📑 Daftar Isi

Even Realities G2 dan Snap Specs di AWE 2026

Even Realities CTO Kritik Snap Specs, Bocorkan Rencana G3

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Even Realities CTO Jian Ouyang kritik bobot Snap Specs 132-136 gram yang tidak ideal untuk pemakaian seharian
  • Kacamata pintar ideal harus memiliki bobot di bawah 40 gram berdasarkan riset ergonomis Even Realities
  • Even Realities menghilangkan kamera dan speaker demi mencapai bobot ringan, hanya mempertahankan layar dan mikrofon
  • Filosofi ambient computing Even Realities berbeda dengan komputasi spasial Snap Specs
  • Even Realities G3 direncanakan hadir dengan agen AI personal tanpa aplikasi tradisional
  • Kamera internal untuk multimodalitas AI masih butuh waktu bertahun-tahun karena konsumsi daya
  • Snap Specs dijual seharga $2,200 dengan pendekatan komputasi spasial imersif
  • Persaingan kacamata pintar 2026 semakin ketat dengan hadirnya Snap Specs dan Even Realities G3

Telset.id – Even Realities CTO, Jian Ouyang, secara terbuka mengkritisi desain Snap Specs yang debut di AWE 2026, seraya mengungkapkan bahwa kacamata pintar ideal harus memiliki bobot di bawah 40 gram agar nyaman dipakai seharian. Dalam wawancara eksklusif, ia juga memberikan bocoran awal tentang rencana pengembangan kacamata pintar Even Realities G3 yang akan mengusung konsep agen AI personal.

Perbedaan filosofi antara Snap Specs dan Even Realities terlihat jelas dari pendekatan desain. Snap Specs yang diumumkan oleh CEO Snap, Evan Spiegel, hadir dengan bobot 132 hingga 136 gram dan menawarkan pengalaman komputasi spasial yang imersif. Namun, Ouyang menilai bobot tersebut tidak ideal untuk pemakaian sepanjang hari.

“I think from the first look, people can tell we’re [Even Realities] a different category, right? So 132 and 136 grams are not for all-day wearing,” ujar Ouyang. “We did strong ergonomic R&D research from the beginning to see what’s the good form factor for normal glasses to be worn all day — that answer is below 40 grams.”

Untuk mencapai bobot ringan tersebut, Even Realities mengambil keputusan desain yang radikal. Perusahaan menghilangkan fitur kamera, speaker, dan hanya mempertahankan layar serta input suara dengan mikrofon. “We killed the camera feature, the speaker, and we maintained the display and voice input with all the microphones to get us the right weight,” tambah Ouyang. Pendekatan ini memungkinkan kacamata mereka tetap nyaman dipakai sepanjang hari, berbeda dengan Snap Specs yang lebih cocok untuk sesi penggunaan singkat.

Kritik terhadap Snap Specs juga datang dari sisi kenyamanan fisik. Sebuah foto yang beredar luas menunjukkan telinga kiri Evan Spiegel tampak tertekan oleh stem kacamata Snap Specs. Menanggapi hal ini, CEO Snap tersebut mengatakan, “that’s what my ear looks like.” Insiden ini memperkuat argumen Even Realities bahwa desain kacamata harus mengutamakan kenyamanan pemakaian jangka panjang.

Baca Juga:

Filosofi Ambient Computing vs Komputasi Spasial

Perbedaan mendasar antara Even Realities dan Snap Specs terletak pada filosofi produk. Raag Harshavat, Head of Developer Relations Even Realities, menjelaskan bahwa DNA perusahaan adalah membuat kacamata yang spesial terlebih dahulu sebagai alat bantu lihat, sebelum menambahkan aspek pintarnya. “Forget the smart part of it, right?” ujarnya.

Konsep yang diusung Even Realities disebut sebagai ambient computing, di mana perangkat hadir secara natural dan hanya aktif ketika dibutuhkan. Berbeda dengan Snap Specs yang dirancang untuk menggantikan smartphone dalam sesi penggunaan tertentu, Even Realities memilih pendekatan yang lebih sederhana dan tidak mengganggu.

“They might think ‘one day I’m going to replace it’ [the smartphone]. I don’t think it’s right or wrong. It’s just up to the user to decide — either I’m going to wear this [pointing to his G2s] all day, or I’m just going to wear this for like 30 minutes for fun. It’s a different application,” jelas Ouyang.

Pendekatan ambient computing ini memungkinkan Even Realities G2 menawarkan fitur seperti Conversate yang bekerja secara natural dalam percakapan sehari-hari. Perangkat ini dirancang untuk hadir di momen-momen yang diharapkan maupun tidak diharapkan pengguna, tanpa perlu interaksi yang rumit.

Rencana Pengembangan Even Realities G3

Meskipun belum bersedia membocorkan detail spesifik, Ouyang memberikan gambaran tentang arah pengembangan Even Realities G3. Fokus utama perusahaan adalah mempertahankan form factor yang ringan sambil terus mendorong adopsi teknologi baru ke dalam platform mereka.

