Telset.id – Jumlah identitas mesin di perusahaan-perusahaan Asia Pasifik (APAC) kini melampaui identitas manusia dengan rasio mencengangkan 111:1. Lonjakan ini, yang didorong oleh adopsi agen AI otonom, telah mengubah lanskap keamanan siber secara fundamental, di mana identitas, bukan malware, menjadi vektor serangan utama.
Temuan ini berasal dari laporan 2026 Identity Security Landscape Report yang dirilis oleh Palo Alto Networks. Studi global terhadap 2.930 pengambil keputusan di bidang keamanan siber ini mengungkapkan kesenjangan besar antara skala lingkungan identitas digital saat ini dengan arsitektur keamanan tradisional yang tidak lagi memadai.
Di kawasan APAC, seluruh organisasi (100%) telah mengadopsi agen AI. Sebagian besar dari mereka memperkirakan jumlah agen AI dan identitas mesin yang dikelola akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. Fenomena ini menciptakan titik buta keamanan yang serius karena sebagian besar organisasi masih berfokus pada perlindungan identitas manusia.
“Sembilan dari sepuluh organisasi telah mengalami pembobolan keamanan terkait identitas yang berhasil dalam satu tahun terakhir, dan identitas mesin tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) mendekati 40%, yang sebagian besar didorong oleh meningkatnya penggunaan AI,” ujar Jeffrey Kok, Senior Director, Idira Domain Consulting di Palo Alto Networks. “Temuan dari laporan tahun ini dengan jelas menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi belum secara efektif mencegah pembobolan keamanan yang berkaitan dengan identitas.”
Fragmentasi Tool Identitas Memperlambat Respons
Laporan tersebut menyoroti masalah kritis lainnya: fragmentasi alat keamanan. Sebanyak 98% organisasi di APAC melaporkan mengalami identity silos, di mana penggunaan tool AI di luar tata kelola identitas formal menjadi penyebab utama. Dampaknya sangat nyata: fragmentasi ini menambahkan rata-rata 13 jam keterlambatan dalam setiap proses respons terhadap insiden.
“Yang paling mengkhawatirkan adalah fragmentasi, yang secara signifikan memperlambat organisasi: sistem yang tidak saling terhubung menambah waktu respons hingga berjam-jam pada setiap insiden, sementara pelaku serangan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membobol sistem,” tambah Jeffrey Kok. “Pelaku serangan tidak lagi perlu membobol sistem; mereka cukup log in menggunakan identitas manusia atau identitas AI yang dicuri.”
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa 98% identitas manusia di APAC memiliki hak akses yang melebihi kebutuhan perannya (overprivileged access). Situasi ini menciptakan permukaan serangan (attack surface) yang sangat luas dan sulit dikendalikan. Sebagai perbandingan, Laporan CyberArk 2025 sebelumnya juga telah memperingatkan tentang ancaman dari identitas mesin.
Sembilan dari sepuluh organisasi di APAC mengalami setidaknya satu insiden pembobolan keamanan (breach) yang berkaitan dengan identitas dalam 12 bulan terakhir. Angka ini menegaskan bahwa ancaman identitas bukan lagi sekadar teori, melainkan realitas yang sudah terjadi.
Baca Juga:
Dampak Finansial dan Risiko Sertifikat
Risiko keamanan identitas juga membawa konsekuensi finansial yang serius. Sebanyak 97% organisasi di APAC memperkirakan akan menghadapi dampak finansial apabila proses pembaruan sertifikat (certificate renewal) tidak sepenuhnya diotomatisasi. Rata-rata potensi kerugian yang ditimbulkan mencapai USD 305.161 per tahun.
Angka ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam mengelola siklus hidup identitas mesin, termasuk sertifikat digital, dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan. Otomatisasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko ini, terutama di tengah pertumbuhan identitas mesin yang eksponensial.
Relevansi bagi ASEAN dan Singapura
Temuan di kawasan APAC memiliki relevansi yang sangat besar bagi ASEAN, di mana adopsi AI di lingkungan perusahaan berkembang dengan sangat pesat. Sebagai contoh utama, data dari Singapura menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi sekaligus urgensi untuk segera mengambil langkah penanganan.
Di Singapura, jumlah identitas mesin kini rata-rata telah melampaui jumlah identitas manusia dengan rasio 107:1. Sebanyak 85% organisasi memperkirakan jumlah agen AI dan identitas mesin yang mereka miliki akan terus bertambah dalam 12 bulan ke depan. Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ini meliputi meningkatnya jumlah identitas mesin (51%), meluasnya hubungan dengan pihak ketiga termasuk mitra dan penyedia layanan (43%), serta semakin luasnya adopsi large language models (LLM) (41%).
Siddharth Deshpande, Director of Industry Solutions, JAPAC, Palo Alto Networks, menambahkan, “Para Chief Information Security Officer (CISO) di Asia Tenggara saat ini memiliki dua prioritas utama, yaitu Securing AI by Design dan Fighting AI with AI. Transformasi keamanan identitas merupakan peluang untuk meningkatkan keselarasan antara tim bisnis dengan tim keamanan dan manajemen risiko.”
Ia menekankan bahwa menghilangkan sekat (silos) dalam identitas, menghapus hak akses permanen (standing privileges), serta menerapkan kontrol hak akses yang dinamis pada setiap identitas manusia, mesin, maupun identitas AI agentik (agentic identity) merupakan langkah yang krusial. Konsep identitas untuk mesin ini semakin relevan seiring dengan perkembangan teknologi, seperti yang terlihat pada robot humanoid di China yang kini diwajibkan memiliki identitas resmi.
Langkah yang Perlu Dilakukan
Untuk mengatasi kesenjangan dalam keamanan identitas, Palo Alto Networks merekomendasikan tiga langkah utama yang harus diambil organisasi:
- Kelola Agen AI secara menyeluruh. Temukan dan kelola seluruh Agen AI secara terpusat di berbagai lingkungan SaaS, cloud, dan developer. Berikan akses kepada Agen AI hanya selama diperlukan untuk menyelesaikan tugas tertentu, serta pastikan setiap aktivitasnya tercatat dengan jelas, termasuk tindakan yang dilakukan dan atas nama siapa Agen AI tersebut bertindak.
- Terapkan akses saat dibutuhkan dan dalam waktu tertentu. Hilangkan hak akses yang aktif secara permanen di seluruh sistem. Berikan izin hanya saat benar-benar dibutuhkan, cabut akses secara otomatis setelah tugas selesai, dan catat setiap aktivitas yang dilakukan.
- Platformisasikan dan Otomatiskan siklus identitas. Mengotomatiskan proses identifikasi identitas, pengelolaan hak akses, serta penerapan kontrol keamanan secara real-time untuk identitas manusia maupun non-manusia merupakan satu-satunya cara agar organisasi dapat merespons ancaman dengan kecepatan yang setara dengan mesin.
Langkah-langkah ini menjadi semakin krusial mengingat kecepatan respons yang dibutuhkan. Pelaku serangan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membobol sistem, sementara fragmentasi tool identitas dapat menunda respons hingga 13 jam. Ketidakseimbangan ini menciptakan celah yang sangat berbahaya bagi keamanan perusahaan.
Laporan ini menegaskan bahwa transformasi keamanan identitas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi setiap organisasi di era AI. Mengabaikan risiko dari identitas mesin sama saja dengan membiarkan pintu terbuka lebar bagi pelaku serangan siber.





Komentar
Belum ada komentar.