PHK Massal TikTok di Tokopedia, Teknologi Kini Dikelola China

PHK Massal TikTok di Tokopedia, Teknologi Kini Dikelola China

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – TikTok kembali melakukan PHK besar-besaran di Tokopedia, dengan dampak paling signifikan terjadi pada divisi teknologi. Kini, hampir seluruh operasi e-commerce tersebut dialihkan ke China, menyisakan hanya 35 karyawan teknologi dari sebelumnya sekitar 1.100 orang sebelum akuisisi.

Informasi ini diungkapkan oleh narasumber CNBC Indonesia, yang menyebutkan bahwa TikTok Shop-Tokopedia telah merumahkan lebih dari 450 karyawan di unit teknologi dalam gelombang PHK terbaru. Gelombang PHK ini menyisakan hanya sekitar 10 persen dari total 2.500 karyawan yang bekerja di Tokopedia saat perusahaan tersebut diakuisisi dari GoTo.

Mayoritas karyawan yang tersisa kini bekerja di unit bisnis, trust and safety, dan teknologi. Seorang narasumber mengungkapkan, “Dulu sebelum diambil ByteDance, [karyawan teknologi] 1.100 [orang]. Dalam batch terakhir, tech 500-an [terkena PHK]. Sekarang tech sisa 35 orang.”

Konsekuensi dari PHK massal ini sangat jelas. Semua teknologi yang mendukung platform Tokopedia dan TikTok Shop kini dikelola oleh karyawan ByteDance di China. Hal ini bertolak belakang dengan janji awal pasca-akuisisi. “Dulu bilangnya mau co-exist. Ingin membantu talenta Indonesia. [Kenyataannya] sekarang, semua yang pegang tech-nya Tokopedia sudah bukan di Indonesia lagi, sekarang semua di China,” kata narasumber lain.

Juru Bicara TikTok memberikan konfirmasi terkait PHK di Tokopedia. Dalam keterangan resminya, ia menyatakan bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk menyelaraskan fungsi riset dan pengembangan (R&D) pada area yang dinilai mampu mendukung pertumbuhan berkelanjutan bagi bisnis perusahaan, komunitas kreator, serta para penjual di platform.

“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar Juru Bicara TikTok, Kamis (2/7/2026).

Akuisisi Tokopedia oleh TikTok merupakan bagian dari sejarah panjang e-commerce di Indonesia. GoTo menjual 75 persen saham Tokopedia ke ByteDance, induk usaha TikTok, pada Januari 2024. Sejak saat itu, Tokopedia menjadi pengelola platform e-commerce Tokopedia dan TikTok Shop.

Langkah akuisisi ini diambil setelah pemerintah Indonesia melarang TikTok, sebagai perusahaan media sosial, mengoperasikan layanan e-commerce karena berpotensi monopoli. TikTok Shop bahkan sempat menghentikan layanannya sebelum akhirnya diakuisisi.

Dalam kesepakatan tersebut, TikTok masuk sebagai pemegang saham 75,01% di Tokopedia dengan menyerap saham baru, sementara GoTo tetap menggenggam 24,99% saham Tokopedia yang bersifat non-dilutif. GoTo tetap berhak menerima arus kas dari Tokopedia dalam bentuk imbalan jasa e-commerce yang dibayarkan setiap kuartal.

Nilai imbalan jasa e-commerce yang diperoleh GoTo mencapai Rp820 miliar pada tahun 2025, meningkat 32% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp622 miliar.

Meski demikian, posisi Tokopedia di pasar e-commerce Asia Tenggara justru menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Laporan terbaru Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works menempatkan Tokopedia di urutan paling bawah di antara pemain utama pada 2025.

Pasar e-commerce kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan mencapai nilai US$157,6 miliar pada 2025, tumbuh 22,8% secara tahunan. Berdasarkan data GMV 2025, Tokopedia mencatat angka paling kecil, hanya sekitar US$9 miliar, menjadikannya posisi terbawah dalam persaingan platform besar di Asia Tenggara.

Sebagai perbandingan, Shopee masih memimpin dengan US$83,2 miliar, diikuti TikTok Shop sebesar US$45,6 miliar, dan Lazada sekitar US$18 miliar. Menariknya, TikTok Shop justru menjadi bintang baru dengan mencatat lonjakan GMV lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2024.

Jika digabungkan dengan Tokopedia yang kini di bawah kendalinya, GMV e-commerce TikTok secara keseluruhan di Asia Tenggara mencapai 65,7% dari Shopee. Hal ini menunjukkan dominasi yang semakin kuat dari ekosistem ByteDance di kawasan tersebut.

