📑 Daftar Isi

GMO AI & Robotics Trading humanoid ambulance pictured at a Tokyo launch event in front of a GMO sign.

GMO Luncurkan Humanoid Ambulance Pertama di Tokyo

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • GMO Internet Group meluncurkan "humanoid ambulance" pertama di Jepang, beroperasi di Tokyo mulai September 2026
  • Van perawatan ini membawa peralatan diagnostik, suku cadang, alat perbaikan, dan engineer ke lokasi robot humanoid yang rusak
  • Jika tak bisa diperbaiki di lokasi, satu humanoid cadangan di dalam kendaraan siap menggantikan unit yang rusak
  • Layanan hanya mencakup humanoid yang dikerahkan GMO AI & Robotics Trading (GMO AIR), dengan penugasan kasus per kasus
  • Desain interior dan eksterior dikerjakan Yasumichi Morita dari GLAMOROUS, dengan lightbar ungu dan teks "Humanoid Ambulance"

Telset.id – GMO Internet Group meluncurkan layanan yang disebut sebagai “humanoid ambulance” pertama di Jepang. Kendaraan ini mulai beroperasi di jalanan Tokyo pada September 2026 untuk melakukan perbaikan di tempat ketika robot humanoid mengalami kerusakan saat bekerja. Layanan ini hanya melayani unit humanoid yang dioperasikan oleh GMO AI & Robotics Trading (GMO AIR), dengan penugasan yang diputuskan secara kasus per kasus.

Kendaraan ini berbentuk van perawatan yang membawa peralatan diagnostik, suku cadang, alat perbaikan, dan sejumlah engineer ke lokasi robot yang berhenti beroperasi. Jika robot tidak dapat diperbaiki di pinggir jalan, tersedia satu humanoid cadangan di dalam kendaraan untuk langsung menggantikan unit yang rusak. Sementara itu, unit yang bermasalah diangkut kembali ke basis perbaikan GMO di Humanoid Lab, Shibuya, Tokyo.

Saat ini hanya ada satu unit ambulance yang ditempatkan di kantor pusat GMO di Tokyo. Karena itu, layanan ini tidak digunakan untuk merespons semua robot yang rusak, melainkan terbatas pada humanoid yang dikerahkan oleh GMO AIR. GMO AIR sendiri merupakan perusahaan yang sama di balik humanoid yang bekerja sebagai petugas penanganan bagasi di sebuah bandara Tokyo.

Alasan di Balik Layanan Humanoid Ambulance

GMO menyatakan bahwa layanan ambulance ini lahir setelah humanoid yang rusak harus dikirim jauh untuk diperbaiki, sehingga menimbulkan gangguan layanan. “Belajar dari pengalaman itu, kami mencetuskan ide untuk menyediakan humanoid pengganti,” ujar CEO GMO AIR, Tomohiro Uchida.

Senada dengan itu, engineer GMO AIR, Shota Takizawa, menyebut layanan semacam ini akan dibutuhkan ketika humanoid semakin populer. “Ketika humanoids become more popular, this kind of service will be needed,” kata Takizawa dalam sebuah acara pers yang diliput Euronews.

Dari sisi tampilan, interior dan eksterior ambulance dirancang oleh desainer Yasumichi Morita dari firma Tokyo, GLAMOROUS. Ia memodelkan tampilan kendaraan ini berdasarkan kendaraan darurat dari berbagai negara. Bagian eksteriornya dilengkapi lightbar ungu di atap serta teks “Humanoid Ambulance”.

Posisi GMO dan Target Pemerintah Jepang

Bisnis induk GMO bergerak di bidang infrastruktur internet seperti domain dan hosting. Unit robotikanya tidak memproduksi robot sendiri, melainkan menjual kembali perangkat keras dari Unitree dan produsen lain, lalu menjual layanan di sekitar mesin tersebut. GMO saat ini menjalankan uji coba mesin buatan Unitree di Haneda dalam kolaborasi dengan JAL Ground Service hingga 2028.

Langkah ini berjalan seiring target pemerintah Jepang. Pada April 2026, pemerintah Jepang menerbitkan AI Robotics Strategy yang menargetkan lebih dari 30 persen pangsa pasar robot global dan industri domestik sekitar US$135 miliar pada 2040.

Satu van dengan tampilan mencolok memang tidak akan berdampak besar pada angka tersebut. Namun GMO jelas memposisikan ambulance ini sebagai solusi yang dibangun lebih awal dari kebutuhan, yakni cara mengumpulkan pengalaman perbaikan lapangan sebelum humanoid cukup umum untuk menuntutnya.

Bagi GMO, layanan ini juga memperkuat model bisnisnya yang bertumpu pada layanan di sekitar perangkat keras, bukan pada produksi robot. Pendekatan serupa terlihat di sektor lain, seperti pengembangan baterai sodium-ion yang mulai dipasang pada mobil produksi massal.

Sementara itu, perdebatan soal peran AI dan otomasi dalam pekerjaan kreatif maupun operasional terus berlangsung. Sejumlah figur industri mengangkat isu ini, termasuk James Cameron yang menyoroti keterbatasan AI generatif dalam menciptakan karya orisinal.

Di sisi lain, adopsi teknologi juga mendorong kebiasaan baru bagi pengguna. Google AI Mode, misalnya, diuji untuk mendukung digital detox dan aktivitas analog, sejalan dengan upaya mengurangi screen time.

Dengan hanya satu unit yang beroperasi di Tokyo, skala layanan humanoid ambulance GMO saat ini masih terbatas. Namun keberadaannya menandai satu hal yang jelas: perawatan dan penggantian unit menjadi bagian dari perhitungan operasional ketika humanoid mulai dipakai untuk pekerjaan nyata.

GMO AI & Robotics Trading humanoid ambulance pictured at a Tokyo launch event in front of a GMO sign.

GMO AIR juga menyediakan video terkait layanan ini:

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.