Telset.id – Meta berhasil menonaktifkan lebih dari 1,4 juta akun, halaman, dan grup penipuan di Facebook serta Instagram dalam operasi gabungan bersama Microsoft, SpaceX, dan Departemen Kehakiman AS (DOJ). Operasi yang berlangsung pada pekan yang dimulai 18 Mei 2026 ini merupakan kolaborasi lintas industri pertama yang menyatukan perusahaan teknologi dan aparat penegak hukum internasional untuk membongkar jaringan kriminal siber di Asia Tenggara.
Kolaborasi ini melibatkan sejumlah nama besar seperti Microsoft, Coinbase, Starlink milik SpaceX, serta DOJ. Di sisi penegakan hukum, Royal Thai Police dan lembaga dari Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru turut ambil bagian. Mereka bertemu di Washington, DC, untuk berbagi data dan menghubungkan informasi yang tersebar di berbagai platform.
Menurut Meta, pertemuan tersebut memungkinkan para peserta untuk “menghubungkan titik-titik antara potongan informasi yang berbeda di berbagai platform.” Hasilnya, lebih dari 1,4 juta akun, halaman, dan grup dari Facebook dan Instagram berhasil diidentifikasi dan dinonaktifkan. Sementara itu, Microsoft menangguhkan 20.000 akun yang digunakan oleh penipu, dan Coinbase membekukan lebih dari 3 juta dolar AS dalam bentuk cryptocurrency yang terkait dengan jaringan kriminal. Starlink juga memutuskan koneksi ribuan perangkat yang teridentifikasi digunakan oleh para penipu.
Selain tindakan digital, operasi ini berhasil mengidentifikasi lokasi pusat penipuan baru. Hingga saat ini, aparat penegak hukum telah menangkap 63 tersangka yang diduga terlibat dalam jaringan kejahatan tersebut.
Fokus pada Jaringan Penipuan Asia Tenggara
Operasi ini secara spesifik menargetkan jaringan kriminal yang beroperasi dari Asia Tenggara. Jaringan ini menargetkan warga Amerika Serikat dengan berbagai skema, termasuk romance scam, “pig butchering” (penipuan investasi), dan peniruan identitas aparat penegak hukum. Selain itu, mereka juga menawarkan pekerjaan palsu kepada warga Asia Tenggara lainnya, yang kemudian dipaksa bekerja di pusat penipuan (scam compounds).
Ironisnya, Meta sendiri sebelumnya mendapat banyak kritik karena dianggap membiarkan penipu merajalela di platformnya. Bahkan, perusahaan dilaporkan menghasilkan miliaran dolar setiap tahun dari iklan yang terkait dengan skema penipuan. Namun, Meta terus meningkatkan upayanya melawan aktivitas penipuan. Sepanjang tahun 2025, perusahaan menghapus 159 juta iklan penipuan dan 10,9 juta akun Facebook serta Instagram yang terkait dengan pusat penipuan kriminal.
Dalam konteks ini, Bot Meta yang digunakan untuk membantu pengguna justru pernah menjadi celah keamanan yang dimanfaatkan peretas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Meta gencar memberantas penipuan, masih ada tantangan internal yang harus diatasi.
Baca Juga:
Langkah Hukum dan Teknologi Baru
Meta tidak hanya mengandalkan operasi gabungan. Perusahaan juga mengambil langkah hukum dengan menggugat pengiklan di Brasil dan China atas iklan penipuan yang menggunakan gambar deepfake selebriti untuk menjebak korban ke situs penipuan. Pada Maret 2026, Meta meluncurkan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi peniru identitas merek dan selebriti. Selain itu, Meta juga mengaktifkan peringatan untuk memberi tahu pengguna jika mereka berpotensi berkomunikasi dengan akun penipuan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Meta untuk melindungi penggunanya. Sebelumnya, perusahaan pernah menonaktifkan lebih dari 2 juta akun yang terkait dengan skema pig butchering. Dalam skema tersebut, pelaku menipu korban untuk melakukan investasi cryptocurrency atau skema serupa sebelum menghilang dengan dana korban.
Meskipun demikian, kritik terhadap Meta masih relevan. Seorang jurnalis yang melaporkan kasus penipuan secara pribadi mengaku sering mendapatkan respons bahwa Meta tidak menghapus halaman dan akun yang dilaporkan. Namun, operasi terbaru ini menunjukkan bahwa Meta mulai serius menangani masalah ini dengan melibatkan berbagai pihak.
Dampak dan Komitmen Berkelanjutan
Meskipun tidak mengungkapkan langkah selanjutnya, Meta menegaskan bahwa “perusahaan yang berpartisipasi tetap berkomitmen untuk melanjutkan kolaborasi penting ini guna melindungi masyarakat daring.” Pernyataan ini menandakan bahwa operasi gabungan ini bukanlah langkah terakhir, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memberantas penipuan daring.
Operasi ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas industri dan lintas negara. Dengan melibatkan perusahaan teknologi seperti Microsoft, Coinbase, dan Starlink, serta aparat penegak hukum dari berbagai negara, Meta berhasil menciptakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam memerangi kejahatan siber. Kebijakan internal Meta seperti jeda dari program pelacakan karyawan juga menjadi perhatian, namun fokus utama saat ini adalah keamanan pengguna.
Ke depannya, keberhasilan operasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi kolaborasi serupa di masa depan. Dengan semakin canggihnya modus penipuan, kerja sama antarperusahaan dan pemerintah menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari ancaman siber. Persaingan di industri teknologi seperti antara Acer dan Meta dalam smart glasses juga menunjukkan betapa dinamisnya sektor ini.
Sementara itu, pengguna diharapkan tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan yang terus berkembang. Meta sendiri telah menyediakan fitur keamanan seperti peringatan akun mencurigakan dan alat pelaporan yang lebih responsif. Namun, kesadaran pengguna tetap menjadi lapisan pertahanan terpenting dalam menghadapi ancaman siber.





Komentar
Belum ada komentar.