Telset.id – Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno menilai Indonesia perlu mulai mempersiapkan fondasi pengembangan teknologi jaringan seluler 6G. Hal ini dinilai penting mengingat tingkat adopsi layanan 5G yang saat ini masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Menurut Sarwoto, kondisi adopsi 5G yang belum optimal justru menjadi momentum yang tepat untuk menyiapkan adopsi 6G. Ia menekankan bahwa tidak ada masalah jika Indonesia ingin melompat langsung ke teknologi yang lebih baru.
“Kalau 5G lelet-lelet, lari ke 6G tidak ada masalah. Loncat saja. Tergantung nanti kebutuhan pasar dan keekonomiannya,” kata Sarwoto saat ditemui usai Seminar & Workshop Nasional dengan tema “Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia” di Jakarta, Kamis (9/6/2026).
Pernyataan ini disampaikan Sarwoto dalam acara yang digelar untuk membahas alokasi spektrum frekuensi yang strategis bagi perkembangan telekomunikasi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa persiapan menuju 6G perlu dilakukan mulai sekarang agar Indonesia memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung ketika teknologi tersebut mulai diterapkan secara global.
“Kalau kita tidak rencanakan dengan baik, tahu-tahu lingkungan internasional sudah siap, sementara kita baru mulai mempersiapkan,” ujarnya.
Sarwoto menjelaskan bahwa upaya menyiapkan 6G tidak berarti mengesampingkan pembangunan jaringan 5G yang saat ini masih terus berkembang. Hal yang terpenting, kata dia, adalah menyiapkan infrastruktur dasar berupa ketersediaan spektrum frekuensi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai teknologi telekomunikasi, seperti 5G dan 6G.
“Kalau jalan rayanya sudah ada, nanti tergantung mau dipakai teknologi apa di atasnya. Bisa 5G, bisa nanti langsung berkembang ke 6G,” katanya.
Ia menambahkan pengembangan jaringan oleh operator telekomunikasi tetap akan mempertimbangkan aspek kebutuhan pasar dan kelayakan bisnis. Saat ini, investasi pembangunan jaringan 5G secara masif dinilai belum sepenuhnya menarik karena jumlah pengguna perangkat yang telah mendukung jaringan 5G masih relatif kecil.
Selain itu, Sarwoto menilai tantangan lain adalah belum banyaknya pemanfaatan 5G di berbagai sektor industri. Menurutnya, adopsi teknologi baru akan berkembang apabila mampu memberikan nilai tambah bagi dunia usaha maupun masyarakat.
Baca Juga:
Pernyataan Mastel ini menjadi sinyal penting bagi ekosistem telekomunikasi di Indonesia. Dengan persiapan yang matang, Indonesia diharapkan tidak tertinggal dalam adopsi teknologi jaringan generasi terbaru.
Seminar dan workshop yang digelar di Jakarta tersebut turut membahas nilai strategis alokasi spektrum Upper 6GHz. Spektrum ini dinilai krusial untuk mendukung pengembangan mobile broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia.
Menurut Sarwoto, kesiapan infrastruktur dasar berupa spektrum frekuensi menjadi kunci utama. Jika spektrum sudah dialokasikan dengan baik, maka operator telekomunikasi dapat dengan mudah mengadopsi teknologi apa pun di masa depan, baik 5G, 5G-Advanced, maupun 6G.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan jaringan telekomunikasi harus tetap berorientasi pada pasar. Operator tidak akan serta-merta membangun infrastruktur jika belum ada permintaan yang memadai dari konsumen dan industri.
“Adopsi teknologi baru akan berkembang apabila mampu memberikan nilai tambah bagi dunia usaha maupun masyarakat,” tegas Sarwoto.
Dengan demikian, persiapan menuju 6G bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal ekosistem bisnis dan kesiapan pasar. Mastel mendorong semua pemangku kepentingan untuk mulai berdiskusi dan merencanakan langkah-langkah strategis ke depan.
Langkah ini sejalan dengan perkembangan global di mana berbagai negara dan perusahaan teknologi besar mulai gencar melakukan riset dan pengembangan 6G. Perkembangan teknologi di tingkat global menjadi tolok ukur bagi Indonesia untuk tidak terlambat dalam mempersiapkan diri.
Mastel berharap pemerintah dan regulator telekomunikasi dapat segera mengambil langkah konkret terkait alokasi spektrum dan kebijakan pendukung lainnya. Dengan perencanaan yang baik sejak sekarang, Indonesia dapat memanfaatkan momentum transisi teknologi untuk meningkatkan daya saing di kancah global.
Sarwoto mengingatkan bahwa keterlambatan persiapan justru akan membuat Indonesia semakin tertinggal. “Kalau kita tidak rencanakan dengan baik, tahu-tahu lingkungan internasional sudah siap, sementara kita baru mulai mempersiapkan,” ujarnya mengulangi peringatannya.
Ke depannya, Mastel akan terus mendorong dialog dan kolaborasi antara pemerintah, operator, akademisi, dan pelaku industri untuk mewujudkan kesiapan infrastruktur telekomunikasi Indonesia, termasuk untuk adopsi 6G.
Dengan fondasi yang kuat, Indonesia diharapkan dapat melompat lebih cepat dalam adopsi teknologi jaringan seluler generasi mendatang, tanpa harus terbebani oleh lambatnya adopsi teknologi sebelumnya.





Komentar
Belum ada komentar.