“I think the overall hardware road map for us is to maintain a good form factor and constantly push for new technologies to get into our platform,” ujar Ouyang. “As battery and hardware technology evolves, everything gets smaller, and we may be able to squeeze more features in there.”

Salah satu fitur yang paling dinantikan adalah kamera internal untuk multimodalitas AI. Namun, Ouyang yang sebelumnya merupakan insinyur kamera iPhone, memberikan catatan hati-hati. Ia mengingatkan bahwa meskipun kamera adalah sesuatu yang mereka kejar, mencapai titik di mana kamera dapat diintegrasikan tanpa konsumsi daya yang besar “mungkin memakan waktu bertahun-tahun.”

Sebagai gantinya, Even Realities G3 akan fokus pada pengalaman agen AI personal. Ouyang membayangkan sistem terbuka berbasis AI di mana kacamata menjadi perangkat keras yang menghubungkan segalanya. “What we foresee is a more open system based on AI with a hardware platform that everything routes through,” jelasnya.

“This [points to glasses] is the nearest to your eyes and they can hear you, but there won’t be any kind of app. You don’t have to click on something or type in the worlds — all you need to do is imagine like you have your personal Jarvis buying something online, booking tickets and more,” tambah Ouyang, menggambarkan visi masa depan di mana interaksi dengan perangkat menjadi lebih alami dan tanpa friksi.

Konsep agen AI personal ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin mengarah pada kecerdasan buatan yang proaktif dan kontekstual. Even Realities memposisikan diri sebagai platform yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi secara seamless melalui kacamata pintar yang ringan dan nyaman dipakai sepanjang hari.

Perbandingan dengan Snap Specs

Snap Specs yang diumumkan di AWE 2026 hadir dengan pendekatan yang sangat berbeda. Dengan harga $2,200, kacamata ini menawarkan pengalaman augmented reality yang imersif namun dengan bobot yang jauh lebih berat. Pendekatan Snap lebih fokus pada komputasi spasial dan penggantian smartphone dalam skenario tertentu.

Sementara itu, Even Realities memilih pendekatan yang lebih sederhana namun berpotensi lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Dengan bobot di bawah 40 gram, kacamata ini bisa dipakai sepanjang hari tanpa menimbulkan ketidaknyamanan. Perusahaan juga tidak mencoba menggantikan smartphone, melainkan melengkapinya dengan kemampuan komputasi yang lebih ringan dan kontekstual.

Perbedaan pendekatan ini mencerminkan ketidakpastian industri tentang bentuk ideal kacamata pintar di masa depan. Apakah pengguna akan memilih perangkat yang imersif namun berat untuk sesi penggunaan singkat, atau perangkat yang ringan dan nyaman untuk penggunaan sepanjang hari? Jawabannya mungkin akan berbeda untuk setiap pengguna.

Prospek Pasar Kacamata Pintar 2026

Tahun 2026 menjadi tahun yang menarik bagi industri kacamata pintar. Dengan hadirnya Snap Specs, Even Realities G3, serta pemain lain seperti Xreal dengan Project Aura, persaingan semakin ketat. Setiap perusahaan memiliki visi yang berbeda tentang bagaimana kacamata pintar seharusnya bekerja dan berinteraksi dengan pengguna.

Even Realities percaya bahwa kunci sukses adalah membuat perangkat yang nyaman dipakai sepanjang hari dan hadir secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Snap Specs lebih fokus pada pengalaman komputasi spasial yang imersif meskipun harus mengorbankan kenyamanan pemakaian jangka panjang.

Perkembangan teknologi baterai dan hardware diperkirakan akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah industri ini. Jika komponen dapat dibuat lebih kecil dan lebih efisien, bukan tidak mungkin perangkat seperti Snap Specs di masa depan bisa memiliki bobot yang mendekati kacamata biasa sambil tetap mempertahankan kemampuan komputasi spasialnya.

Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti meskipun ketersediaan produk-produk tersebut di pasar lokal masih terbatas. Kacamata pintar masih menjadi produk premium dengan harga yang relatif tinggi, namun seiring waktu dan perkembangan teknologi, harga diprediksi akan semakin terjangkau.

Even Realities sendiri telah menunjukkan bahwa pendekatan ambient computing bisa menjadi alternatif yang menarik dibandingkan komputasi spasial yang berat. Dengan fokus pada kenyamanan dan kepraktisan, perusahaan ini berpotensi menarik segmen pengguna yang menginginkan teknologi tanpa harus mengorbankan gaya hidup sehari-hari.

Keputusan akhir ada di tangan konsumen. Seperti yang dikatakan Ouyang, “It’s a different application.” Pengguna harus memutuskan apakah mereka lebih suka kacamata yang bisa dipakai seharian untuk fungsi-fungsi sederhana, atau perangkat yang lebih powerful namun hanya untuk sesi penggunaan singkat.

Komentar

Belum ada komentar.