Telset.id – Meta mulai menonaktifkan kemampuan foto dan video pada ribuan unit smart glasses milik pengguna yang terbukti melakukan modifikasi ilegal. Langkah tegas ini diambil untuk memblokir perekaman diam-diam yang merugikan privasi orang lain, terutama perempuan.
Kebijakan ini diumumkan Meta pada awal bulan ini setelah mendapat kritik publik yang luar biasa. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu menyatakan akan menindak pelanggan yang memodifikasi kacamata pintarnya untuk mematikan atau menutupi lampu indikator perekaman. Lampu indikator tersebut berfungsi sebagai penanda bagi orang lain bahwa pengguna sedang merekam.
Pada Selasa lalu, Meta mengonfirmasi telah menonaktifkan kemampuan foto dan video pada ribuan pengguna smart glasses-nya melalui pembaruan perangkat lunak. Wakil presiden divisi wearable Meta, Alex Himel, memperkirakan kurang dari sepersepuluh persen dari seluruh kacamata yang terjual telah dirusak atau dimodifikasi.
Dengan total tujuh juta unit smart glasses yang terjual pada 2025, persentase kecil tersebut diperkirakan berdampak pada hingga 7.000 unit. Namun, Himel menegaskan jumlah sebenarnya kemungkinan lebih rendah dari angka tersebut.
Masalah Penyalahgunaan yang Lebih Luas
Tindakan Meta ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan smart glasses bukan hanya dilakukan oleh segelintir oknum. Ribuan pengguna yang terkena sanksi adalah mereka yang secara fisik memodifikasi perangkatnya untuk mematikan lampu indikator. Namun, masih banyak pengguna lain yang menggunakan kacamata tersebut untuk merekam orang secara diam-diam tanpa melakukan modifikasi apa pun.
Instagram, platform milik Meta, juga mulai menangguhkan sejumlah influencer yang menggunakan smart glasses untuk merekam diri mereka saat menggoda perempuan secara agresif. Beberapa di antaranya bahkan membuat komentar eksplisit secara seksual dan provokatif. Kepala Instagram Adam Mosseri berjanji untuk menindak tegas pelecehan tersebut dengan segala cara yang mereka miliki.

Respons Publik dan Langkah Lanjutan
Meskipun langkah ini patut diapresiasi, berbagai upaya tersebut dianggap belum cukup. Meta dikabarkan berencana menambahkan teknologi pengenalan wajah ke smart glasses-nya, yang semakin memicu kekhawatiran publik. Banyak pihak yang tidak yakin Meta memiliki kepentingan terbaik untuk pengguna justru mengambil tindakan sendiri.
Sejumlah tempat usaha, termasuk klub malam populer, mulai melarang penggunaan smart glasses di area mereka. Beberapa orang bahkan berani menghadapi langsung pengguna smart glasses di tempat umum karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan perangkat tersebut.
Himel sendiri mengakui bahwa Meta menghadapi tantangan besar dalam mengatasi masalah ini. Ia menyebut situasi ini seperti permainan kucing dan tikus yang tidak akan pernah selesai.
“Selalu ada cara baru untuk menghindari pengaman yang sudah ada. Jadi, kami akan terus memantau dan mengembangkan langkah-langkah yang kami miliki,” ujar Himel kepada Semafor.
Meta juga tengah menghadapi tuntutan hukum besar terkait penggunaan AI glasses-nya. Perusahaan tersebut digugat atas klaim bahwa produknya melanggar persetujuan dari jutaan orang yang berada di sekitar pengguna perangkat tersebut.
Langkah Meta ini sejalan dengan upaya perusahaan dalam mengembangkan teknologi AI. Sebelumnya, Meta juga telah menguji robot untuk otomatisasi berbagai kebutuhan operasional. Perusahaan juga tengah mengembangkan berbagai inovasi AI lainnya seperti teknologi transkripsi real-time.
Kebijakan penonaktifan ini menjadi sinyal kuat bahwa Meta serius menangani masalah privasi. Meski demikian, efektivitas jangka panjang dari langkah ini masih perlu dipantau mengingat selalu ada celah baru yang bisa dieksploitasi oleh pengguna yang berniat buruk.
Bagi pengguna smart glasses yang taat aturan, kebijakan ini tidak akan berdampak apa pun. Namun, bagi mereka yang mencoba memanfaatkan celah untuk merugikan orang lain, konsekuensi yang jelas telah menanti.





Komentar
Belum ada komentar.