Telset.id – China resmi mewajibkan setiap robot humanoid memiliki nomor identitas nasional layaknya KTP manusia. Kebijakan ini mulai diterapkan pekan lalu melalui platform bernama Humanoid Full Lifecycle Management Service Platform, yang bertujuan melacak aktivitas, memantau risiko, serta menstandardisasi industri robotika yang tengah berkembang pesat di negara tersebut.
Menurut laporan dari lembaga penyiaran negara CCTV, sistem identitas ini dirancang khusus untuk robot bipedal berbentuk manusia yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI). Platform tersebut memungkinkan pihak berwenang dan produsen memantau robot sepanjang masa operasional, seiring langkah China mempercepat peluncuran komersial robot humanoid di berbagai sektor industri.
Yu Xiuming, Wakil Kepala China Electronics Standardization Institute, menyatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan keselamatan dan tata kelola robot humanoid. Setiap robot akan menerima kode ID unik yang terdiri dari empat bagian: dua digit kode negara untuk melacak pengiriman dan penjualan, empat digit kode produsen, enam digit kode model produk, serta 17 digit nomor seri untuk identifikasi setiap unit secara spesifik.
Beberapa robot humanoid di Provinsi Hubei diperkirakan akan menjadi mesin pertama yang menerima nomor kartu identitas resmi ini. Liu Chuanhou, Chief Operating Officer Hubei Humanoid Robotics Innovation Center di Wuhan, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang tidak sekadar untuk menyimpan data registrasi, melainkan juga mampu melacak catatan pemeliharaan, skenario penerapan, hingga kinerja operasional sepanjang hidup robot.
Informasi real-time termasuk kondisi baterai, tingkat keausan sendi, dan akurasi operasional juga dapat dipantau melalui platform tersebut. Liu Jieni, Direktur Bisnis perusahaan robotika Maxnova, menyebut beberapa robot humanoid andalan mereka telah menyelesaikan registrasi. Ia menambahkan bahwa perusahaannya secara sukarela bergabung dalam inisiatif ini.
Kebijakan ini muncul di tengah dominasi China di industri robot humanoid global. Berdasarkan laporan bulan Maret dari Beijing CCID Publishing and Media serta China Electronics News, pengiriman robot humanoid global mencapai sekitar 17.000 unit pada tahun 2025, dengan nilai 2,88 miliar yuan. China menyumbang 14.400 unit pengiriman atau setara 84,7 persen dari total global. Sementara pasar robot humanoid domestiknya tembus 1,55 miliar yuan, mewakili 53,8 persen total pasar global. China saat ini memiliki lebih dari 140 produsen robot humanoid, didukung rantai pasokan kuat, teknologi mumpuni, serta terus meluasnya aplikasi komersial.
Baca Juga:
Standarisasi Industri dan Mitigasi Risiko
Terlepas dari pertumbuhan industri yang pesat, pihak industri menyadari tantangan besar. Terdapat keluhan masih banyak perusahaan robotika China yang beroperasi dengan standar tidak selaras. Kehadiran sistem identitas ini diharapkan dapat membantu menetapkan standar yang seragam serta mendukung pengembangan robot humanoid massal.
“Dalam insiden keselamatan atau potensi bahaya data, nomor ID dapat mendukung pelacakan yang cepat serta penegasan terkait siapa yang harus bertanggung jawab. Ini akan sangat membantu mencegah berbagai risiko fatal, seperti penyalahgunaan teknologi maupun kebocoran informasi,” pungkas Liu Chuanhou.
Langkah China ini menjadi preseden global yang menarik. Sementara negara lain masih berdebat soal regulasi robot otonom, China sudah bergerak maju dengan sistem identifikasi yang terintegrasi. Hal ini juga berpotensi menjadi model bagi negara lain yang ingin mengatur industri robotika mereka. Di sisi lain, beberapa pihak mengkritik bahwa sistem ini bisa menjadi alat pengawasan yang terlalu ketat terhadap teknologi yang seharusnya mendorong inovasi.

Kebijakan identitas robot humanoid ini juga menjadi sorotan di tengah perkembangan teknologi robotika global yang semakin pesat. Di luar China, berbagai inovasi robot juga terus bermunculan, seperti Robotaxi Custom tanpa setir dari Waymo yang baru saja meluncur, serta robot berkaki 20 yang disebut sebagai bentuk paling sempurna versi Duke University. Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa era robot otonom semakin dekat, dan regulasi menjadi isu krusial yang harus segera dijawab.
Dengan sistem identitas ini, China tidak hanya memantau robot humanoid, tetapi juga membangun kerangka tata kelola yang bisa menjadi acuan global. Pertanyaannya, apakah negara lain akan mengikuti langkah China atau justru mengambil pendekatan yang berbeda?





Komentar
Belum ada komentar.