Ilustrasi peringatan FinCEN terhadap pusat scam Asia Tenggara yang menargetkan bank AS melalui penipuan investasi kripto

FinCEN Peringatkan Bank AS soal Sindikat Scam Asia Tenggara

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FinCEN memperingatkan bank AS soal pusat scam skala industri di Asia Tenggara
  • Korban AS kehilangan lebih dari $7,2 miliar sepanjang 2025, hampir $13 miliar sejak September 2023
  • Pusat scam berlokasi di Cambodia, Burma, dan Laos, memaksa ratusan ribu orang terlibat penipuan online
  • Investment fraud jadi modus utama, pelaku menyamar sebagai kekasih atau penasihat keuangan
  • Dana dicuci lewat aset digital, mixer, shell companies, dan jaringan perbankan bawah tanah China

Telset.id – Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di bawah US Department of the Treasury mengeluarkan peringatan resmi kepada institusi keuangan Amerika Serikat agar lebih waspada terhadap penipuan uang yang dijalankan pusat scam skala industri di Asia Tenggara. Peringatan ini disertai daftar panjang red flags yang dapat dipantau bank untuk mencegah praktik tersebut. Langkah ini menjadi respons langsung terhadap kerugian miliaran dolar yang dialami korban asal AS akibat operasi kriminal terorganisir di kawasan.

Pusat scam di Asia Tenggara bukan dijalankan kelompok kecil remaja yang menipu lansia dari ruang bawah tanah rumah orang tua mereka. Operasi ini merupakan mesin kejahatan besar dan terorganisir yang bertanggung jawab atas kerugian miliaran dolar di seluruh dunia setiap tahunnya. Sepanjang 2025 saja, korban dari AS kehilangan lebih dari $7,2 miliar akibat penipuan ini. Sementara antara September 2023 hingga Desember 2025, hampir $13 miliar dicuri dari warga Amerika.

Organisasi kriminal tersebut terutama berlokasi di Cambodia, Burma, dan Laos. Mereka memperdagangkan ratusan ribu orang ke berbagai pusat di negara-negara itu, mengambil paspor mereka, dan memaksa mereka terlibat dalam penipuan online. Mereka yang tidak memenuhi kuota tertentu sering dipukuli. Sebagian korban dibebaskan setelah keluarga mereka membayar tebusan, sementara yang lain berakhir dipaksa masuk kerja seks komersial.

Yang memperburuk situasi, sindikat ini tahan terhadap tindakan penegakan hukum karena sebagian di antaranya didukung atau bahkan dijalankan langsung oleh pejabat lokal yang korup. FinCEN menyebut para pelaku terlibat dalam berbagai aktivitas penipuan, namun menegaskan investment fraud adalah yang paling populer. Pelaku menghubungi korban dengan menyamar sebagai kekasih atau penasihat keuangan. Kadang mereka bahkan membuka percakapan dengan alasan salah mengetik nomor telepon.

Setelah berkomunikasi intens dengan korban untuk sementara waktu, pelaku berusaha membujuk korban melakukan “investasi”, sering menggunakan mata uang kripto, dengan janji keuntungan tinggi yang tidak realistis. Di titik inilah, menurut FinCEN, penipuan paling mudah diidentifikasi. Berdasarkan analisis FinCEN, sebagian besar pembayaran aset digital oleh korban ke operator pusat scam berasal dari money services businesses (MSBs) yang menawarkan layanan aset digital, termasuk kios aset digital.

Berdasarkan analisis FinCEN atas pelaporan BSA, pelaku sering menginstruksikan korban membuka akun di MSB penyedia layanan aset digital untuk membeli jenis aset digital tertentu. Korban kemudian diminta mengirim dana tersebut ke alamat aset digital yang dikendalikan pelaku. Namun penipuan tidak berhenti sampai di situ. Pelaku memanfaatkan tekanan emosional korban untuk menyebabkan kerugian lebih besar lagi.

