Telset.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid mengapresiasi International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 yang digelar Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi, karena membahas ancaman siber terhadap anak di tengah arus teknologi digital. Konferensi ini menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tantangan global yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Menurut Meutya, platform digital saat ini tidak mengenal batas negara, sehingga upaya melindungi anak dari risiko di ruang siber memerlukan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas disiplin ilmu. “Teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, perundungan siber, hingga kecanduan platform,” tuturnya dalam sambutan daring, Sabtu (20/6/2026).
PP Tunas sebagai Landasan Perlindungan Anak
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah konkret melalui Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas. “PP Tunas dengan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus diberikan sesuai usia, tingkat kematangan, dan risiko yang dihadapi,” ujar mantan Reporter Metro TV ini menekankan.
Langkah ini sejalan dengan upaya global yang juga dibahas dalam forum ICEC 2026. Ketua Panitia ICEC 2026 Dr Ajat menjelaskan, konferensi ini dirancang bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang kolaborasi global untuk memperkuat masa depan pendidikan anak usia dini (PAUD) di tengah transformasi digital.

Konferensi internasional tersebut dilaksanakan secara hybrid dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Acara ini mengusung tema ‘Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and Good Character Generation’.
Tantangan Transformasi Digital bagi PAUD
Transformasi digital yang semakin masif menghadirkan tantangan baru bagi dunia PAUD. Kehidupan kini dipengaruhi layar gawai, internet, algoritma, maupun kecerdasan buatan atau AI. Dunia pendidikan dituntut mampu mempersiapkan anak-anak agar tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kemampuan sosial yang baik.
Dr Ajat menilai tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan besarnya semangat para pendidik PAUD untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi. “Pembicara dari sejumlah negara, dan ada 31 kelompok peneliti mendiseminasikan hasil risetnya melalui prosiding konferensi. Guru-guru PAUD dari berbagai daerah juga mengikuti forum internasional ini dengan semangat yang luar biasa. Ini menunjukkan PAUD Indonesia terus bergerak maju dan berkembang,” katanya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Menkomdigi Ungkap bahaya ilusi algoritma yang juga relevan dengan risiko yang dihadapi anak-anak di ruang digital. Selain itu, YouTube Patuhi PP Tunas 2025 sebagai bentuk komitmen platform digital melindungi anak.
Konferensi ICEC 2026 digelar sehari dan mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta pemerhati PAUD dari berbagai negara. Forum ini menjadi wadah bertukar gagasan dan strategi PAUD yang relevan dengan perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada nilai kemanusiaan, budaya, dan pembentukan karakter.
Baca Juga:
Melalui konferensi tersebut, peserta diharapkan mampu merumuskan berbagai inovasi dan rekomendasi untuk menjawab tantangan pendidikan anak usia dini di era digital. Tujuannya, lahir generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap menghadapi masa depan.
Implikasinya, forum seperti ICEC 2026 menjadi penting untuk memastikan kebijakan perlindungan anak di ruang digital terus diperbarui sesuai perkembangan teknologi, tanpa mengorbankan aspek pendidikan dan pembentukan karakter sejak usia dini.





Komentar
Belum ada komentar.