📑 Daftar Isi

Ilustrasi putusan pengadilan New Mexico yang memerintahkan Meta membayar denda $25 miliar dalam kasus privasi data dan skandal Cambridge Analytica

Meta Didenda Rp25 Miliar di New Mexico karena Skandal Cambridge Analytica

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Hakim New Mexico Francis Mathew memerintahkan Meta membayar denda $25 miliar pada 21 Oktober 2026
  • Juri menemukan 43.899.725 pelanggaran Unfair Practices Act, potensi denda maksimal capai $219 miliar
  • Meta menilai putusan sebagai "tax on speech" dan berencana mengajukan banding
  • Dana denda dialokasikan untuk sistem pendidikan New Mexico dengan bunga 15 persen per tahun
  • Pengguna Facebook tidak menerima kompensasi langsung dari putusan ini

Telset.id – Meta resmi diperintahkan membayar denda sebesar $25 miliar atau sekitar Rp25 miliar setelah hakim di New Mexico memutuskan bahwa perusahaan itu menyesatkan pengguna Facebook soal perlindungan data pribadi dan penanganan konten di platformnya. Putusan ini menjadi salah satu hukuman finansial terbesar yang pernah dijatuhkan kepada sebuah korporasi dalam sejarah Amerika Serikat, dan menandai babak baru dari skandal Cambridge Analytica yang sebenarnya sudah berusia hampir satu dekade.

Putusan dibacakan pada Rabu, 21 Oktober 2026, oleh Hakim Distrik Francis Mathew. Perkara ini bermula dari gugatan yang diajukan Jaksa Agung New Mexico, Raúl Torrez, pada 2021. Gugatan tersebut tidak secara langsung menyoal data yang dipanen Cambridge Analytica, melainkan menargetkan pernyataan-pernyataan Facebook selama bertahun-tahun mengenai data pengguna, pengaturan privasi, serta moderasi konten. Pada September lalu, juri di Santa Fe menyatakan Meta melanggar New Mexico’s Unfair Practices Act karena menyesatkan warga negara bagian tersebut.

Jumlah pelanggaran yang dihitung juri mencapai 43.899.725 pelanggaran. Dengan ancaman denda hingga $5.000 per pelanggaran, potensi hukuman maksimal sebenarnya mencapai sekitar $219 miliar. Jaksa Agung New Mexico semula meminta $35 miliar hingga $40 miliar, sementara Meta memohon agar denda tidak melebihi $3,45 miliar. Hakim Mathew akhirnya menetapkan angka $25 miliar, jauh di atas permintaan Meta namun jauh di bawah tuntutan negara bagian.

Dalam putusannya, Hakim Mathew tidak menahan diri. Ia menyebut janji Facebook untuk menginvestigasi diri sendiri pasca-skandal sebagai “willfully ineffective” atau sengaja tidak efektif, sekaligus menyoroti “the clear intentional and systematic nature of Facebook’s repeated misstatements” — sifat kesalahan berulang Facebook yang jelas disengaja dan sistematis. Menurut kantor Jaksa Agung, angka $25 miliar itu tetap merupakan “salah satu hukuman finansial terbesar terhadap sebuah korporasi dalam sejarah Amerika Serikat” dan jauh melampaui berbagai putusan serta penyelesaian kasus Meta lainnya.

Respons Meta dan Dampaknya bagi Pengguna

Meta menegaskan akan mengajukan banding. Chief Legal Officer Meta, C.J. Mahoney, menyebut putusan ini “makes it all but impossible to do business in the state of New Mexico” dan menilai gugatan pada dasarnya berupaya “impose a tax on speech to enforce new rules for what people can say online.” Ia menyatakan keyakinannya bahwa Meta akan menang di tingkat banding. Perusahaan juga berargumen bahwa praktik privasi dan kebijakan moderasi kontennya telah membaik sejak peristiwa yang menjadi inti perkara.

Bagi pengguna Facebook, putusan ini tidak berarti mereka akan menerima kompensasi. Berdasarkan hukum New Mexico, dana yang dikumpulkan dari denda perlindungan konsumen dialokasikan untuk sistem pendidikan negara bagian, dengan bunga 15 persen per tahun hingga denda dibayar lunas. Negara bagian juga tengah mengupayakan perintah pengadilan untuk mencegah pelanggaran serupa di masa depan.

