📑 Daftar Isi

Logo Polymarket dengan latar belakang hitam

Polymarket Bayar Kreator Konten Video Taruhan Palsu

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Polymarket diduga membayar kreator konten untuk membuat video taruhan palsu di TikTok
  • WSJ meninjau 1.105 video, 778 di antaranya menggunakan situs tiruan, bukan situs asli
  • Lebih dari separuh video kemenangan sebenarnya adalah kerugian di dunia nyata
  • Polymarket juga merekrut "tentara media sosial" untuk menyebarkan video viral
  • Minnesota menjadi negara bagian AS pertama yang melarang prediksi pasar
  • Spanyol memblokir Polymarket dan Kalshi pada Mei 2026
  • Komdigi Indonesia resmi blokir Polymarket sebagai judi online
  • Insider trading oleh insinyur Google di Polymarket menambah kontroversi

Telset.id – Laporan investigasi The Wall Street Journal mengungkap bahwa Polymarket, platform prediksi pasar, diduga membayar kreator konten media sosial untuk memproduksi video taruhan palsu yang menyesatkan publik. Investigasi ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan platform tersebut di tahun 2026.

The Wall Street Journal meninjau sebanyak 1.105 video TikTok sebagai bagian dari penyelidikan mereka. Dari jumlah tersebut, 778 video menampilkan seseorang yang tampak sedang memasang taruhan. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, tidak satu pun dari video-video tersebut yang menggunakan situs Polymarket yang asli. Sebaliknya, para kreator menggunakan situs tiruan yang dirancang agar terlihat persis seperti platform asli.

Lebih dari separuh video yang menampilkan kemenangan taruhan sebenarnya adalah kerugian jika dilihat dari kondisi nyata. Temuan ini menunjukkan praktik manipulatif yang sistematis untuk menarik pengguna baru ke platform tersebut.

Strategi Viral Buatan

The Wall Street Journal melaporkan bahwa mereka telah berbicara dengan beberapa kreator yang bekerja sama dengan Polymarket. Para kreator ini menunjukkan materi panduan yang diberikan oleh Polymarket untuk memastikan video mereka terlihat meyakinkan dan menarik. Panduan tersebut mencakup cara menyusun narasi, memilih ekspresi wajah, dan teknik editing agar konten terlihat autentik.

Selain membayar kreator individu, Polymarket juga disebut-sebut merekrut “tentara media sosial” untuk membagikan ulang video-video tersebut. Tujuan dari strategi ini adalah membantu video-video itu menjadi viral dengan cepat, menciptakan ilusi bahwa banyak orang sukses dan menghasilkan uang besar melalui platform tersebut.

Praktik ini menjadi sorotan karena dapat menyesatkan calon pengguna yang tidak menyadari bahwa konten yang mereka lihat hanyalah bagian dari kampanye pemasaran yang direkayasa. Dengan menampilkan kemenangan palsu, Polymarket menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang peluang menang di platform mereka.

Regulasi Semakin Ketat

Polymarket telah menjadi sorotan sepanjang tahun 2026 seiring upaya pemerintah di berbagai negara untuk mengatur prediksi pasar. Minnesota menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang melarang platform prediksi pasar pada bulan lalu. Beberapa negara bagian lain juga mencoba melakukan hal serupa, meskipun berbagai tuntutan hukum telah diajukan untuk menantang upaya tersebut.

Di Eropa, Spanyol memblokir akses ke Polymarket dan platform prediksi pasar lainnya, Kalshi, pada bulan Mei. Langkah ini diambil sementara pemerintah Spanyol menentukan apakah platform-platform tersebut melanggar undang-undang perjudian negara itu.

Di Indonesia, regulator juga sudah mengambil tindakan tegas. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara resmi memblokir Polymarket di Indonesia dengan mengkategorikannya sebagai judi online. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia serius dalam memberantas platform yang dianggap merugikan masyarakat.

Kasus kontroversi lain yang melibatkan Polymarket adalah kasus insider trading yang dilakukan oleh seorang insinyur Google. Insinyur tersebut didakwa meraup keuntungan hingga Rp19 miliar dari praktik insider trading di platform Polymarket. Kasus ini semakin memperkuat citra negatif platform tersebut di mata publik dan regulator.

Investigasi The Wall Street Journal ini memberikan bukti baru tentang bagaimana Polymarket beroperasi untuk menarik pengguna. Dengan membayar kreator untuk membuat konten palsu dan menggunakan “tentara media sosial” untuk menyebarkannya, platform ini menunjukkan bahwa mereka bersedia menggunakan cara-cara yang meragukan untuk mengembangkan bisnis mereka.

Implikasi dari temuan ini cukup serius. Jika terbukti benar, praktik ini dapat melanggar berbagai peraturan tentang iklan menyesatkan dan perlindungan konsumen di berbagai yurisdiksi. Regulator di negara-negara yang belum mengambil tindakan mungkin akan semakin terdorong untuk memblokir atau membatasi operasi Polymarket.

Bagi pengguna, temuan ini menjadi peringatan untuk lebih berhati-hati terhadap konten yang mereka lihat di media sosial, terutama yang berkaitan dengan platform keuangan atau investasi. Video yang tampak meyakinkan belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Komentar

Belum ada komentar.