📑 Daftar Isi

Grafik peningkatan emisi karbon Microsoft dari tahun ke tahun

Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen Gegara Ekspansi Data Center

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Emisi karbon Microsoft meningkat 25 persen pada 2025, mencapai 34 juta metrik ton.
  • Kenaikan ini terutama didorong oleh ekspansi infrastruktur pusat data.
  • Keputusan berhenti membeli sertifikat energi terbarukan tertentu juga berkontribusi pada peningkatan.
  • Target Microsoft untuk menjadi carbon negative pada 2030 semakin terancam.
  • Laporan mengakui solusi keberlanjutan tidak berkembang cukup cepat untuk memenuhi permintaan AI.
  • Google dan Amazon juga melaporkan peningkatan emisi karbon serupa.

Telset.id – Microsoft kembali mencatatkan lonjakan emisi karbon yang signifikan. Berdasarkan laporan keberlanjutan tahun 2026, emisi karbon perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu meningkat 25 persen pada tahun 2025, mencapai total 34 juta metrik ton.

Laporan yang dikutip dari GeekWire tersebut mengungkapkan bahwa peningkatan emisi ini terjadi “tanpa intervensi tertentu”. Microsoft menyebutkan bahwa kenaikan ini didorong terutama oleh ekspansi infrastruktur pusat data (data center) mereka. Selain itu, keputusan perusahaan pada Februari lalu untuk berhenti membeli “sertifikat energi terbarukan yang tidak bersifat tambahan dan tidak terikat” juga turut berkontribusi.

Beberapa tahun lalu, Microsoft menetapkan target ambisius untuk menjadi carbon negative pada tahun 2030. Artinya, perusahaan harus mampu menghilangkan lebih banyak emisi karbon daripada yang dihasilkannya. Lonjakan emisi terbaru ini menjadi tantangan serius bagi pencapaian target tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Microsoft mengalami kemunduran dalam upaya mencapai target iklimnya. Laporan keberlanjutan tahun 2024 sebelumnya juga menunjukkan peningkatan polusi iklim yang serupa. Situasi ini mengindikasikan bahwa jalan menuju target carbon negative semakin berat bagi raksasa teknologi tersebut.

Laporan tahun ini secara gamblang mengakui adanya kesenjangan antara permintaan dan pasokan solusi keberlanjutan. “Meskipun infrastruktur AI mendorong permintaan akan energi, air, lahan, dan material, solusi keberlanjutan tidak berkembang cukup cepat untuk memenuhi permintaan,” demikian pengakuan resmi Microsoft dalam laporan tersebut.

Dampak AI pada Emisi Karbon

Ekspansi pusat data yang masif tidak terlepas dari meningkatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Infrastruktur AI membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, yang pada gilirannya meningkatkan konsumsi energi secara drastis. Hal ini menjadi faktor utama di balik melonjaknya emisi karbon Microsoft.

Fenomena serupa juga dialami oleh kompetitor Microsoft. Google melaporkan lonjakan 25 persen dalam emisi rantai pasokannya pada laporan keberlanjutan tahun 2026. Sementara itu, Amazon mencatatkan peningkatan yang sedikit lebih rendah, yaitu sebesar 16 persen.

Selain emisi karbon, konsumsi air pusat data juga menjadi sorotan. Pada bulan Juni, Amazon melaporkan bahwa pusat datanya menggunakan 2,5 miliar galon air pada tahun 2025. Meskipun jumlah tersebut sangat besar, Amazon mengklaim angka itu lebih rendah dari konsumsi air Microsoft.

Meskipun Microsoft telah berinvestasi besar-besaran dalam energi terbarukan dan teknologi penangkapan karbon, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan infrastruktur digital, khususnya untuk AI, masih jauh melampaui upaya dekarbonisasi. Target ambisius untuk menjadi carbon negative pada 2030 kini berada dalam tekanan yang semakin besar.

Laporan keberlanjutan ini menjadi pengingat bahwa meskipun perusahaan teknologi besar telah berkomitmen pada tujuan iklim, tantangan operasional dan permintaan pasar yang terus meningkat seringkali menghambat kemajuan. Ke depannya, Microsoft dan perusahaan teknologi lainnya perlu mencari keseimbangan antara inovasi, terutama di bidang AI, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Bagi para pengamat industri, situasi ini menunjukkan bahwa target keberlanjutan yang ambisius harus diimbangi dengan rencana aksi yang lebih konkret dan terukur. Tanpa adanya terobosan signifikan dalam teknologi energi bersih dan efisiensi pusat data, target carbon negative Microsoft pada 2030 tampaknya akan semakin sulit direalisasikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.