📑 Daftar Isi

Ilustrasi ribuan burung layang-layang api terbang di atas kabel listrik di Yogyakarta

Burung Bisa Terbang 10 Bulan Tanpa Mendarat, Ini Buktinya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Burung layang-layang biasa mampu terbang tanpa henti selama hampir 10 bulan.
  • Studi dari Universitas Lund, Swedia (2016) mengkonfirmasi temuan ini.
  • Tiga ekor burung terdeteksi terbang 10 bulan penuh saat migrasi.
  • Kunci adaptasi: bentuk tubuh aerodinamis dan efisiensi energi.
  • Burung diduga tidur sambil terbang di ketinggian 2-3 km.

Telset.id – Seekor burung layang-layang biasa mampu terbang tanpa henti selama hampir 10 bulan penuh. Fakta ini bukan sekadar spekulasi, melainkan hasil riset yang dikonfirmasi oleh tim peneliti dari Universitas Lund, Swedia pada tahun 2016.

Meskipun ahli ornitologi asal Wales, Ronald Lockley, telah menduga kemampuan ini pada tahun 1970-an, baru pada tahun 2016 lah dugaan tersebut terbukti secara ilmiah. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini melacak 13 burung layang-layang biasa dewasa dengan memasang alat pencatat data kecil yang dilengkapi akselerometer untuk merekam aktivitas terbang mereka.

Para peneliti juga memasang sensor tingkat cahaya untuk mengetahui lokasi burung-burung tersebut. Beberapa burung dilacak selama beberapa tahun saat mereka bermigrasi dari Swedia ke selatan Sahara pada musim dingin dan kembali lagi.

Hasil Riset: 99,5% Waktu di Udara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung layang-layang biasa menghabiskan sebagian besar waktunya di udara. Burung-burung yang dilacak secara konsisten hanya berada di darat selama dua bulan dalam setahun, khususnya untuk berkembang biak. Meskipun beberapa burung kadang-kadang mendarat untuk periode singkat dalam 10 bulan sisanya, mereka tetap menghabiskan lebih dari 99,5% waktu mereka untuk terbang.

Yang paling mencengangkan, tiga ekor burung layang-layang terdeteksi tetap berada di udara selama 10 bulan penuh masa migrasi mereka. Pencapaian ini sangat mengesankan mengingat ukuran burung yang cukup kecil, hanya seberat sekitar 40 gram.

Baca Juga:

Rahasia di Balik Penerbangan Tanpa Henti

Para peneliti menduga bahwa perbedaan antara burung yang terbang jauh dan yang mendarat mungkin terletak pada kondisi bulu mereka. Burung yang mendarat belum berganti bulu sayap, sedangkan burung yang tetap berada di udara sepanjang waktu telah berganti bulu dan mendapatkan bulu terbang baru.

“Apakah mereka berganti bulu atau tidak dapat menunjukkan perbedaan kecil dalam kondisi umum atau beban parasit mereka, dan menjelaskan perilaku terbang masing-masing burung dalam spesies tersebut,” jelas penulis studi Anders Hedenström dalam sebuah pernyataan yang dirilis saat itu.

Lalu, bagaimana burung sekecil itu bisa tetap berada di udara begitu lama? Terbang jelas membutuhkan energi besar, namun burung layang-layang biasa telah beradaptasi untuk menggunakan energi yang relatif sedikit selama penerbangan panjang mereka.

“Burung layang-layang biasa telah berevolusi menjadi penerbang yang sangat efisien, dengan bentuk tubuh yang ramping dan sayap yang panjang dan sempit, menghasilkan gaya angkat dengan biaya rendah,” kata Hedenström kepada Nature.

Bentuk tubuh yang aerodinamis ini membantu mereka menggunakan lebih sedikit energi, meskipun mereka tetap bisa mendapatkan dorongan cepat dari serangga yang juga berada di udara. Adaptasi evolusioner ini mirip dengan bagaimana beberapa teknologi modern dirancang untuk efisiensi maksimal.

Tidur Sambil Terbang

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: bagaimana mereka tidur? Kemungkinan besar, burung layang-layang melakukannya sambil terbang. “Setiap hari, saat senja dan fajar, burung layang-layang biasa naik hingga ketinggian sekitar dua hingga tiga kilometer. Mungkin mereka tidur selama meluncur menurun, tetapi kami tidak yakin,” teori Hedenström.

Fenomena ini menunjukkan betapa kompleksnya adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya. Kemampuan terbang tanpa henti selama hampir 10 bulan adalah bukti nyata dari evolusi yang sempurna. Studi ini juga membuka wawasan baru tentang batas kemampuan biologis, sebuah topik yang mungkin akan menarik minat para pengamat sains.

Implikasi dari riset ini sangat luas, terutama dalam memahami pola migrasi burung dan bagaimana mereka bertahan hidup di alam liar. Data yang dikumpulkan dari studi ini menjadi referensi penting bagi para ahli biologi dan ornitologi di seluruh dunia.

[CONTENT_END]

Komentar

Belum ada komentar.