Gedung markas Nanya Technology di Kueishan, Taiwan dengan latar langit cerah

Nanya Technology Siapkan Investasi Rp100 Triliun di 2027

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Nanya Technology akan meningkatkan capex hingga TW$200 miliar (Rp100 triliun) di 2027, empat kali lipat dari anggaran 2026
  • Laba kuartal kedua 2026 melonjak 1.324% menjadi TW$50,19 miliar, margin kotor mencapai 79,5%
  • Pendapatan satu kuartal melampaui total penjualan tahun 2025, didorong kenaikan harga DRAM
  • Pabrik baru di New Taipei City akan produksi DDR5, DDR4, dan LPDDR4 dengan kapasitas awal 30.000 wafer per bulan
  • SanDisk, Kioxia, Solidigm, dan Cisco investasi TW$78,72 miliar untuk 10,19% saham Nanya
  • Perusahaan tidak memproduksi HBM, tapi kembangkan HBM khusus untuk edge AI bersama mitra

Telset.id – Produsen memori asal Taiwan, Nanya Technology, mengumumkan rencana ambisius untuk meningkatkan belanja modal (capex) hingga lebih dari TW$200 miliar (setara Rp100 triliun) pada tahun 2027. Angka ini melonjak sekitar empat kali lipat dibandingkan anggaran tahun ini, yang mencapai TW$52 miliar.

Presiden Nanya Technology, Pei-Ing Lee, menyampaikan rencana tersebut dalam sebuah briefing online. Langkah besar ini diambil di tengah lonjakan permintaan DRAM yang didorong oleh pusat data AI dan kelangkaan pasokan global.

Keputusan Nanya untuk menggelontorkan dana besar ini menunjukkan optimisme tinggi terhadap prospek bisnis memori. Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal kedua yang belum diaudit sebesar TW$82,55 miliar, melonjak 684% dari tahun sebelumnya. Laba bersihnya bahkan mencapai TW$50,19 miliar, naik 1.324% secara tahunan.

Pencapaian tersebut sangat impresif. Margin kotor Nanya mencapai 79,5%, berbanding terbalik dengan minus 20,6% pada periode yang sama di tahun 2025. Laba satu kuartal ini saja 7,6 kali lipat dari total laba Nanya sepanjang tahun lalu. Bahkan, pendapatan kuartal ini melampaui total penjualan Nanya di tahun 2025.

“Lonjakan pendapatan ini hampir seluruhnya disebabkan oleh kenaikan harga,” demikian analisis dari data internal perusahaan. Harga jual rata-rata (ASP) Nanya naik lebih dari 70% secara kuartalan di Q1 2026, sementara pengiriman bit justru turun tipis. Tren kenaikan harga ini diproyeksikan berlanjut, dengan TrendForce memperkirakan kenaikan harga kontrak DRAM konvensional sebesar 13% hingga 18% di Q3 2026.

Baca Juga:

Investasi besar ini akan digunakan untuk membangun pabrik baru di Distrik Taishan, New Taipei City. Fase pertama pabrik ini ditargetkan mencapai kapasitas 30.000 wafer per bulan pada tahun 2028, dan akan diperluas hingga 45.000 wafer. Pabrik tersebut akan menggunakan node 1B, proses generasi kedua 10nm-class, untuk memproduksi DDR5, DDR4, dan LPDDR4.

Lee mengakui bahwa angka TW$200 miliar untuk 2027 masih bersifat awal dan belum mendapatkan persetujuan dewan direksi. Namun, ia menyebutkan bahwa pabrik baru tersebut akan menyerap investasi sekitar TW$480 miliar pada kapasitas penuh. Keputusan ini diambil saat pasokan DRAM global sedang sangat ketat, dengan Lee memperkirakan kendala pasokan paling parah terjadi hingga paruh pertama 2027.

Saat ini, sekitar 70% pengiriman Nanya masih didominasi oleh DDR4 dan LPDDR4, sementara DDR5 baru berkontribusi sekitar 10% dari pendapatan. Menariknya, Nanya tidak memproduksi high-bandwidth memory (HBM) dan secara tegas tidak akan bersaing di segmen HBM2, HBM3, HBM3E, atau HBM4.

Meski demikian, Nanya tengah mengembangkan komponen HBM khusus untuk edge AI. Proyek ini dikerjakan bersama Etron Technology, Piecemakers Technology, dan Formosa Advanced Technologies, dan ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.

Kinerja Nanya yang melesat juga menarik perhatian investor global. SanDisk, Kioxia, Solidigm, dan Cisco baru saja menggelontorkan dana TW$78,72 miliar untuk membeli 10,19% saham Nanya dalam penempatan privat yang selesai pada April lalu. SanDisk dan Kioxia juga menandatangani perjanjian pasokan DRAM jangka panjang bersamaan dengan investasi tersebut.

Fakta bahwa Solidigm, anak perusahaan SK hynix yang merupakan produsen DRAM terbesar kedua dunia, memilih Nanya sebagai pemasok menunjukkan betapa ketatnya persaingan mendapatkan pasokan DRAM saat ini. Solidigm yang memproduksi SSD membutuhkan DRAM untuk cache, dan mereka rela mendatangi pemasok yang hanya menguasai sekitar 2% pangsa pasar global.

Sementara itu, kompetitor seperti Samsung diproyeksikan memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar. Fabrik P3 Samsung saja diperkirakan mencapai kapasitas sekitar 115.000 wafer per bulan pada akhir tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Nanya meningkatkan kapasitasnya secara signifikan, mereka tetap menjadi pemain kecil di pasar global yang didominasi oleh Samsung, SK hynix, dan Micron.

Langkah Nanya untuk meningkatkan capex secara drastis merupakan sinyal kuat bahwa permintaan DRAM diprediksi akan terus melonjak, terutama dengan semakin masifnya adopsi AI. Investasi ini juga menjadi strategi Nanya untuk mengamankan posisinya di tengah kelangkaan pasokan yang diproyeksikan berlangsung hingga 2028.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.