📑 Daftar Isi

Interior Mercedes C-Class 2026 dengan layar sentuh besar di dasbor

Layar Raksasa Mobil Bikin Jengkel Pemilik, Ini Hasil Surveinya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Survei JD Power terhadap 68.000 pemilik kendaraan model 2026 mengungkap layar besar tidak diminati konsumen
  • Lebih dari sepertiga responden tidak pernah menggunakan layar penumpang, hanya 6 persen yang memakainya setiap berkendara
  • Layar lebih besar lebih rentan terhadap masalah sistem infotainment menurut investigasi JD Power
  • Fitur paling populer adalah smart ignition dan smart HVAC yang bekerja tanpa menuntut perhatian pengemudi
  • Layar sentuh konsol penumpang menempati posisi terendah dan terkait masalah keselamatan berkendara
  • Pemilik kendaraan lebih menyukai sistem bantuan Level 2 dibandingkan Level 2 Plus seperti Full Self-Driving Tesla
  • Sebagian produsen mulai kembali menggunakan kontrol taktil dan tombol fisik setelah keluhan konsumen

Telset.id – Hasil survei JD Power terhadap 68.000 pemilik kendaraan model tahun 2026 menunjukkan bahwa layar besar di dasbor justru tidak diinginkan konsumen. Lebih dari sepertiga responden mengaku tidak pernah menggunakan layar penumpang, sementara hanya enam persen yang memakainya setiap kali berkendara. Temuan ini menegaskan bahwa fitur teknologi yang paling dihargai pengemudi adalah yang sederhana dan tidak menuntut perhatian, bukan gimmick layar raksasa.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan riset konsumen JD Power ini mengungkap fakta mengejutkan tentang preferensi pemilik mobil modern. Produsen otomotif global berlomba memasang layar semakin besar, bahkan hingga menjangkau area penumpang. Namun, survei ini justru membuktikan bahwa mayoritas konsumen tidak tertarik dengan teknologi tersebut dan menganggapnya sebagai masalah, bukan kemewahan.

Fitur yang Paling Diminati Justru Paling Sederhana

Dalam investigasinya, JD Power menemukan bahwa layar yang lebih besar justru lebih rentan terhadap masalah pada sistem infotainment. Survei terhadap 40 teknologi mobil menunjukkan bahwa fitur paling populer adalah teknologi yang paling mudah diabaikan, seperti smart ignition dan smart HVAC. Sebaliknya, posisi terendah dalam daftar ditempati oleh layar sentuh konsol penumpang yang sebelumnya dikaitkan dengan masalah keselamatan berkendara yang serius.

“Teknologi yang paling dihargai pelanggan sering kali adalah teknologi yang hampir tidak mereka sadari karena berfungsi dengan baik,” ujar Direktur Customer Success JD Power, Doron Hikry, dalam rilis persnya. “Smart ignition dan smart climate control membuat berkendara sehari-hari lebih mudah tanpa menuntut perhatian pengemudi, sementara lebih banyak otomatisasi dan layar tambahan tidak serta-merta menghasilkan pengalaman yang lebih baik.”

Pernyataan Hikry ini menegaskan adanya kesenjangan antara apa yang dipasarkan produsen dan apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen di jalan raya. Fitur yang bekerja di balik layar tanpa intervensi pengemudi terbukti jauh lebih bernilai dibandingkan teknologi yang justru menambah beban kognitif saat mengemudi.

Baca Juga:

Ketidakpuasan konsumen tidak hanya berhenti pada layar besar. Survei JD Power juga mengungkap bahwa pemilik kendaraan tidak terkesan dengan sistem bantuan pengemudi Level 2 Plus yang memungkinkan mereka berkendara tanpa memegang kemudi di jalan tertentu. Sistem ini mencakup fitur seperti Full Self-Driving milik Tesla yang kerap menjadi sorotan. JD Power menemukan bahwa pemilik kendaraan justru lebih menyukai sistem Level 2 dalam hal desain dan kualitas pengalaman.

