Telset.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkapkan potensi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam industri antariksa global. Pernyataan ini disampaikan dalam perayaan 50 tahun satelit Indonesia di Jakarta, Rabu (8/7/2026), menegaskan posisi strategis negara di sektor yang tengah bertumbuh pesat.
Menurut Arif Satria, potensi ini menjadi perhatian serius pemerintah dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Hal ini didorong oleh fakta bahwa antariksa merupakan salah satu sektor yang diprediksi akan bertumbuh secara global di masa mendatang.
“Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara yaitu posisi geografis di sekitar garis khatulistiwa. Keunggulan ini yang memberikan efisiensi peluncuran (ke luar angkasa) yang lebih tinggi sehingga menjadikan Indonesia memiliki potensi strategis sebagai salah satu pusat kegiatan peluncuran satelit di kawasan,” kata Satria.
Keunggulan geografis ini menjadi fondasi utama bagi ambisi Indonesia di sektor antariksa. Posisi di garis khatulistiwa memberikan efisiensi peluncuran yang lebih tinggi dibandingkan negara lain, menjadikan Indonesia calon kuat pusat peluncuran satelit regional.
Tiga Dimensi Pengembangan Industri Antariksa
Pemerintah, melalui RPJPN, telah merumuskan tiga dimensi utama dalam pengembangan industri antariksa. Ketiganya adalah space economy, space sustainability, dan space defense yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan.
Dari dimensi space economy, Indonesia berpandangan bahwa pertumbuhan industri antariksa harus membuka peluang ekonomi baru. Hal ini mencakup manufaktur satelit, peluncuran aplikasi berbasis data antariksa, dan berbagai layanan hilir lainnya.
Sementara dari sisi space sustainability, pemerintah memandang pentingnya menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Tren global peluncuran satelit yang meningkat meninggalkan sampah antariksa (debris) yang perlu diantisipasi.
Dimensi space defense juga menjadi bagian krusial. Penguasaan teknologi dan aset strategis di ruang angkasa dinilai perlu untuk memperkuat ketahanan dan keamanan nasional.
Ketiga dimensi ini bisa dijawab oleh Indonesia berkat posisi geografis negara kepulauan yang dekat garis khatulistiwa. Posisi ini membuat Indonesia memiliki letak strategis untuk mengorbitkan teknologi ruang angkasa seperti satelit dan menciptakan peluang ekonomi baru.
“Keunggulan geografis ini harus kita transformasikan menjadi keunggulan teknologi, keunggulan ekonomi, dan keunggulan geopolitik,” tegas Arif Satria.
Komitmen BRIN dan Dampak Ekonomi
BRIN berkomitmen memanfaatkan keunggulan Indonesia untuk memberikan manfaat baru bagi kemajuan bangsa. Tidak hanya melalui riset, BRIN juga berupaya mendorong inovasi lain seperti mendukung pertumbuhan talenta di sektor antariksa.
“BRIN tidak hanya membangun kapasitas riset, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem industri antariksa nasional yang mampu menciptakan investasi, lapangan kerja berketerampilan tinggi, meningkatkan daya saing industri nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi antariksa global,” jelas Satria.
Langkah BRIN ini sejalan dengan perkembangan industri antariksa global yang semakin kompetitif. Berbagai perusahaan seperti SpaceX dan T-Mobile terus berinovasi, sementara negara-negara lain juga berlomba menguasai teknologi antariksa.
Indonesia sendiri memiliki modal kuat untuk bersaing di kancah global. Posisi geografis yang strategis ditambah komitmen pemerintah melalui RPJPN menjadi landasan kokoh untuk mewujudkan visi sebagai pemimpin industri antariksa.
Perayaan 50 tahun satelit Indonesia menjadi momentum penting untuk merefleksikan pencapaian dan merencanakan langkah ke depan. Dengan potensi yang ada, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain utama di industri antariksa global.





Komentar
Belum ada komentar.