📑 Daftar Isi

Ilustrasi jam atom dan rotasi Bumi terkait keputusan BIPM menghapus leap second

BIPM Setujui Penghapusan Leap Second, Berlaku 20 Mei 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • BIPM menyetujui penghapusan leap second efektif 20 Mei tahun depan, bertepatan World Metrology Day
  • Percepatan dari rencana 2022 (paling lambat 2035) karena rotasi Bumi berpotensi memaksa pengurangan waktu
  • Pengurangan waktu belum pernah dicoba dan dikhawatirkan ganggu infrastruktur kritis
  • Foursquare, Reddit, LinkedIn, Yelp pernah outage saat leap second ditambahkan
  • Meta, Google, Microsoft, Amazon mendukung penghapusan sistem ini
  • Penggantinya "leap hours", penambahan satu jam diperkirakan baru terjadi sekitar 3.000 tahun lagi

Telset.id – Perubahan penting dalam sistem penjagaan waktu global resmi disetujui. International Bureau of Weights and Measures (BIPM) melakukan pemungutan suara untuk menghapus leap second, penyesuaian waktu ad hoc yang kadang ditambahkan agar standar waktu yang dilacak mencerminkan rotasi Bumi yang sebenarnya dan tidak konsisten. Keputusan ini mempercepat rencana yang sebelumnya disepakati pada 2022 untuk menghentikan penggunaan leap second pada atau sebelum 2035, kini berlaku efektif 20 Mei tahun depan, bertepatan dengan World Metrology Day.

Percepatan jadwal ini didorong alasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan pada rotasi Bumi berpotensi membuat para penjaga waktu harus mengurangi waktu, bukan menambahkannya, agar waktu astronomi tetap sejalan dengan waktu atomik. Langkah pengurangan waktu semacam ini belum pernah dicoba sebelumnya, dan muncul kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat menimbulkan kekacauan pada infrastruktur kritis yang bergantung pada sinkronisasi waktu.

Kekhawatiran itu tidak tanpa dasar. Foursquare, Reddit, LinkedIn, Yelp, dan banyak platform teknologi lain pernah mengalami gangguan layanan di masa lalu ketika leap second ditambahkan. Sejumlah perusahaan termasuk Meta, Google, Microsoft, dan Amazon diketahui mendukung upaya penghapusan sistem ini. Dukungan dari raksasa teknologi itu menunjukkan bahwa isu sinkronisasi waktu bukan sekadar persoalan ilmiah, melainkan menyangkut keberlangsungan layanan digital yang dipakai banyak orang setiap hari.

Keputusan BIPM ini menjadi relevan bagi pengguna teknologi di Indonesia yang setiap hari bergantung pada layanan berbasis waktu akurat. Sinkronisasi waktu yang terganggu bisa berdampak pada transaksi keuangan, komunikasi, hingga layanan berbasis lokasi. Karena itu, perubahan tata kelola waktu global ini perlu dipahami sebagai upaya mencegah potensi kegagalan infrastruktur yang mirip dengan kekhawatiran bug Y2K.

Setelah pemungutan suara BIPM, para penjaga waktu akan beralih menggunakan “leap hours”. Mekanisme baru ini memungkinkan waktu atomik dan waktu astronomi secara bertahap saling menjauh hingga satu jam penuh perlu ditambahkan. Penambahan satu jam tersebut diperkirakan tidak akan terjadi selama sekitar 3.000 tahun ke depan.

Mengapa Leap Second Dihapus Lebih Cepat

Alasan utama percepatan penghapusan leap second adalah perubahan rotasi Bumi yang dapat memaksa penjaga waktu mengurangi waktu untuk pertama kalinya. Sebelumnya, penyesuaian selalu dilakukan dengan menambahkan leap second. Situasi baru ini menimbulkan risiko yang belum pernah diuji, terutama bagi sistem yang mengandalkan ketepatan waktu secara ketat.

Dampak gangguan akibat leap second bukanlah skenario teoretis. Sejumlah platform teknologi besar pernah mengalami outage saat leap second ditambahkan. Pengalaman inilah yang membuat perusahaan seperti Meta, Google, Microsoft, dan Amazon mendukung penghapusan sistem tersebut. Dukungan ini menegaskan bahwa industri teknologi memandang leap second sebagai sumber risiko operasional yang nyata.

Perpindahan ke “leap hours” menjadi solusi jangka panjang. Dengan membiarkan waktu atomik dan waktu astronomi saling menjauh secara bertahap, penyesuaian besar hanya diperlukan dalam rentang waktu yang sangat panjang, yakni sekitar 3.000 tahun. Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan penyesuaian kecil yang berulang dan berisiko mengganggu sinkronisasi sistem.

Dampak bagi Infrastruktur Digital dan Pengguna

Bagi pengguna biasa, keputusan BIPM mungkin terasa jauh dari keseharian. Namun, sinkronisasi waktu menjadi fondasi banyak layanan digital, mulai dari aplikasi pesan, platform media sosial, hingga sistem pembayaran. Ketika sinkronisasi terganggu, layanan-layanan tersebut berisiko mengalami gangguan, seperti yang pernah dialami Foursquare, Reddit, LinkedIn, dan Yelp.

Perusahaan teknologi besar telah lama menyadari risiko ini. Meta, Google, Microsoft, dan Amazon termasuk pihak yang mendukung penghapusan leap second. Dukungan tersebut mencerminkan kebutuhan industri akan sistem waktu yang lebih stabil dan dapat diprediksi. Bagi sektor bisnis dan profesional, perubahan ini berarti berkurangnya potensi gangguan layanan yang bisa mengganggu operasional dan produktivitas.

Penghapusan leap second juga menandai pergeseran cara dunia menjaga keselarasan antara waktu atomik dan waktu astronomi. Alih-alih penyesuaian kecil yang sering, dunia beralih ke penyesuaian besar yang jarang terjadi. Dengan tenggat 20 Mei tahun depan, para pemangku kepentingan memiliki waktu untuk menyesuaikan sistem masing-masing sebelum aturan baru berlaku penuh.

Keputusan BIPM ini menegaskan bahwa tata kelola waktu global terus berevolusi mengikuti kebutuhan zaman. Perubahan rotasi Bumi yang memicu kekhawatiran pengurangan waktu menjadi pijakan utama percepatan kebijakan ini. Dengan beralih ke “leap hours”, dunia memilih pendekatan yang lebih aman dan berkelanjutan untuk menjaga keselarasan waktu dalam jangka panjang.

[ META_DESCRIPTION]
BIPM resmi menghapus leap second mulai 20 Mei 2026 demi mencegah gangguan infrastruktur digital seperti insiden Y2K. Simak alasan dan dampaknya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.