📑 Daftar Isi

Ilustrasi satelit dengan bidikan crosshair melambangkan senjata orbital Space Force AS.

Space Force AS Konfirmasi Senjata Orbital Aktif di Angkasa

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pentagon konfirmasi Space Force AS operasikan senjata on-orbit aktif
  • Jenderal Douglas Schiess sebut angkasa medan pertempuran dan tulang punggung joint force
  • Detail senjata dirahasiakan, hanya dikisahkan lewat operator "Specialist Gray"
  • Platform diduga non-fisik seperti jammer sinyal atau pemancar gelombang mikro
  • Muncul sebelum permintaan dana tambahan $71 miliar untuk 2027
  • Bisa jadi penyesuaian anggaran tertinggi cabang militer AS sejak 1952

Telset.id – Pentagon secara resmi mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan platform senjata aktif berbasis angkasa. Kepala operasi antariksa US Space Force, Jenderal Douglas Schiess, menyatakan bahwa Guardian saat ini mengoperasikan senjata on-orbit yang mampu mempertahankan joint force dari serangan berbasis angkasa. Konfirmasi ini menandai perubahan besar dalam doktrin pertahanan antariksa AS, sekaligus memicu perdebatan soal anggaran militer yang diminta Space Force untuk 2027.

Pernyataan tersebut disampaikan Schiess dalam pidato bertajuk “State of the Space Force” pada Selasa, seperti dilaporkan Space.com. Ini menjadi kali pertama Pentagon secara definitif mengakui keberadaan senjata yang beroperasi di orbit, bukan sekadar sistem pendukung berbasis darat. “Biar saya perjelas: hari ini, Guardian mengoperasikan senjata on-orbit yang dapat mempertahankan joint force terhadap serangan yang dimungkinkan oleh angkasa,” kata Schiess. “Angkasa adalah medan pertempuran sekaligus tulang punggung joint force kami.”

Pernyataan itu menegaskan bahwa domain antariksa tidak lagi dipandang sebagai wilayah netral untuk komunikasi, navigasi, dan pengawasan. Bagi AS, orbit kini menjadi ruang operasional militer penuh. Konfirmasi ini juga mempertegas posisi Space Force sebagai cabang militer yang memiliki peran tempur langsung, bukan hanya penyedia layanan pendukung bagi Angkatan Udara, Angkatan Darat, atau Angkatan Laut.

Detail Senjata Orbital Masih Dirahasiakan

Meski mengonfirmasi keberadaan senjata on-orbit, Schiess tidak memberikan rincian apa pun soal jenis, kemampuan, maupun lokasi platform tersebut. Ia justru memilih berbagi kisah operasional tentang seorang operator Space Force bernama “Specialist Gray”. Menurut Schiess, Gray tetap bertahan di posnya saat sirene alarm merah berbunyi dan rudal yang masuk menargetkan lokasinya. Ia disebut melindungi pasukan, meniadakan kemampuan lawan, dan memberikan efek angkasa hingga komandannya harus menariknya secara fisik dari konsol menuju tempat aman.

Dalam kisah tersebut, Schiess menyebut Gray mengunci target, mengoptimalkan sistem senjatanya, dan melancarkan perang elektromagnetik terhadap lawan yang gigih. Elemen deskriptif itu, seperti dicatat Space.com, dapat mengarah pada jenis platform non-fisik seperti jammer sinyal atau pemancar gelombang mikro. Namun hingga kini belum ada kepastian jenis senjata yang dioperasikan “Specialist Gray”.

Ketidakjelasan detail ini meninggalkan ruang tafsir soal arah pengembangan persenjataan antariksa AS. Yang jelas, narasi yang dibangun Schiess menempatkan operator manusia sebagai elemen kunci dalam operasi senjata orbital, bukan sekadar sistem otonom. Pendekatan ini sejalan dengan tren pengembangan teknologi pertahanan yang tetap menempatkan pengendalian manusia di pusat pengambilan keputusan.

Anggaran Rp1.100 Triliun dan Permintaan Tambahan

Pengumuman senjata orbital ini muncul tepat sebelum Space Force mengajukan permintaan dana tambahan lebih dari $71 miliar untuk 2027. Angka itu menambah alokasi lebih dari $100 miliar yang sudah diterima cabang militer tersebut. Jurnalis independen Ken Klippenstein melaporkan bahwa permintaan tersebut, jika disetujui, akan menjadi penyesuaian anggaran satu tahun tertinggi yang pernah diterima cabang militer AS sejak 1952.

Konfirmasi senjata on-orbit tampaknya dimaksudkan untuk memperkuat dasar permintaan anggaran tersebut. Dengan menyatakan bahwa angkasa adalah medan pertempuran, Space Force memposisikan diri sebagai lini pertahanan yang membutuhkan pembiayaan besar. Publik dan pembuat kebijakan kini menghadapi pertanyaan soal urgensi dan transparansi pengeluaran militer di domain antariksa.

Jika merujuk pada laporan tersebut, total alokasi yang sudah diterima Space Force melewati $100 miliar, dan permintaan tambahan $71 miliar akan menempatkannya sebagai penerima lonjakan anggaran terbesar dalam lebih dari tujuh dekade. Besaran ini menunjukkan skala ambisi AS dalam membangun kehadiran militer permanen di orbit.

Pengumuman ini juga menjadi penanda bahwa persaingan antariksa tidak lagi hanya soal eksplorasi sipil. Berbagai pengembangan kendaraan dan teknologi antariksa terus berjalan, termasuk misi Starship terbaru dan proyek kargo nirawak dari Poseidon Aerospace. Di sisi lain, peluncuran kendaraan seperti Tesla Roadster menunjukkan bahwa teknologi antariksa juga merambah sektor komersial.

Konfirmasi Pentagon ini menutup era ketika senjata berbasis angkasa hanya ada dalam imajinasi. Sejak debut novel Garrett P Serviss berjudul “Edison’s Conquest of Mars” pada 1898, perang berbasis angkasa memang hanya menjadi fiksi. Kini, AS menyatakan bahwa platform tersebut sudah beroperasi. Dampaknya, negara lain yang memiliki ambisi antariksa menghadapi tekanan untuk merespons, baik melalui pengembangan kemampuan serupa maupun melalui jalur diplomasi.

Bagi pengamat industri pertahanan dan teknologi antariksa, pernyataan Schiess menjadi titik balik. Domain orbit resmi masuk sebagai medan tempur yang diakui secara terbuka oleh militer AS. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada keputusan anggaran 2027 dan sejauh mana rincian senjata on-orbit ini akhirnya diungkap ke publik.

Ilustrasi satelit dengan bidikan crosshair.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.