Telset.id – Industri pusat data global saat ini menghadapi tantangan besar terkait konsumsi air yang sangat tinggi, terutama untuk kebutuhan pendinginan. Data terbaru menunjukkan bahwa sektor ini telah mengonsumsi 560 miliar liter air per tahun, dan angka ini diproyeksikan melonjak hingga 1,2 triliun liter per tahun pada 2030.
Konsumsi air yang masif ini menjadi perhatian serius, terutama karena teknologi AI generatif yang semakin populer membutuhkan daya komputasi tinggi dan menghasilkan panas berlebih. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, dampak terhadap sumber daya air bersih di berbagai wilayah akan semakin parah.
Kate Steele, Director for EMEA HPC/AI di Lenovo, menjelaskan bahwa sangat mungkin bagi pusat data untuk mengurangi beban pada sumber air tawar lokal, sembari juga menekan penggunaan energi, tanpa mengurangi performa. Berikut adalah lima isu utama yang mendorong konsumsi air di pusat data saat ini, serta langkah-langkah yang dapat diambil operator untuk mengatasinya.
**1. Sistem Pendingin Evaporatif Open-Loop**
Banyak pusat data masih mengandalkan sistem pendingin evaporatif ‘open-loop’, di mana air panas disemprotkan ke bantalan untuk didinginkan. Arsitektur pendinginan lama ini menyebabkan pusat data mengonsumsi air dalam jumlah besar yang harus terus diisi ulang saat menguap.
Sebagai solusinya, sistem pendingin cair tertutup (closed-loop) yang lebih modern menawarkan cara untuk mengurangi sumber kehilangan air ini. Sistem ini memastikan air digunakan kembali secara efisien tanpa memengaruhi performa.
Sistem closed-loop saat ini menggunakan kembali air yang sama berulang kali, memanfaatkan penukar panas cair-ke-udara untuk pendinginan, bukan menguapkan air. Sistem pendingin air hangat ini tersegel sehingga setelah diisi pertama kali, kehilangan air menjadi sangat rendah dalam kondisi operasi normal.
Air tidak pernah dibuang dari sistem dan tidak pernah menguap. Sebaliknya, air menyerap panas langsung dari komponen berperforma tinggi dan memindahkannya keluar dari sistem. Teknologi ini akan menjadi vital untuk mengurangi kebutuhan air pusat data di seluruh dunia.
**2. Pendinginan Ruang yang Tidak Efisien**
Di terlalu banyak pusat data, pendinginan sangat tidak efisien. Hingga sepertiga dari total energi pusat data bisa “terbuang” untuk menjaga komponen tetap dingin, dengan kipas yang bekerja keras menurunkan suhu ruangan sekaligus mendinginkan mesin individual.
Teknologi modern seperti pendinginan direct-to-node dan direct-to-chip menawarkan cara baru untuk mengekang penggunaan energi dan air yang tidak efisien ini. Dalam pendinginan direct-to-chip, pelat dingin dipasang pada komponen penghasil panas seperti GPU, dengan cairan pendingin mengalir melalui pelat untuk menyerap panas.
Teknik pendinginan cair seperti direct-to-node dapat menghilangkan hingga 98% panas dari server, beroperasi pada sistem loop tertutup yang berarti air tidak terbuang. Dengan menangkap panas langsung di sumbernya, operator pusat data dapat mengurangi permintaan energi dan mengurangi tekanan pada sistem air setempat.
**3. AI Generatif Mendorong Kepadatan Komputasi**
Salah satu alasan utama meningkatnya penggunaan air di pusat data adalah karena booming AI mendorong permintaan pendinginan yang lebih besar. AI generatif didukung oleh Graphics Processing Units (GPU), yang dapat mengonsumsi energi lima hingga 10 kali lebih banyak daripada Central Processing Units (CPU).
Selain itu, terjadi peningkatan kepadatan komputasi karena semakin banyak komponen ini dikemas ke area yang lebih kecil menggunakan teknik seperti 3D silicon stacking. Tuntutan beban kerja AI membuat pendinginan loop tertutup air hangat menjadi solusi rendah energi yang ideal.
Bahkan pada kepadatan rak yang tinggi, sistem air hangat memungkinkan performa tinggi sambil mengekang penggunaan air. Sebagai contoh, DreamWorks Animation mengadopsi sistem pendingin air hangat untuk komputasi berperforma tinggi (HPC) dan mencatat peningkatan performa 20% bersamaan dengan pengurangan kebutuhan pendinginan.
**4. Proyek Penggunaan Kembali Panas Masih Jarang**
Di pusat data, hampir semua listrik yang digunakan pada akhirnya diubah menjadi panas. Saat ini, sumber daya tersebut kurang dimanfaatkan. Secara tradisional, panas diperlakukan sebagai produk sampingan yang tidak diinginkan untuk dibuang.
Namun, panas ini dapat diubah menjadi sumber daya yang berguna untuk menghangatkan komunitas perumahan, gedung komersial, dan bahkan pemanas distrik. Penggunaan kembali ini masih jarang dilakukan, tetapi proyek perintis di Eropa sudah menunjukkan potensinya.
Proyek di Irlandia dan Skandinavia telah menggunakan kembali panas untuk menghangatkan rumah dan bisnis. Beralih ke sistem loop tertutup di mana air digunakan kembali dan panas dipanen untuk masyarakat luas adalah contoh utama bagaimana limbah dapat diubah menjadi kekayaan.
**5. Lokasi Pusat Data yang Kurang Tepat**
Saat ini, terlalu sedikit pertimbangan yang diberikan pada lokasi pusat data. Akibatnya, fasilitas bisa ditempatkan di area yang sudah mengalami tekanan pada pasokan air tawar lokal.
Ke depannya, organisasi akan mempertimbangkan faktor ini untuk menghadirkan pusat data yang lebih berkelanjutan. Penelitian menemukan bahwa 45% profesional TI percaya desain pusat data saat ini tidak mendukung tujuan keberlanjutan.
Di masa depan, pusat data akan ditempatkan di lokasi yang dipilih secara cermat untuk mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan dan memastikan kebutuhan air tidak bertentangan dengan lingkungan setempat. Ini termasuk pusat data yang dibangun di area perkotaan dengan tujuan menggunakan kembali panas limbah untuk menghangatkan rumah-rumah lokal.
Langkah-langkah mitigasi ini menunjukkan bahwa masa depan pusat data tidak harus mengorbankan lingkungan. Dengan mengadopsi teknologi pendinginan yang lebih efisien dan mempertimbangkan lokasi secara strategis, industri ini dapat terus bertumbuh tanpa membebani sumber daya air secara berlebihan.





Komentar
Belum ada komentar.