📑 Daftar Isi

Ilustrasi logo Vivo dan Dixon Technologies dalam joint venture manufaktur smartphone di India

Disetujui! Vivo Gandeng Dixon Produksi Smartphone di India

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah India menyetujui joint venture antara Vivo (China) dan Dixon Technologies (India) dengan struktur kepemilikan 51:49
  • Usaha patungan akan mengakuisisi aset manufaktur Vivo dan memproduksi smartphone untuk Vivo serta merek lain
  • Langkah ini merupakan strategi baru merek China untuk beradaptasi dengan aturan investasi ketat India pasca 2020
  • Apple kuasai 57% ekspor smartphone India, sementara merek China dengan pangsa pasar 72% hanya berkontribusi kurang dari 10% ekspor
  • Bagi Dixon, venture ini bisa menambah volume manufaktur tahunan 20-22 juta unit smartphone

Telset.id – Pemerintah India secara resmi menyetujui usaha patungan (joint venture) antara produsen ponsel asal China, Vivo, dan perusahaan manufaktur lokal, Dixon Technologies. Keputusan ini menjadi tonggak penting bagi industri manufaktur smartphone di India, yang selama ini didominasi oleh ekspansi Apple.

Persetujuan ini memungkinkan Vivo untuk melanjutkan kemitraan manufaktur yang sempat tertunda, yang pertama kali diumumkan pada Desember 2024. Investasi ini mendapat lampu hijau setelah New Delhi menerapkan aturan ketat pada tahun 2020 yang mewajibkan pengawasan ekstra terhadap investasi dari negara-negara yang berbagi perbatasan darat dengan India, termasuk China.

Berdasarkan pengajuan bursa efek oleh Dixon yang berbasis di Noida, usaha patungan ini akan mengakuisisi aset manufaktur tertentu dari Vivo. Perusahaan baru ini juga akan memproduksi sebagian pesanan smartphone Vivo di India, serta berpotensi memproduksi produk elektronik untuk merek lain.

Struktur usaha patungan ini adalah 51/49, di mana Dixon memegang mayoritas saham, sementara Vivo memegang sisanya. Model ini mencerminkan perubahan strategi yang lebih luas di kalangan merek smartphone China dalam memperluas manufaktur di India melalui kemitraan lokal.

Analis percaya bahwa struktur seperti ini bisa menjadi cetak biru bagi industri secara keseluruhan. Hal ini membantu memperluas kisah sukses manufaktur smartphone India yang sebelumnya identik dengan Apple.

Dominasi Apple vs Merek China

Dalam beberapa tahun terakhir, India telah muncul sebagai pusat manufaktur smartphone global utama. Apple dan para pemasoknya telah memperluas produksi iPhone di negara tersebut sambil melakukan diversifikasi rantai pasokan di luar China. Insentif pemerintah juga turut membantu menarik produsen elektronik global.

Apple kini menguasai 57% dari total ekspor smartphone India berdasarkan volume, menurut data Counterpoint Research yang dibagikan ke TechCrunch. Sementara itu, merek-merek China mendominasi penjualan pasar smartphone India dengan pangsa 72%, namun kontribusi mereka terhadap ekspor kurang dari 10%.

Kesenjangan ini menunjukkan potensi besar yang masih bisa diraih jika merek China mulai mengekspor dari India seperti yang dilakukan Apple. Ekspansi manufaktur Apple di India sebagian besar didorong oleh pemasok seperti Foxconn dan Tata.

Merek smartphone China kini semakin banyak menjajaki kemitraan dengan perusahaan India. Hal ini terjadi setelah New Delhi memperketat aturan investasi untuk negara tetangga pasca insiden perbatasan dengan China pada tahun 2020.

Beberapa perusahaan seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi juga menghadapi investigasi pajak dan regulasi di India dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjelaskan mengapa menyerahkan kendali mayoritas kepada mitra India kini dipandang sebagai jalur yang lebih berkelanjutan.

Dampak bagi Vivo dan Dixon

Tarun Pathak, direktur riset di Counterpoint Research, menilai kemitraan lokal seperti usaha patungan Dixon-Vivo menawarkan model operasi yang lebih stabil bagi merek China. Model ini juga selaras dengan dorongan India untuk partisipasi lokal yang lebih besar dalam manufaktur elektronik.

“Persetujuan usaha patungan ini menciptakan situasi win-win bagi kedua pemain,” kata Pathak kepada TechCrunch. Ia menambahkan bahwa struktur mayoritas milik India memberikan keselarasan kebijakan yang lebih baik bagi Vivo, sementara memberi Dixon skala untuk memperdalam nilai tambah lokal dan mengejar ekspor.

Vivo telah memproduksi dan mengekspor smartphone dari India selama bertahun-tahun. Namun, usaha patungan yang disetujui ini menandai pergeseran menuju struktur manufaktur yang mayoritas dimiliki India, seiring raksasa pasar ini memperdalam jejaknya di pasar smartphone terbesar kedua di dunia.

Vivo mempertahankan posisi teratas di pasar smartphone India dengan pangsa pengiriman 23% pada kuartal pertama, menurut Counterpoint.

Bagi Dixon, perusahaan jasa manufaktur elektronik terbesar di India, usaha patungan ini dapat menambah volume manufaktur tahunan sekitar 20 juta hingga 22 juta smartphone, berdasarkan penjualan Vivo saat ini. Hal ini diungkapkan oleh Managing Director Dixon, Atul Lall, dalam panggilan pendapatan perusahaan pada bulan Mei.

Volume tersebut merupakan peningkatan yang signifikan bagi perusahaan publik yang pertumbuhannya semakin bergantung pada kontrak manufaktur semacam ini. Dixon sebelumnya sudah memproduksi smartphone untuk Xiaomi, yang menunjukkan perannya sebagai mitra manufaktur yang terus berkembang.

Usaha patungan Vivo-Dixon memperkuat posisi Dixon sebagai salah satu taruhan paling andal dalam pembangunan sektor elektronik India. Model kemitraan ini juga diprediksi akan diikuti oleh merek China lainnya yang ingin memperkuat operasi mereka di India.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.