Perkara ini juga menyinggung skandal Cambridge Analytica secara lebih luas. Firma konsultan politik yang kini sudah bubar itu memperoleh informasi dari sebanyak 87 juta profil Facebook melalui kuis kepribadian pihak ketiga, lalu memanfaatkannya untuk membantu menargetkan iklan politik pada pemilihan presiden 2016. New Mexico berargumen bahwa Facebook berulang kali meyakinkan pengguna bahwa mereka mengendalikan informasi pribadinya, namun gagal menjelaskan secara memadai bagaimana pihak ketiga bisa mengakses data tersebut.

Putusan ini bukan satu-satunya pukulan hukum bagi Meta di New Mexico. Pada Agustus lalu, perkara terpisah di pengadilan negara bagian menghasilkan putusan $942 juta terhadap Meta terkait keamanan anak di Facebook dan Instagram, yang mencakup perubahan platform di bawah pengawasan pengadilan. Di luar itu, Meta juga menyelesaikan rangkaian keluhan keamanan anak dari hampir seluruh jaksa agung negara bagian lain senilai $17,1 miliar, dengan $5,3 miliar di antaranya bergantung pada penerapan langkah serupa oleh YouTube dan TikTok. New Mexico memilih tidak ikut dalam penyelesaian tersebut, sehingga membuka jalan bagi persidangan ini. Sebelumnya, Meta juga pernah menerima denda $5 miliar dari Federal Trade Commission pada 2019.

Angka $25 miliar ini bahkan melampaui denda FTC tersebut dan disebut sebagai hukuman terbesar yang pernah dijatuhkan kepada Meta. Sebagai perbandingan, dalam perkara keamanan anak di New Mexico, Meta dijatuhi total hampir $1 miliar dalam bentuk denda perdata dan abatement. Meski demikian, Meta berhasil menolak banyak perubahan bisnis yang diminta Jaksa Agung dalam bagian remedi perkara keamanan anak tersebut.

Raúl Torrez menyebut perkara ini sebagai persoalan yang lebih besar dari sekadar satu perusahaan atau satu skandal. “This case has always been about more than one company or one scandal,” ujarnya. “It is about whether corporations can mislead consumers about what happens to their personal information without facing meaningful consequences. New Mexico stood its ground, took this case to trial, and secured a verdict establishing millions of violations of our law.” Ia juga menegaskan bahwa sudah lama menanti momen untuk meminta pertanggungjawaban Big Tech.

Sementara itu, proses banding yang ditempuh Meta berpotensi memakan waktu panjang dan pada akhirnya bisa mengurangi besaran denda. Namun, putusan ini tetap menambah daftar tantangan hukum perusahaan di bidang privasi dan keamanan platform. Bagi pengguna media sosial, kasus ini menyoroti pertanyaan yang masih relevan: seberapa besar kendali yang benar-benar dimiliki seseorang atas informasi yang dibagikan ke platform online. Pengaturan privasi dapat membatasi siapa yang melihat informasi tertentu, tetapi tidak selalu menjelaskan setiap cara sebuah perusahaan mengumpulkan, memproses, atau membagikan data pengguna. Meta memang telah memperkenalkan sejumlah alat privasi baru dan memperbarui kebijakannya selama bertahun-tahun, namun perkara New Mexico berfokus pada apakah jaminan publik perusahaan di masa lalu benar-benar mencerminkan praktik yang dijalankan.

Di sisi lain, dinamika internal Meta juga menjadi sorotan tersendiri. Sejumlah insinyur dikabarkan meninggalkan perusahaan setelah menerima pesan aneh terkait Meta Muse, sementara pengguna yang ingin memverifikasi konten berbasis AI kini bisa memakai cara cek foto Meta AI lewat Content Seal. Bagi yang ingin memahami implikasi putusan ini bagi perlindungan data, langkah paling langsung adalah meninjau kembali informasi apa saja yang dibagikan dan siapa yang bisa mengaksesnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.