📑 Daftar Isi

Internet BAKTI Lindungi Petani Sulteng dari Tipuan Tengkulak

Internet BAKTI Lindungi Petani Sulteng dari Tipuan Tengkulak

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Infrastruktur digital yang dibangun Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terbukti melindungi petani di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) dari praktik tipuan tengkulak. Sebelum adanya jaringan internet, masyarakat di daerah pegunungan kesulitan memperoleh informasi harga hasil pertanian, sehingga mereka kerap menjadi korban kebohongan para tengkulak soal harga komoditas.

“Karena dulu itu, para petani itu masih banyak dibohongi. Dibohongi para tengkulak, yang sebenarnya harga itu sudah naik, tapi para tengkulak ini sampaikan bahwa harganya turun,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong Khairuddin dalam acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Kini, setelah internet bisa diakses dengan mudah, masyarakat di daerah terpencil memperoleh informasi harga komoditas sehingga posisi tawar petani terhadap tengkulak menjadi lebih kuat. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital BAKTI tidak hanya memperluas akses internet di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga berdampak positif terhadap perekonomian setempat.

“Dengan adanya ini bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses semua informasi-informasi yang ada di khususnya di provinsi, kabupaten sampai di kecamatan,” terang Khairuddin.

Perubahan Nyata di Desa Baina Barat

Kepala Desa Baina Barat Yuslan mengatakan perubahan serupa juga dirasakan langsung oleh masyarakat desanya. Menurutnya, masyarakat kini dapat membandingkan harga dan mencari pembeli dengan harga yang lebih baik sebelum menjual hasil pertaniannya. Dengan akses internet, warga dapat menghubungi pengusaha atau calon pembeli di luar desa untuk membandingkan harga.

Petani juga kini memiliki pilihan untuk menahan hasil panen hingga harga dianggap lebih menguntungkan. “Setelah masuknya program BTS dari BAKTI, masyarakat merasa sangat senang bisa internetan. Sekarang mereka tidak bisa dibohongi lagi oleh para tengkulak,” kata Yuslan.

Dampak serupa juga dirasakan pelaku UMKM. Yuslan mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk dan menerima pesanan dari luar desa. “Mudah aksesnya untuk mereka mendapatkan misalnya seperti makanan yang dibuat kemudian dijual, kemudian mereka unggah, di foto unggahan kemudian dikirim di media sosial,” tuturnya.

Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pemerataan akses internet memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di daerah 3T. Dengan kemampuan mengakses informasi pasar secara real-time, para petani tidak lagi bergantung pada informasi sepihak dari tengkulak. Mereka dapat menentukan sendiri waktu dan harga jual yang paling menguntungkan.

Infrastruktur BAKTI juga membuka peluang baru bagi pengembangan usaha mikro di desa. Para pelaku UMKM kini dapat memasarkan produknya melalui media sosial tanpa harus keluar desa. Hal ini memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.

Program BTS BAKTI sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mewujudkan pemerataan akses telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. Kehadiran jaringan ini tidak hanya menjawab kebutuhan komunikasi, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan solusi internet dari BAKTI, pembaca dapat menyimak pemberitaan sebelumnya.

Meski demikian, tantangan masih tetap ada. BAKTI terus berupaya meningkatkan kualitas layanan internet di berbagai wilayah, termasuk menghadapi kendala teknis yang mungkin timbul. Salah satu isu yang pernah dihadapi adalah gangguan jaringan akibat migrasi teknologi yang sedang berlangsung.

Dampak positif yang dirasakan petani di Parigi Moutong menjadi bukti nyata bahwa investasi infrastruktur digital memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Ketika informasi pasar mudah diakses, posisi tawar petani meningkat, dan kesejahteraan pun ikut membaik. Program serupa juga telah berjalan di berbagai daerah lain, termasuk pemanfaatan internet gratis di sekolah-sekolah terluar.

Ke depannya, perluasan jangkauan internet di daerah 3T diharapkan terus berlanjut. Dengan semakin banyak wilayah yang terhubung, semakin banyak pula masyarakat yang dapat merasakan manfaat ekonomi dari akses informasi yang setara. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan infrastruktur digital yang inklusif dan merata di seluruh Indonesia.

Kisah sukses dari Parigi Moutong ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika akses informasi terbuka lebar, ketimpangan pengetahuan antara petani di daerah terpencil dan pembeli di kota dapat dikurangi secara signifikan.

Kehadiran internet juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap peluang ekonomi. Tidak hanya bertani dan menjual hasil panen, masyarakat kini dapat mengembangkan usaha sampingan berbasis digital. Media sosial menjadi etalase produk yang efektif tanpa memerlukan modal besar.

Pemerintah daerah pun diuntungkan dengan adanya infrastruktur ini karena memudahkan koordinasi dan penyebaran informasi kebijakan hingga ke tingkat desa. Komunikasi antara pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa menjadi lebih cepat dan efisien.

Dengan segala manfaat yang telah dirasakan, program BAKTI membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur digital adalah investasi jangka panjang yang berdampak luas. Dari petani yang terlindungi dari praktik curang hingga UMKM yang naik kelas, semua merasakan dampak positif dari konektivitas yang merata.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.