📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center dengan latar jaringan listrik dan gardu induk

Jaringan Listrik AS Batasi Pasokan Data Center Mulai 2027

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • PJM Interconnection akan memutus pasokan listrik ke data center 50 MW+ saat kekurangan daya mulai Juni 2027
  • Data center diperkirakan konsumsi listrik 4x lipat pada 2035 dibanding saat ini
  • Kebijakan berlaku seperti program demand response dengan kompensasi dan pemberitahuan
  • Data center didorong bangun pembangkit mandiri atau andalkan generator diesel
  • Vantage Data Centers dikritik karena koordinasi dengan regulator soal dampak kesehatan generator diesel
  • Harga listrik grosir PJM hampir dua kali lipat, data center jadi penyebab utama

Telset.id – Jaringan listrik terbesar di Amerika Serikat, PJM Interconnection, akan memutus pasokan listrik ke data center dan pengguna besar lainnya saat terjadi kekurangan daya. Langkah ini diambil setelah lelang penambahan kapasitas pembangkit gagal memenuhi target, sementara lonjakan pembangunan data center terus membebani sistem kelistrikan.

Keputusan PJM ini menjadi respons atas kesulitan jaringan dalam mengelola gelombang besar data center yang membutuhkan daya listrik dalam jumlah masif. Menurut proyeksi, pada tahun 2035, data center diperkirakan akan mengonsumsi listrik empat kali lipat lebih banyak dibandingkan saat ini. Kondisi ini memaksa operator jaringan untuk mencari cara agar pasokan tetap stabil.

PJM Interconnection sendiri merupakan operator jaringan yang melayani wilayah dari Virginia hingga Illinois, mencakup 67 juta pelanggan. Wilayah ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan data center tercepat di AS, terutama di kawasan Northern Virginia yang dikenal sebagai “Data Center Alley.”

Kebijakan Pemadaman Terjadwal untuk Data Center Besar

PJM tidak akan memberlakukan pemotongan pasokan secara langsung. Kebijakan ini baru akan mulai diterapkan pada Juni 2027. Pemotongan pasokan hanya akan berlaku untuk data center dengan kapasitas 50 megawatt atau lebih besar. Artinya, data center kecil dan menengah kemungkinan tidak akan terdampak langsung oleh kebijakan ini.

Skema pemotongan pasokan ini mirip dengan program demand response yang sudah berjalan selama beberapa dekade. Dalam program serupa, pelanggan besar seperti pabrik manufaktur biasanya mendapat kompensasi jika bersedia mengurangi konsumsi listrik saat permintaan puncak. Pelanggan yang terkena pemotongan pasokan juga akan mendapat pemberitahuan terlebih dahulu, mulai dari 30 menit hingga beberapa hari sebelumnya, tergantung pada perkiraan permintaan.

PJM saat ini juga tengah menjalankan lelang lain untuk menambah kapasitas pembangkit listrik baru. Namun, hasil lelang sebelumnya yang kurang memuaskan menjadi pemicu utama diterapkannya kebijakan ini. Data center AI yang membutuhkan daya komputasi tinggi menjadi salah satu sektor yang paling terpengaruh.

Dampak pada Operasional Data Center

Kebijakan ini kemungkinan akan mendorong banyak data center baru—dan berpotensi juga data center yang sudah ada—untuk membangun sumber daya listrik mandiri di lokasi mereka. Data center yang tidak memiliki pembangkit sendiri kemungkinan akan mengandalkan generator cadangan. Namun, pengoperasian generator cenderung lebih mahal dan seringkali lebih polutif.

Banyak data center saat ini lebih memilih generator diesel karena bahan bakarnya mudah didapat dan dapat disimpan di lokasi. Peraturan federal AS mengizinkan generator semacam itu digunakan hingga 50 jam per tahun untuk program demand response, dan hingga 100 jam per tahun untuk keadaan darurat dan pemeliharaan.

Namun, penggunaan generator diesel juga memicu kontroversi. Baru-baru ini, Vantage Data Centers mendapat sorotan tajam karena koordinasinya dengan regulator lingkungan Virginia. Perusahaan tersebut diduga berupaya meragukan laporan yang menyatakan bahwa generator diesel cadangan dapat menyebabkan kerusakan kesehatan senilai puluhan juta dolar per tahun bagi warga yang tinggal di dekat data center berkapasitas 96 megawatt di Northern Virginia.

Tekanan pada PJM dan Dampak pada Harga Listrik

PJM Interconnection telah mendapat kritik dalam beberapa bulan terakhir terkait cara mereka mengelola kapasitas pembangkit baru dan pengguna besar baru, termasuk data center. Selama setahun terakhir, harga listrik grosir di wilayah PJM hampir dua kali lipat. Pengawas pasar independen PJM menyalahkan data center sebagai penyebab utama kenaikan tersebut.

Lonjakan harga ini menjadi beban tambahan bagi konsumen rumah tangga dan bisnis kecil yang harus membayar tarif listrik lebih tinggi. Sementara itu, data center yang merupakan konsumen listrik dalam jumlah besar justru mendapat sorotan karena kontribusinya terhadap peningkatan permintaan.

Kebijakan pemotongan pasokan ini dipandang sebagai langkah drastis namun diperlukan untuk menjaga stabilitas jaringan. Dengan pertumbuhan data center yang terus melonjak, operator jaringan listrik di AS dipaksa untuk beradaptasi dengan realitas baru di mana permintaan listrik meningkat jauh lebih cepat dari kemampuan penyediaan.

Keputusan PJM ini menjadi sinyal kuat bagi industri data center global. Ke depan, keberlanjutan operasional data center tidak hanya bergantung pada ketersediaan konektivitas dan komputasi, tetapi juga pada ketersediaan listrik yang stabil dan terjangkau.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.