data pada tahun 2035. Sementara ERCOT di Texas akan mencapai 22%, menurut laporan dari TechCrunch. Pemantau pasar independen PJM telah mengaitkan peningkatan 75,5% dalam biaya listrik regional secara langsung dengan permintaan pusat data.

Microsoft data center in Mount Pleasant, Wisconsin

Dampak dari lonjakan permintaan ini sudah mulai terasa. Hampir setengah dari pembangunan pusat data AS yang direncanakan tahun ini diproyeksikan akan tertunda atau dibatalkan. Waktu tunggu untuk transformator berdaya tinggi bisa mencapai hingga lima tahun. Revisi BNEF sendiri didorong terutama oleh proyek tahap awal yang masuk ke antrean utilitas untuk mengamankan daya sebelum konstruksi dimulai, sehingga sebagian besar dari pipeline di balik angka 194 GW masih bersifat spekulatif.

Kondisi ini juga memicu kekhawatiran di kalangan industri. Krisis DRAM global yang diperkirakan berlangsung 10 tahun juga menjadi faktor yang memperumit situasi, mengingat pusat data AI membutuhkan memori dalam jumlah besar. Sementara itu, insiden keamanan seperti model AI yang bobol sistem menunjukkan bahwa keamanan data center juga menjadi isu kritis.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di AS. Irlandia, misalnya, mencatat bahwa pusat data di negara itu mengkonsumsi hampir sebanyak listrik yang dikonsumsi seluruh rumah tangga di negara tersebut pada tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa masalah konsumsi energi pusat data adalah masalah global yang membutuhkan solusi segera.

Dengan proyeksi yang terus meningkat, tantangan utama ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan energi pusat data AI dengan keberlanjutan jaringan listrik nasional. Tanpa investasi besar-besaran dalam infrastruktur energi dan efisiensi, kekurangan pasokan yang diprediksi BNEF bisa menjadi kenyataan dalam satu dekade mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.