Telset.id – Larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun di Australia baru menunjukkan dampak terbatas pada tiga bulan pertama penerapannya. Laporan resmi pertama dari eSafety Commissioner mengungkapkan bahwa meskipun terjadi penurunan kepemilikan akun, sebagian besar anak masih mengakses platform media sosial tanpa memiliki akun.
Laporan yang dirilis pada Juli 2026 ini merupakan bagian dari studi dua tahun yang melibatkan lebih dari 4.100 anak dan keluarga di Australia. Data awal yang dikumpulkan pada Maret 2026, tiga bulan setelah aturan diberlakukan, menunjukkan bahwa persentase anak di bawah 16 tahun yang memiliki akun di platform yang dibatasi turun dari 52,4 persen menjadi 42,1 persen.
Penurunan tersebut terjadi di sebagian besar layanan, namun ada beberapa pengecualian. Proporsi anak di bawah 16 tahun dengan akun Reddit tetap stabil di angka 3,6 persen, sementara angka pengguna Threads naik dari 1,5 persen menjadi 2 persen, dan Kick meningkat dari 0,2 persen menjadi 0,6 persen.
Yang lebih menarik, sekitar sepertiga anak melaporkan bahwa akun mereka ditutup atau dinonaktifkan karena larangan tersebut. Namun, banyak anak Australia yang masih menggunakan platform media sosial meskipun tidak memiliki akun.
Persentase anak yang mengakses layanan media sosial yang dibatasi usia pada bulan ketiga penerapan larangan mencapai 81,5 persen, hanya turun 4,4 persen dari sebelum aturan tersebut berlaku. Layanan yang saat ini dibatasi meliputi Facebook, Instagram, Kick, Reddit, Snapchat, Threads, TikTok, Twitch, X, dan YouTube.
Banyak platform tersebut tidak memerlukan akun untuk melihat konten, dan menonton video YouTube atau streaming Twitch dihitung sebagai penggunaan platform media sosial. Pada Maret 2026, 73,6 persen anak usia 10 hingga 15 tahun melaporkan mengakses YouTube dalam empat minggu sebelumnya, dan setidaknya seperempat menggunakan TikTok, Snapchat, dan/atau Instagram.
Baca Juga:
## Peningkatan Penggunaan Platform yang Tidak Dibatasi
Menariknya, laporan tersebut mencatat peningkatan penggunaan beberapa platform yang saat ini tidak tercakup dalam undang-undang. Proporsi anak yang menggunakan Pinterest tumbuh dari 16,6 persen menjadi 21,8 persen, sementara angka untuk BeReal meningkat dari 0,2 persen menjadi 2,2 persen. Mastodon juga mencatat penggunaan dari nol menjadi 0,7 persen.
Laporan tersebut juga mengklaim terjadi “penurunan signifikan secara statistik dalam perasaan anak-anak bahwa mereka kehilangan momen karena tidak memiliki media sosial.” Proporsi tersebut turun dari 43,3 persen menjadi 36,3 persen.
Sebagian kecil anak (di bawah sembilan persen, menurut metodologi) melaporkan merasa kurang terhubung dengan teman sebaya, kesulitan berkomunikasi, atau merindukan media sosial. Di sisi lain, laporan tersebut mengklaim bahwa anak-anak lain merasa larangan ini memberikan manfaat dalam beberapa hal, seperti merasa lebih aman daring dan memiliki hubungan yang lebih baik.
## Tantangan Verifikasi Usia dan Kesadaran Orang Tua
Laporan tersebut juga mengungkapkan penurunan kesadaran orang tua tentang bagaimana anak-anak menggunakan media sosial. Hal ini paling umum terjadi pada anak perempuan dan anak usia 10 hingga 12 tahun.

Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, menulis dalam blog post-nya, “Seperti yang telah saya sampaikan secara konsisten sejak awal, reformasi kompleks semacam ini sedang mengurai keterikatan media sosial selama 20 tahun dan karena itu akan memakan waktu. Dampak undang-undang ini tidak akan diukur dalam hitungan minggu atau bulan, tetapi dalam hitungan generasi.”
Meskipun data menunjukkan larangan tersebut “mulai memberikan efek,” Grant menambahkan bahwa statistik tersebut “sangat menunjukkan bahwa penyedia platform tidak secara efektif mencegah anak di bawah 16 tahun memiliki akun di platform mereka dalam tiga bulan pertama.”
Setengah dari anak-anak dalam studi tersebut mengatakan bahwa platform yang dibatasi usia yang mereka gunakan belum meminta mereka untuk memverifikasi usia. Lebih dari 37 persen mengatakan usia yang tercantum di akun mereka di atas 16 tahun, 18,2 persen mengatakan platform salah mencatat usia mereka, dan sekitar 11 persen mengatakan orang tua mereka membantu mereka mengatasi batasan usia.
Selain itu, 7,4 persen menggunakan VPN untuk menghindari pembatasan. Larangan tersebut juga mendorong lebih banyak anak untuk menggunakan layanan pesan (52,3 persen, naik dari 40,5 persen) dan bermain video game (29 persen, naik dari 26,4 persen) dalam tiga bulan pertama penerapan larangan.
Laporan tersebut juga menunjukkan “tidak ada perubahan signifikan secara statistik dalam frekuensi anak-anak melaporkan penggunaan chatbot, asisten, atau pendamping AI.” Australia baru-baru ini mengumumkan sanksi yang lebih besar untuk platform yang melanggar undang-undang tersebut.
Temuan awal ini sejalan dengan studi lain yang menunjukkan bahwa remaja menemukan cara untuk mengatasi pembatasan, terutama karena beberapa platform hanya memerlukan deklarasi mandiri tentang usia pengguna. Data ini menjadi bahan evaluasi penting bagi negara lain yang berencana menerapkan larangan serupa.





Komentar
Belum ada komentar.