“Hasil survei menunjukkan bahwa pemilik mungkin saat ini lebih nyaman dengan sistem yang jelas membantu pengemudi daripada sistem yang menghadirkan tingkat otomatisasi lebih besar,” tambah Hikry. Temuan ini memperkuat argumen bahwa konsumen belum sepenuhnya percaya pada teknologi otonom tingkat lanjut dan lebih memilih kendali penuh saat berkendara.

Kondisi ini sejalan dengan tren yang sudah lama terlihat di industri otomotif. Konsumen semakin frustrasi karena setiap fitur terkubur dalam antarmuka layar sentuh yang rumit dan membingungkan. Respons negatif ini mendorong sebagian produsen untuk kembali menggunakan kontrol taktil yang lebih mudah digunakan dan mengurangi distraksi di kabin mobil.

Beberapa pabrikan mulai menyadari frustrasi massal ini dan memilih kembali ke tombol fisik serta kenop untuk interior mobil mereka. Langkah ini merupakan pengakuan bahwa teknologi tinggi tidak selalu menjadi solusi terbaik, terutama ketika menyangkut keselamatan dan kenyamanan pengemudi di jalan.

Interior Mercedes C-Class 2026 dengan layar besar di dasbor

Survei JD Power ini menjadi peringatan bagi industri otomotif bahwa inovasi harus selaras dengan kebutuhan nyata pengguna. Produsen yang terus memaksakan layar raksasa dan otomatisasi berlebihan berisiko kehilangan minat konsumen yang justru menginginkan pengalaman berkendara yang aman dan tidak rumit. Temuan ini juga relevan bagi calon pembeli mobil baru yang mempertimbangkan apakah fitur layar besar sepadan dengan harga premium yang harus dibayarkan.

Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan pembelian kendaraan baru, hasil survei ini memberikan panduan berharga tentang fitur apa yang sebenarnya layak diperhatikan. Teknologi yang bekerja secara diam-diam untuk mempermudah perjalanan harian terbukti jauh lebih dihargai dibandingkan layar yang membutuhkan perhatian konstan dari pengemudi dan berpotensi menimbulkan gangguan keselamatan.

Fenomena penolakan terhadap layar besar ini juga menjadi pelajaran bagi industri teknologi secara lebih luas. Prinsip bahwa kompleksitas tidak selalu berarti kemajuan terbukti relevan, baik dalam pengembangan antarmuka pengguna maupun desain produk secara keseluruhan. Konsumen modern menginginkan teknologi yang intuitif, andal, dan tidak menambah beban kognitif dalam aktivitas sehari-hari.

JD Power menegaskan bahwa masa depan desain interior mobil mungkin tidak berada pada ukuran layar yang semakin besar, melainkan pada integrasi teknologi yang mulus dan tidak mencolok. Produsen yang mampu menyeimbangkan inovasi dengan kepraktisan akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar yang semakin kritis terhadap klaim pemasaran yang berlebihan.

Hasil survei ini juga menyoroti pentingnya riset konsumen dalam pengembangan produk otomotif. Keputusan desain yang didasarkan pada asumsi produsen tanpa mempertimbangkan kebutuhan aktual pengguna berisiko menghasilkan produk yang tidak sesuai harapan pasar. JD Power melalui survei ekstensifnya memberikan data konkret yang dapat menjadi acuan bagi produsen dalam merancang generasi kendaraan berikutnya.

Kesimpulannya, pemilik kendaraan model 2026 secara tegas menolak layar raksasa dan otomatisasi berlebihan yang tidak memberikan nilai tambah nyata. Preferensi konsumen jelas tertuju pada teknologi yang bekerja secara efisien tanpa menuntut perhatian, seperti smart ignition dan smart HVAC. Produsen otomotif perlu mendengarkan sinyal pasar ini jika ingin mempertahankan relevansi di tengah persaingan yang semakin ketat dalam menghadirkan inovasi yang benar-benar bermanfaat bagi pengguna jalan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.