📑 Daftar Isi

Logo PBS pada smartphone sebagai ilustrasi kasus pemulihan data cloud Nine PBS

Pengadilan Perintahkan Iron Mountain Pulihkan Arsip 70 Tahun Nine PBS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pengadilan memerintahkan Iron Mountain bekerja sama memulihkan arsip 70 tahun Nine PBS
  • Nine PBS menggugat Iron Mountain Juli lalu setelah data mereka terjebak pasca kebangkrutan Open Source Storage
  • OSS memutus akses langsung tanpa memberi waktu 30 hari untuk mengambil arsip
  • Iron Mountain menolak menyerahkan data karena kontrak dengan OSS, bukan Nine PBS
  • Hakim memerintahkan Nine PBS menunjuk vendor pihak ketiga untuk akses data
  • Leah Freeman, VP CCO Nine PBS, mengapresiasi keputusan pengadilan
  • Arsip mencakup acara TV, video, foto, dan objek budaya digital sejarah St. Louis
  • Kasus ini menjadi pelajaran penting tentang risiko ketergantungan pada satu penyedia cloud
  • Rekomendasi aturan 3-2-1 untuk backup data: 3 salinan, 2 media berbeda, 1 di lokasi terpisah

Telset.id – Sebuah pengadilan memerintahkan perusahaan pusat data Iron Mountain untuk bekerja sama memulihkan arsip digital milik Nine PBS, stasiun televisi PBS di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat. Arsip tersebut berisi 70 tahun materi budaya yang terjebak setelah penyedia layanan cloud Nine PBS, Open Source Storage (OSS), gulung tikar.

Keputusan ini diambil dalam sidang pada Rabu lalu setelah Nine PBS menggugat Iron Mountain pada Juli lalu. Stasiun TV tersebut kesulitan mengakses datanya sendiri karena Iron Mountain menolak menyerahkan data yang secara fisik mereka host untuk OSS, sebagaimana dilaporkan The Denver Post.

Sengketa ini berawal pada Maret lalu ketika Nine PBS mengetahui bahwa Open Source Storage tidak memperpanjang kontrak mereka. Alih-alih memberi waktu 30 hari untuk mengambil arsip, OSS justru langsung memutus akses. Pada April, stasiun tersebut berhasil menghubungi pemilik baru OSS yang mengonfirmasi arsip masih aman. Namun setelah pemilik tersebut keluar dari perusahaan, Nine PBS meminta bantuan Iron Mountain yang secara fisik menyimpan data untuk OSS.

Iron Mountain menolak menyerahkan data dengan alasan kontrak mereka secara teknis dengan OSS, bukan dengan Nine PBS. Juru bicara Iron Mountain menyatakan perusahaan telah bertindak tepat dan bertanggung jawab untuk menjaga data pelanggan serta menghormati komitmen kontraktual kepada OSS.

Logo PBS pada sebuah smartphone.

Dalam putusannya, hakim memerintahkan Iron Mountain bekerja sama semaksimal mungkin dengan Nine PBS untuk mengambil data. Hakim juga memutuskan stasiun tersebut harus menunjuk vendor pihak ketiga yang dapat membantu mengakses data dari pusat data Iron Mountain tanpa merusak data klien OSS lainnya. Jika proses pengambilan data berjalan lebih rumit, hakim akan menjadwalkan sidang lanjutan.

Leah Freeman, VP dan CCO Nine PBS, mengapresiasi keputusan pengadilan yang membuka jalan untuk mengakses dan memulihkan materi arsip yang menurut pengadilan memang menjadi hak milik Nine PBS.

Arsip yang terjebak mencakup acara TV, video, foto, dan objek budaya digital lain yang relevan dengan sejarah St. Louis. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya strategi penyimpanan data yang aman.

Risiko Ketergantungan pada Penyedia Cloud

Kasus Nine PBS menunjukkan risiko nyata ketika organisasi terlalu bergantung pada satu penyedia layanan cloud. Ketika vendor bangkrut atau berhenti beroperasi, data pelanggan bisa terjebak dan sulit diakses kembali.

Situasi ini tidak hanya dialami institusi penyiaran. Perusahaan dan individu yang menyimpan data penting di cloud menghadapi risiko serupa jika penyedia layanan mereka mengalami masalah finansial atau operasional.

Proses hukum yang harus ditempuh Nine PBS menunjukkan betapa rumitnya memulihkan data ketika terjadi sengketa kepemilikan antara penyedia layanan, operator pusat data, dan pelanggan akhir. Meski Iron Mountain mengklaim tidak memiliki akses ke data tersebut, pengadilan tetap memerintahkannya untuk membantu proses pemulihan.

Rekomendasi Strategi Backup Data

Para ahli merekomendasikan pendekatan yang dikenal sebagai aturan “3-2-1” untuk menghindari masalah serupa. Strategi ini mengharuskan pengguna menyimpan tiga salinan setiap file di dua media berbeda, seperti hard drive fisik dan layanan cloud, dengan satu salinan disimpan di lokasi terpisah.

Dengan menerapkan aturan 3-2-1, pengguna memiliki cadangan jika penyedia cloud bangkrut atau hard drive fisik rusak. Strategi ini juga memastikan bahwa banjir atau kebakaran yang menghancurkan satu salinan tidak akan menghilangkan semua data, selama tidak terjadi bencana global.

Kasus Nine PBS juga menyoroti pentingnya membaca dan memahami kontrak layanan cloud secara cermat. Ketentuan tentang kepemilikan data, akses darurat, dan prosedur pengambilan data saat kontrak berakhir perlu menjadi perhatian utama sebelum menandatangani perjanjian.

Bagi organisasi yang menyimpan data bernilai historis atau kultural, memiliki rencana pemulihan bencana yang matang menjadi keharusan. Keamanan data tidak hanya soal melindungi dari serangan siber, tetapi juga memastikan akses jangka panjang terhadap informasi penting.

Sementara itu, industri cloud terus berkembang dengan berbagai inovasi. Namun kasus Nine PBS membuktikan bahwa ketahanan layanan cloud tidak hanya ditentukan oleh fitur atau kapasitas, tetapi juga oleh stabilitas bisnis penyedianya. Organisasi perlu melakukan due diligence terhadap kesehatan finansial vendor cloud sebelum mempercayakan data penting mereka.

Putusan pengadilan ini menjadi preseden penting bagi kasus serupa di masa depan. Hakim menegaskan bahwa kepemilikan data berada pada entitas yang menciptakan dan memiliki konten tersebut, bukan pada pihak yang kebetulan menyimpannya secara fisik.

Bagi Nine PBS, keputusan ini membuka jalan untuk memulihkan warisan budaya St. Louis yang tersimpan dalam arsip digital mereka. Namun proses pemulihan masih membutuhkan kerja sama berbagai pihak dan kemungkinan melibatkan vendor pihak ketiga untuk mengekstrak data dari infrastruktur Iron Mountain.

Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri penyiaran dan institusi lain yang memiliki arsip digital bernilai tinggi. Investasi pada sistem backup yang redundan jauh lebih murah dibandingkan biaya hukum dan risiko kehilangan data permanen.

Ke depannya, transparansi antara penyedia layanan cloud, operator pusat data, dan pelanggan menjadi kunci untuk mencegah konflik serupa. Komunikasi yang jelas tentang hak akses data dan prosedur pengambilan data saat terjadi perubahan kepemilikan atau kebangkrutan penyedia layanan sangat diperlukan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.