Telset.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut menyimpan bahaya yang tidak terlihat. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa api dapat bertahan di bawah permukaan gambut selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dalam bentuk smouldering fire, tanpa menghasilkan kobaran api yang terlihat di permukaan.
Fenomena ini dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Eko Widi Santoso, Hammam Riza, Agus Kristijono, Dian Nuraini Melati, dan Firman Prawiradisastra. Riset tersebut dipublikasikan di Majalah Ilmiah Pengkajian Industri BRIN dan secara khusus membahas tentang peat smouldering serta upaya deteksi dini karhutla menggunakan machine learning.
Apa Itu Peat Smouldering?
Peat smouldering adalah proses pembakaran lambat tanpa nyala api (flameless) yang terjadi di dalam lapisan tanah gambut di bawah permukaan. Para peneliti menjelaskan bahwa ketika gambut terbakar, kebakaran smouldering dapat mengonsumsi biomassa dalam jumlah yang sangat besar.
Berbeda dengan api permukaan yang mudah terlihat, proses pembakaran ini berlangsung perlahan sehingga jauh lebih sulit dideteksi sekaligus dipadamkan. Kondisi ini membuat kebakaran dapat terus berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa disadari.
Secara sederhana, smouldering merupakan pembakaran yang berlangsung perlahan dan tidak selalu menghasilkan nyala api yang jelas. Pada gambut, proses ini terjadi karena tanah tersebut menyimpan tumpukan material organik dari vegetasi yang telah terakumulasi selama waktu yang sangat lama.
Dalam kondisi tertentu, material organik tersebut dapat menjadi bahan bakar ketika mengering. Ketika terbakar, api dapat merambat melalui lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Inilah yang membuat penanganan karhutla gambut memiliki tantangan yang berbeda dengan kebakaran hutan biasa.
Petugas pemadam mungkin sudah tidak melihat kobaran api di permukaan, tetapi bagian bawah tanah masih menyimpan panas dan terus mengalami proses pembakaran. Kondisi tersebut juga membuat api berpotensi muncul kembali ke permukaan ketika kondisi mendukung.
Baca Juga:
Mengapa Gambut Sulit Dipadamkan?
Masalah utama terletak pada lokasi api. Pada kebakaran permukaan, petugas dapat melihat sumber api dan mengarahkan upaya pemadaman secara langsung. Namun pada smouldering, sumber panas berada di dalam lapisan gambut sehingga tidak mudah diketahui dari permukaan.
Penelitian BRIN menyebut kebakaran smouldering gambut sebagai jenis kebakaran yang sulit dipadamkan dan dapat berlangsung dalam waktu lama. Karena itu, para ahli dan praktisi yang dikutip dalam penelitian tersebut merekomendasikan pendekatan pencegahan sebelum kebakaran terjadi.
Strategi penanganan dirangkum dalam tiga tahap, yaitu deteksi sejak dini, menemukan lokasi kebakaran, lalu menggunakan teknologi yang paling tepat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pada lahan gambut, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api terlihat di permukaan.
Indonesia sebenarnya sudah menggunakan berbagai metode untuk memantau dan mendeteksi dini karhutla, termasuk data hotspot, Fire Weather Index (FWI), dan Fire Danger Rating System (FDRS). Namun, para peneliti BRIN menilai metode berbasis simulasi fisik tersebut memiliki sejumlah kelemahan.
Karena itu, mereka mengeksplorasi penggunaan machine learning untuk meningkatkan kemampuan sistem pengurangan risiko bencana karhutla, khususnya smouldering pada gambut.
Gagasan yang ditawarkan penelitian tersebut adalah impact-based learning, yakni pendekatan pembelajaran mesin yang diarahkan untuk mendukung pengurangan risiko bencana. Dengan memanfaatkan data dan pola yang tersedia, sistem berbasis deteksi kebakaran diharapkan dapat membantu memberikan informasi mengenai potensi dan dampak kebakaran secara lebih dini.
Namun, penelitian ini merupakan konsep pengembangan, bukan bukti bahwa AI saat ini sudah mampu mendeteksi seluruh kebakaran gambut bawah permukaan secara otomatis. Peneliti justru mengusulkan desain konseptual untuk pengembangan sistem tersebut di masa depan.
Fenomena smouldering membuat penanganan karhutla gambut tidak sesederhana memadamkan api yang terlihat. Ada kemungkinan permukaan sudah tampak aman, sementara proses pembakaran masih berlangsung di bawahnya. Karena itu, pemantauan setelah pemadaman menjadi sangat penting.
Petugas perlu memastikan bahwa sumber panas benar-benar telah hilang, terutama di area gambut yang mengalami kebakaran. Temuan ini juga menjelaskan mengapa karhutla di lahan gambut dapat menjadi persoalan berkepanjangan.
Kebakaran tidak hanya berlangsung secara horizontal di permukaan, tetapi dapat bergerak melalui lapisan material organik di bawah tanah. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius mengingat karhutla 2026 yang meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa penanganan karhutla gambut membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api terlihat. Deteksi dini dan pencegahan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana kebakaran lahan gambut di Indonesia.
Sumber penelitian ini adalah Eko Widi Santoso, Hammam Riza, Agus Kristijono, Dian Nuraini Melati, dan Firman Prawiradisastra, dengan judul “Machine Learning Application in Response to Disaster Risk Reduction of Forest and Peatland Fire: Impact-Based Learning of DRR for Forest, Land Fire and Peat Smouldering,” yang diterbitkan di Majalah Ilmiah Pengkajian Industri, Vol. 14 No. 3, hlm. 183-196 pada 13 September 2023.





Komentar
Belum ada komentar.