Telset.id – Google mengambil langkah besar untuk mengatasi dampak lingkungan dari konsumsi energinya yang terus melonjak. Perusahaan meneken kesepakatan untuk membeli 100 persen output awal dari proyek tenaga surya raksasa di Arkansas, Amerika Serikat, guna mengimbangi emisi bahan bakar fosil dari pusat data mereka.
Kesepakatan ini diumumkan pada 14 Juli 2026 dan pertama kali dilaporkan oleh The Financial Times. Google akan menyerap seluruh produksi listrik dari Steel River Energy Center di Arkansas setelah proyek tersebut beroperasi pada tahun 2029. Kapasitas awal yang dibeli Google mencapai 1,6 gigawatt (GW) tenaga surya dan 2 GW penyimpanan baterai, jumlah yang cukup untuk memasok listrik bagi 315.000 rumah.
Langkah ini menjadi strategi kunci Google di tengah meningkatnya tekanan untuk mengurangi jejak karbon dari operasi data center yang haus energi. Konsumsi listrik Google melonjak 37 persen tahun lalu, yang secara langsung mendorong kenaikan emisi dari jaringan listrik dalam persentase yang sama. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh kebutuhan daya untuk menjalankan kecerdasan buatan atau AI.
Menariknya, listrik dari panel surya ini tidak akan langsung digunakan oleh Google. Perusahaan akan tetap menarik daya dari jaringan listrik umum yang saat ini masih bergantung pada campuran batu bara, nuklir, energi terbarukan, dan gas alam, serta pembangkit listrik internal mereka sendiri yang biasanya menggunakan turbin dan mesin gas. Listrik dari proyek Steel River Energy Center akan menjadi bagian dari campuran energi di jaringan tersebut.
Steel River Energy Center sendiri merupakan proyek ambisius dengan total kapasitas 2,45 GW tenaga surya dan 2,9 GWh penyimpanan energi baterai setelah seluruh fase selesai. Dua fase pertama dari tiga fase yang direncanakan telah mendapatkan pendanaan sebesar $3,5 miliar dan mengutamakan penggunaan baja serta panel surya buatan Amerika Serikat. Google akan membayar biaya tetap untuk listrik dari pembangkit ini.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Google. Raksasa teknologi lain seperti Meta dan Amazon juga mengalami lompatan besar dalam konsumsi energi akibat pusat data yang mendukung AI. Sebagian besar kebutuhan energi ini dipasok dari sumber bahan bakar fosil yang pada akhirnya meningkatkan emisi CO2 di tengah pemanasan global. Para ilmuwan baru-baru ini menyatakan bahwa gelombang panas ekstrem di Eropa akan “hampir mustahil” terjadi tanpa perubahan iklim.
Praktik membeli output proyek energi bersih untuk mengimbangi emisi memang menuai kontroversi. Beberapa ahli menilai strategi ini tidak efektif secara fundamental karena perusahaan tetap menggunakan listrik dari jaringan yang didominasi bahan bakar fosil. Meski demikian, langkah serupa terus dilakukan oleh kompetitor. Meta baru saja membeli seluruh output listrik (200 MW) dari proyek pembangkit surya lain di Texas, sementara Amazon setuju untuk membeli proyek surya dan baterai Sunstone sebesar 1,2 GW di Oregon yang sedang bermasalah.
Baca Juga:
Kesepakatan ini menjadi bukti nyata bahwa perusahaan teknologi besar mulai mengambil tindakan konkret untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasi mereka, meskipun efektivitas jangka panjang dari strategi pembelian energi bersih masih menjadi perdebatan di kalangan pakar lingkungan.






Komentar
Belum ada komentar.