📑 Daftar Isi

Topi baseball bertuliskan "a/c priv" yang dipesan tim Instagram Teen Accounts Meta

Meta Dituduh Salah Gunakan Privilege, Topi “a/c priv” Jadi Bukti

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pengacara penggugat Meta menuding label attorney-client privilege diterapkan terlalu luas dalam gugatan soal keselamatan remaja
  • Dokumen baru menunjukkan tim Instagram Teen Accounts (Project Nido) memesan topi bertuliskan "a/c priv"
  • Penggugat menyebutnya bagian dari "culture of privilege abuse at Meta"
  • Hakim Yvonne Gonzalez Rogers menyoroti redaksi privilege yang "entirely inappropriate"
  • Meta minta waktu hingga akhir tahun untuk meninjau ulang redaksi, penggugat usul pihak netral

Telset.id – Meta kembali menghadapi tekanan hukum dalam gugatan terkait dugaan dampak Instagram terhadap keselamatan dan kesehatan mental remaja. Kali ini, persoalan bergeser ke cara perusahaan menyembunyikan dokumen internal. Pengacara yang menggugat Meta menuding label attorney-client privilege alias hak istimewa pengacara-klien diterapkan terlalu luas, dan menunjuk sebuah dokumen yang baru dibuka ke publik sebagai bukti bahwa budaya tersebut sudah mengakar di internal perusahaan.

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa tim di balik peluncuran Instagram Teen Accounts pada 2024 pernah memesan topi baseball yang bertuliskan sekadar “a/c priv.” Tim itu dikenal dengan nama internal Project Nido. Bagi pengacara penggugat, pesanan topi tersebut bukan sekadar barang suvenir, melainkan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “culture of privilege abuse at Meta”.

Inti tuduhannya jelas: label privilege dipakai untuk menjaga agar riset internal Meta soal dampak Instagram terhadap remaja tidak pernah terlihat publik. Isu ini bukan hal baru. Mark Zuckerberg pernah membahasnya setelah data internal tentang efek Instagram bocor pada 2021. Kini, persoalan yang sama kembali mencuat di ruang sidang, dengan dokumen-dokumen yang sebelumnya disunting atau ditahan justru menjadi pusat perdebatan.

Hakim Soroti Redaksi yang “Entirely Inappropriate”

Hakim Distrik Amerika Serikat Yvonne Gonzalez Rogers sebelumnya menyoroti sejumlah redaksi privilege yang dilakukan Meta. Dalam sebuah perintah pada bulan lalu, ia menyebut sebagian redaksi tersebut “entirely inappropriate” atau sepenuhnya tidak pantas. Ia bahkan menunjuk satu contoh spesifik: Meta mencoba membingkai diskusi tentang slide deck dan apakah data tertentu layak dipublikasikan sebagai diskusi nasihat hukum dari pengacara.

Berdasarkan kesaksian di persidangan, Hakim Yvonne Gonzalez Rogers menilai keengganan pihak Meta untuk mempublikasikan data tersebut lebih merupakan keputusan bisnis yang berfokus pada pencegahan kebocoran, bukan permintaan nasihat hukum. Temuan ini memperkuat argumen para penggugat bahwa label privilege kerap dipakai untuk hal-hal yang sebenarnya bukan ranah hukum.

Perdebatan soal dokumen ini menjadi bagian dari rangkaian panjang sengketa hukum Meta, sejalan dengan berbagai pengembangan produk perusahaan yang terus menjadi sorotan publik, seperti yang tergambar dalam Meta Rilis Horizon Create dan lini perangkat AI terbaru mereka.

65.000 Dokumen Baru Dibuka, Penggugat Minta Pihak Netral

Meta sebenarnya telah membatalkan penetapan privilege atau de-designated sekitar 65.000 dokumen yang sebelumnya ditahan atau disunting pada April 2025, setelah tahap discovery atau penyingkapan bukti. Namun, para penggugat menilai langkah itu datang terlambat karena dokumen-dokumen tersebut sudah tidak bisa lagi mereka gunakan dalam sesi deposisi.

Saat ini Meta meminta waktu hingga akhir tahun ini untuk meninjau ulang redaksi privilege lain yang telah mereka buat. Sebaliknya, pengacara penggugat mengusulkan agar pihak netral ditunjuk untuk memimpin proses peninjauan tersebut, dengan biaya ditanggung oleh Meta. Usulan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa peninjauan yang dilakukan sendiri oleh Meta berpotensi mengulang pola yang sama.

Kasus ini menambah daftar panjang persoalan hukum yang membelit Meta, di tengah upaya perusahaan memperluas ekosistem perangkat dan layanan AI-nya, termasuk pengembangan yang dibahas dalam Meta Muse Hadir. Sementara itu, inisiatif wearable lain seperti Meta Muse Charm juga menunjukkan bahwa Meta terus bergerak cepat di sisi produk, meski tekanan di ranah hukum tak surut.

Yang menjadi sorotan utama dalam sengketa ini bukan hanya soal isi dokumen, melainkan soal sejauh mana label privilege bisa dipakai untuk menahan informasi dari publik. Bagi para penggugat, temuan soal topi “a/c priv” menjadi simbol bahwa praktik tersebut sudah menjadi bagian dari budaya kerja tim internal Meta, bukan sekadar kekeliruan administratif sesekali.

Hingga berita ini ditulis, proses hukum masih berjalan dengan Meta meminta perpanjangan waktu peninjauan, sementara penggugat mendorong adanya pengawas independen. Perkembangan berikutnya akan menentukan seberapa besar bagian dari riset internal Meta soal dampak Instagram terhadap remaja yang akhirnya bisa diakses publik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.