Telset.id – Baterai sodium-ion buatan startup asal Amerika Serikat, Unigrid, baru saja lolos uji keamanan ketat dari raksasa otomotif Korea Selatan, Hyundai. Keberhasilan ini menjadi langkah penting bagi teknologi baterai sodium-ion yang digadang-gadang sebagai penerus lithium-ion, terutama dari sisi keamanan dan ketersediaan bahan baku.
Unigrid mengembangkan baterai sodium-ion dengan kimia sel sodium chromium oxide (NCO). Setelah melalui program evaluasi teknis Hyundai, baterai ini berhasil mencapai “tonggak validasi teknologi kritis” dengan menyelesaikan serangkaian uji keamanan tanpa kebakaran dan tanpa propagasi termal, yaitu kondisi di mana api menyebar antar baterai yang menjadi perhatian utama di pabrik dan penggunaan industri.
Selain keamanan, baterai NCO ini juga menunjukkan “degradasi kapasitas minimal” setelah siklus pengisian berkelanjutan. Baterai juga mampu bertahan pada rentang suhu luas, dari -20 derajat Celcius hingga 60 derajat Celcius. Meski ini baru satu set pengujian dalam skenario terbatas, teknologi ini lulus dengan nilai sangat baik.
Perbedaan utama antara baterai sodium-ion dan lithium-ion terletak pada ion yang berpindah antara katoda dan anoda. Kedua teknologi sebenarnya sudah ada sejak lama, namun kepadatan energi lithium-ion yang lebih unggul membuatnya mendominasi pasar selama ini. Kini, sodium-ion mulai dilirik kembali karena beberapa keunggulan.

Selain potensi keamanan yang lebih baik dari risiko thermal runaway, perbedaan kunci lainnya adalah natrium yang jauh lebih melimpah dan mudah didapat dibandingkan lithium. Hal ini menjadi pertimbangan penting seiring meningkatnya tekanan lingkungan, dan membuat bahan baku lebih terjangkau, meskipun biaya keseluruhan baterai sodium-ion saat ini masih lebih tinggi dari lithium-ion.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti yang diungkapkan dalam tinjauan tahun 2026 di Journals of Materials Chemistry A. Masalah kepadatan energi masih menjadi kendala, membuat sodium-ion lebih cocok untuk penyimpanan energi skala besar daripada baterai di ponsel atau tablet.
Dengan segala pertimbangan tersebut, para ahli memperkirakan sodium-ion akan lebih mungkin hidup berdampingan dengan lithium-ion, setidaknya dalam jangka pendek. Baterai baru seperti buatan Unigrid memang punya potensi besar, tapi masih banyak tantangan yang harus diatasi.
Baca Juga:
Produsen Besar Mulai Bergerak
Seperti dilaporkan Nature, produsen baterai terbesar dunia, CATL, telah mengumumkan akan mulai memproduksi massal baterai sodium-ion sebelum akhir 2026. Perusahaan asal China itu mengaku telah memiliki kesepakatan dengan produsen mobil dan penyedia stasiun penyimpanan energi untuk jaringan listrik.
Namun, campuran bahan sodium-ion pada baterai CATL berbeda. Mereka menggunakan teknologi yang dikenal sebagai Prussian white, yang berpotensi lebih murah, lebih mudah diproduksi secara massal, dan lebih tahan lama, meski ada pertanyaan mengenai kepadatan energinya.

Kabar baiknya, kemajuan pesat sedang terjadi di area di mana baterai sodium-ion masih kurang. Para peneliti sedang mengkaji berbagai campuran dan kombinasi kimia yang mungkin paling optimal. Bahkan, beberapa ilmuwan mengusulkan ide untuk menghilangkan material anoda tetap di baterai, sehingga baterai isi ulang bisa bekerja lebih seperti baterai sekali pakai.
Ada banyak variabel yang terlibat, mulai dari stabilitas ekonomi dunia hingga permintaan daya dari pusat data AI yang terus membebani jaringan energi global. Namun, kita bisa berharap akan mendengar lebih banyak terobosan dengan teknologi baterai sodium-ion di tahun-tahun mendatang.
“Sodium-ion batteries have emerged as a compelling alternative to lithium-ion systems, particularly for stationary storage and cost-sensitive mobility applications,” tulis Abu Faizal Abdul Salam et al di Journal of Materials Chemistry A. “Continued efforts in materials research, standardization of testing methodologies, and real-world validation are pivotal to accelerate their path toward commercialization.”
Keberhasilan uji keamanan oleh Hyundai ini menjadi validasi nyata bahwa baterai sodium-ion bukan sekadar konsep laboratorium. Dengan dukungan produsen besar seperti CATL dan startup seperti Unigrid, transisi menuju baterai yang lebih aman dan bahan baku yang lebih berkelanjutan semakin mendekati kenyataan, meski masih perlu waktu sebelum teknologi ini benar-benar menggantikan lithium-ion di perangkat konsumen.





Komentar
Belum ada komentar.