Telset.id – Penggunaan teknologi extended reality (XR) dalam produksi film “Pelangi di Mars” menjadi langkah signifikan dalam menghadirkan inovasi teknologi di industri sinema Indonesia. Sutradara sekaligus kreator film tersebut, Upie Guava, menegaskan bahwa perkembangan teknologi visual saat ini memungkinkan para sineas untuk menembus batasan fisik yang selama ini menjadi kendala dalam produksi film konvensional.
“Batasan fisik dalam produksi film konvensional kini bisa ditembus dengan inovasi ekosistem manufaktur High Advance Technology,” ujar Upie dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (30/8/2026). Pernyataan ini muncul setelah digelarnya Forum Group Discussion (FGD) kolaboratif bertajuk “Beyond Research to Impact – Pelangi di Mars the Movie: Transhuman Creative Technologist” di Studio DossguavaXR di PFN, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Pemanfaatan teknologi XR dalam film ini tidak hanya sekadar alat produksi, tetapi juga bagian dari upaya menuju kedaulatan teknologi Indonesia. Upie bahkan menyebut film “Pelangi di Mars” sebagai intellectual property (IP) atau kekayaan intelektual yang merupakan aset masa depan bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa produksi film lokal kini tidak lagi sekadar mengikuti tren global, melainkan turut membangun fondasi industri kreatif berbasis teknologi dalam negeri.
Transformasi Komunikasi dan Literasi Teknologi
Kandidat doktor Program Doktoral Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid, Pritha Ayodya Basuki, menambahkan bahwa transformasi komunikasi teknologi di era digital memerlukan edukasi literasi teknologi terhadap generasi muda. Melalui studi kasus film “Pelangi di Mars”, Pritha mengkaji bagaimana inovasi teknologi baru membentuk transformasi manusia menjadi pakar teknologi kreatif dalam kajian komunikasi.
Penting untuk dicatat bahwa film ini bukan merupakan film kecerdasan buatan (AI). Pritha menegaskan bahwa “Pelangi di Mars” dibuat selama lima tahun dengan melibatkan ratusan animator muda Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa teknologi canggih tetap membutuhkan sentuhan kreativitas manusia yang autentik dalam proses produksinya.
Penggunaan teknologi XR memberikan fleksibilitas tinggi dalam proses produksi. Para sineas dapat menghadirkan berbagai latar visual secara efisien tanpa ketergantungan pada lokasi fisik dan biaya yang tinggi. Ini menjadi solusi praktis bagi industri perfilman nasional yang kerap terkendala anggaran produksi besar untuk kebutuhan lokasi dan efek visual.
Kisah dan Kru di Balik Film “Pelangi di Mars”
Film “Pelangi di Mars” mengisahkan kondisi pada tahun 2100, ketika krisis air mengancam masa depan Bumi. Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, memulai sebuah petualangan bersama robot-robot malafungsi untuk menemukan Zeolit Omega, mineral langka yang dipercaya dapat menyelamatkan masa depan Bumi. Namun dalam perjalanannya, Nerotek, korporasi raksasa yang menguasai sumber air, melakukan segala cara untuk merebut penemuan tersebut.
Film yang tayang pada Maret lalu ini dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata. Dukungan pengisi suara juga datang dari Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, serta Dimitri Arditya. Kehadiran deretan aktor dan aktris ternama ini semakin memperkuat daya tarik film yang mengusung teknologi produksi mutakhir tersebut.
Adopsi teknologi XR dalam industri kreatif Indonesia sejalan dengan perkembangan perangkat pendukung di pasar global. Sebagai gambaran, pasar perangkat wearable seperti kacamata pintar terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan konsumen akan pengalaman visual imersif. Sementara itu, industri chipset juga mengalami lompatan besar dengan hadirnya prosesor generasi terbaru yang mendukung komputasi berat untuk kebutuhan rendering grafis, seperti yang terlihat pada chipset Xring O3 dari Xiaomi.
Meski demikian, fokus utama dari pengembangan teknologi XR di “Pelangi di Mars” adalah pada aspek kreativitas dan kedaulatan teknologi. Upie Guava dan timnya membuktikan bahwa sineas Indonesia mampu mengadopsi teknologi tingkat tinggi untuk menghasilkan karya yang kompetitif di kancah internasional. Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak rumah produksi lokal untuk berani bereksperimen dengan teknologi baru.
Dampak dari penggunaan teknologi XR ini tidak berhenti pada satu film saja. Ekosistem manufaktur High Advance Technology yang disebutkan Upie berpotensi menjadi fondasi bagi pengembangan industri kreatif digital Indonesia secara lebih luas. Dengan semakin banyaknya sineas yang menguasai teknologi ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada produksi film asing dan membangun industri perfilman yang mandiri.
Ke depan, kolaborasi antara akademisi, praktisi industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk memastikan bahwa transformasi teknologi ini berjalan berkelanjutan. Kajian yang dilakukan Pritha Ayodya Basuki dari Universitas Sahid menjadi salah satu contoh bagaimana dunia akademis turut berkontribusi dalam memetakan dampak teknologi terhadap industri kreatif nasional.
Film “Pelangi di Mars” dengan teknologi XR-nya bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan juga representasi dari ambisi Indonesia untuk menguasai teknologi produksi film modern. Dengan dukungan ratusan animator muda dan waktu produksi lima tahun, film ini menjadi bukti nyata bahwa industri kreatif Indonesia siap bersaing di panggung global.





Komentar
Belum ada komentar.