📑 Daftar Isi

Transceiver optik di jaringan pusat data yang akan dilarang impornya oleh FCC

FCC Siap Larang Impor Transceiver Optik China untuk Data Center AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FCC AS sedang menyusun aturan larangan impor transceiver optik China untuk data center
  • Aturan ditargetkan berlaku sebelum akhir tahun 2026
  • Pemerintah AS khawatir komponen dapat digunakan untuk mencuri data atau memasang malware
  • Innolight kuasai 27% pangsa pasar global transceiver optik
  • Produsen AS seperti Lumentum dan Coherent belum punya kapasitas setara
  • Larangan ini bagian dari rangkaian kebijakan pembatasan teknologi China oleh AS
  • China ancam ambil langkah balasan jika larangan diberlakukan
  • Netgear dan Amazon dapat pengecualian hingga Oktober 2027

Telset.id – Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) dikabarkan sedang menyusun aturan yang akan melarang impor transceiver optik buatan China. Komponen ini banyak digunakan di pusat data untuk mengubah data sinyal listrik menjadi cahaya dan sebaliknya. Menurut sumber yang dikutip Reuters, FCC ingin aturan tersebut diterbitkan dan berlaku sebelum akhir tahun 2026.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah AS untuk mengamankan rantai pasokan pusat data, terutama di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pemerintah khawatir komponen-komponen tersebut dapat digunakan untuk mencuri data, memasang malware, atau mengganggu operasional pusat data di AS.

“Transceiver jelas merupakan risiko,” ujar pakar kebijakan AI Divyansh Kaushik dari firma konsultan Beacon Global Strategies. “Seiring dengan meningkatnya pembangunan pusat data, Anda ingin memastikan rantai pasokan pusat data aman sejak awal.”

optical transceivers in data center network

Transceiver optik menjadi komponen krusial bagi pusat data karena membutuhkan energi listrik yang lebih sedikit dibandingkan kabel tembaga tradisional dan juga jauh lebih cepat. Saat ini, terdapat beberapa produsen komponen ini di AS, seperti Lumentum, Coherent, dan Apple Optoelectronics. Namun, Reuters melaporkan bahwa mereka tidak memiliki skala dan kapasitas seperti perusahaan terkemuka, Innolight, yang telah menguasai 27% pangsa pasar global.

Larangan Terbaru dalam Rangkaian Kebijakan FCC

Ini bukan pertama kalinya FCC memberlakukan larangan industri dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun AS telah melarang produk Huawei sejak 2019, FCC baru-baru ini memberlakukan beberapa larangan lain yang terutama berdampak pada perusahaan-perusahaan besar China atau yang terhubung dengan China.

Larangan tersebut mencakup larangan terhadap drone buatan asing yang diterapkan pada Desember 2025, router buatan asing yang diberlakukan pada April lalu, serta perangkat robotik canggih dengan berat lebih dari 4,4 pon dan koneksi 200-kbps yang diumumkan bulan lalu. Larangan pertama terutama berdampak pada DJI, sementara larangan bulan April menghantam TP-Link, meskipun perusahaan tersebut telah memisahkan diri dari perusahaan induknya di China pada 2024.

Meskipun konsumen mungkin tidak merasa terdampak oleh larangan robot China, aturan Juli tersebut juga memengaruhi robot vakum. Merek-merek top di AS seperti iRobot, Roborock, Ecovacs, Dreame, dan Xiaomi semuanya dimiliki oleh entitas China.

Kekhawatiran Terhadap Dominasi Pasar China

Meskipun AS menyatakan bahwa semua perusahaan terkena dampak larangan ini, aturan tersebut juga memungkinkan adanya persetujuan bersyarat. Sebagai contoh, Netgear dan Amazon berhasil mendapatkan pengecualian untuk model buatan asing mereka hingga Oktober 2027. TP-Link juga mengajukan persetujuan tambahan pada bulan April namun hingga kini belum menerimanya.

FCC dikabarkan ingin mencegah komponen-komponen China ini sebelum menjadi lebih umum di pusat data AI yang berbasis di AS. Hal ini pernah terjadi dengan Huawei, yang sudah tertanam kuat di AS saat dilarang sehingga menjadi proses yang mahal dan memakan waktu bertahun-tahun untuk menghapus dan mengganti semua komponen buatan perusahaan tersebut dari semua sistemnya.

Microsoft data center in Mount Pleasant, Wisconsin

Respons China Terhadap Rencana Larangan

Kedutaan Besar China di Washington mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya mendesak Amerika Serikat untuk “mengindahkan suara objektif dan rasional dari komunitas bisnis di kedua negara” dan “berhenti mencemarkan nama baik perusahaan China dan mengancam mereka dengan sanksi.” China juga memperingatkan bahwa pihaknya akan mengambil “langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap tindakan apa pun yang menyebabkan kerugian material bagi kepentingannya.”

Beijing telah melakukan hal serupa tahun lalu ketika melarang ekspor tanah jarang ke AS sebagai respons terhadap larangan perangkat lunak EDA Washington, yang menyebabkan Gedung Putih mengubah keputusannya.

Dampak Potensial pada Industri Teknologi

Rencana larangan ini menunjukkan meningkatnya ketegangan teknologi antara AS dan China. Jika aturan ini diterapkan, perusahaan-perusahaan pusat data di AS mungkin perlu mencari pemasok alternatif untuk transceiver optik. Namun, kapasitas produsen dalam negeri AS yang belum sebesar Innolight dapat menjadi tantangan tersendiri.

Kebijakan ini juga dapat memengaruhi rantai pasokan global teknologi, mengingat banyak perusahaan teknologi di seluruh dunia bergantung pada komponen buatan China. Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini sejalan dengan upaya AS untuk membatasi pengaruh teknologi China di pasar domestiknya.

Bagi industri teknologi Indonesia, perkembangan ini perlu dipantau karena dapat memengaruhi harga dan ketersediaan komponen jaringan di masa depan. Ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia sering kali memiliki efek berantai ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Trump

Konteks Kebijakan Teknologi AS-China

Larangan yang direncanakan FCC ini merupakan bagian dari gelombang kebijakan pembatasan teknologi China oleh pemerintah AS. Sebelumnya, AS telah memberlakukan berbagai pembatasan pada perusahaan teknologi China, termasuk pembatasan ekspor chip AI dan perangkat lunak.

Kebijakan ini juga muncul di tengah meningkatnya fokus pemerintah AS pada keamanan rantai pasokan teknologi. Pemerintah AS tampaknya ingin memastikan bahwa infrastruktur digital penting, termasuk pusat data, tidak bergantung pada komponen yang berpotensi menjadi celah keamanan.

Para pengamat industri memperkirakan bahwa larangan ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk meningkatkan investasi dalam produksi komponen optik dalam negeri. Namun, membangun kapasitas produksi yang setara dengan Innolight bukanlah tugas yang mudah dan membutuhkan waktu serta investasi besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.