Back view of hooded internet criminal hacking laptop in the dark, stealing credit card details

Mereka menyamar sebagai penegak hukum, institusi keuangan, atau bahkan FinCEN sendiri, dengan mengklaim sedang menyelidiki atau telah menyita dana yang dicuri. Korban lalu diminta membayar sejumlah biaya agar dana mereka bisa dikembalikan. Dalam beberapa kasus, pelaku menyamar sebagai penasihat investasi dan meminta korban menarik uang, membeli batangan emas dan perak, lalu menyerahkannya kepada kurir untuk “penyimpanan aman”.

Daftar lengkap red flags dapat ditemukan pada tautan yang disediakan FinCEN. Lembaga itu menegaskan bahwa situasi di setiap kasus harus dipertimbangkan dengan hati-hati, karena tidak ada satu red flag pun yang bersifat menentukan adanya aktivitas ilegal atau mencurigakan. Pertimbangan tersebut mencakup riwayat aktivitas keuangan pelanggan, apakah transaksi sesuai praktik bisnis yang berlaku, dan apakah pelanggan menunjukkan beberapa red flag terkait sekaligus.

Mencuri uang hanya separuh dari pekerjaan. Dana tersebut masih harus dicuci dan dimasukkan kembali ke sistem keuangan yang sah. Untuk itu, operator pusat scam mengandalkan money launderer profesional dan jaringan pencucian uang China. FinCEN mendeskripsikan proses tiga tahap. Pertama, pelaku mengekstraksi pembayaran dalam aset digital menggunakan rekening bank, money mules, shell companies, atau money services businesses yang curang.

Kedua, dalam tahap on-chain laundering, pelaku mengaburkan asal dana curian dengan memindahkannya cepat antar alamat, menggunakan mixer, dan menukar token lintas blockchain. Tahap terakhir adalah mengintegrasikan dana ke sistem keuangan tradisional melalui money mules, transfer stablecoin ke bursa lepas pantai, dan jaringan perbankan bawah tanah China. Skema pencucian uang lintas negara ini menunjukkan betapa kompleksnya operasi yang dihadapi otoritas keuangan.

A hooded figure in front of a laptop. Digital symbols obscure his face and appear to be pouring out of his head

Peringatan FinCEN ini menjadi acuan penting bagi institusi keuangan AS dalam menyusun prosedur pemantauan transaksi. Setiap bank diminta mencermati kombinasi red flags, bukan hanya satu indikator tunggal. Pendekatan berbasis konteks ini menuntut analisis menyeluruh terhadap profil pelanggan dan pola transaksi mereka.

Bagi industri keuangan global, termasuk di Indonesia, peringatan ini memperlihatkan bagaimana aliran dana hasil kejahatan siber bergerak melintasi yurisdiksi. Otoritas di berbagai negara menghadapi tantangan serupa dalam mengidentifikasi transaksi mencurigakan yang menyamar sebagai aktivitas investasi aset digital. Sejumlah kasus peretasan dan penyalahgunaan dompet kripto sebelumnya juga menyoroti kerentanan ekosistem aset digital terhadap praktik ilegal.

FinCEN menekankan bahwa penanganan setiap kasus harus mempertimbangkan konteks individual. Tidak ada red flag tunggal yang secara otomatis menandakan aktivitas ilegal. Kombinasi beberapa indikator yang saling terkait menjadi dasar penilaian yang lebih akurat bagi institusi keuangan dalam menentukan langkah lanjutan.

Man looking at phone after being scammed by an AI tool

Peringatan ini menegaskan bahwa pusat scam di Asia Tenggara telah menjadi ancaman sistemik bagi sistem keuangan global. Bagi bank dan penyedia layanan aset digital, kemampuan mengenali pola transaksi yang mencurigakan menjadi pertahanan utama. Bagi masyarakat umum, kewaspadaan terhadap tawaran investasi dengan keuntungan tidak realistis tetap menjadi langkah pencegahan paling mendasar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.