PHK massal ini juga memunculkan kekhawatiran tentang masa depan pengembangan teknologi di Indonesia. Dengan pengelolaan teknologi yang sepenuhnya berada di China, dampaknya terhadap inovasi lokal dan penyerapan tenaga kerja di sektor teknologi menjadi pertanyaan besar.

Keputusan TikTok untuk memindahkan pengelolaan teknologi ke China juga dinilai sebagai langkah strategis untuk efisiensi biaya dan integrasi sistem yang lebih ketat dengan platform global ByteDance. Namun, langkah ini jelas bertolak belakang dengan harapan awal untuk memberdayakan talenta teknologi Indonesia.

Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan tren yang lebih luas dalam industri teknologi global, di mana perusahaan multinasional cenderung memusatkan operasi teknologi mereka di negara asal untuk alasan kontrol dan efisiensi. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi ekosistem startup dan teknologi di Indonesia.

Bagi para pengguna dan penjual di platform Tokopedia dan TikTok Shop, perubahan ini mungkin tidak akan terasa secara langsung dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, pengelolaan teknologi yang terpusat di China dapat mempengaruhi responsivitas terhadap kebutuhan lokal dan regulasi di Indonesia.

Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi regulator di Indonesia. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian telah menyatakan kekhawatirannya agar e-commerce di Indonesia tidak dikuasai oleh China. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut kini menjadi kenyataan.

Dengan hanya tersisa 35 karyawan teknologi di Indonesia, masa depan inovasi dan pengembangan produk lokal di Tokopedia menjadi tanda tanya besar. Apakah platform ini akan tetap mampu bersaing dengan pemain lain seperti Shopee yang masih mempertahankan operasi teknologi di dalam negeri?

Keputusan TikTok ini juga berpotensi mempengaruhi persepsi publik terhadap komitmen perusahaan terhadap pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Janji awal untuk co-exist dan membantu talenta Indonesia kini tampak jauh dari kenyataan.

Bagi para pengamat industri, langkah ini bisa diartikan sebagai strategi ByteDance untuk mengkonsolidasikan seluruh operasi teknologi di bawah satu payung, sehingga memudahkan koordinasi dan pengembangan fitur secara global. Namun, konsekuensinya terhadap pasar lokal tidak bisa diabaikan.

Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana respons pemerintah Indonesia terhadap perkembangan ini, terutama terkait regulasi kepemilikan data dan perlindungan konsumen yang mungkin terpengaruh oleh perpindahan pengelolaan teknologi ke luar negeri.

Sementara itu, bagi para mantan karyawan teknologi Tokopedia yang terkena PHK, tantangan baru menanti di tengah persaingan pasar tenaga kerja teknologi yang semakin ketat. Namun, dengan pengalaman yang mereka miliki, peluang untuk berkontribusi di perusahaan teknologi lain di Indonesia masih terbuka lebar.

Dalam konteks yang lebih luas, PHK massal ini juga menjadi pengingat akan dinamika industri teknologi yang sangat cepat berubah. Perusahaan yang diakuisisi seringkali mengalami restrukturisasi besar-besaran yang tidak selalu menguntungkan bagi tenaga kerja lokal.

Bagi konsumen, kebijakan baru dari TikTok terkait penghapusan konten yang melanggar aturan mungkin akan lebih ketat di masa mendatang, seiring dengan pengelolaan teknologi yang lebih terpusat. Hal ini bisa berdampak pada pengalaman berbelanja dan berjualan di platform.

Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, keputusan TikTok untuk memindahkan pengelolaan teknologi ke China adalah langkah yang telah diambil dan akan terus berjalan. Dampaknya terhadap ekosistem e-commerce di Indonesia akan terus dipantau oleh berbagai pihak, mulai dari regulator, pelaku industri, hingga konsumen.

Dengan GMV Tokopedia yang hanya sekitar US$9 miliar, jauh di bawah Shopee dan TikTok Shop, pertanyaan tentang masa depan platform ini di bawah kendali penuh ByteDance masih belum terjawab. Apakah Tokopedia akan mampu bangkit kembali atau justru semakin tergerus oleh persaingan?

Satu hal yang pasti, lanskap e-commerce di Indonesia dan Asia Tenggara telah berubah secara fundamental. Dominasi pemain asing, khususnya dari China, semakin terasa, dan hal ini membawa implikasi yang luas bagi industri teknologi lokal.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.