Ilustrasi ruang angkasa dengan sendok berisi gula yang ditemukan di molecular cloud Bima Sakti

Gula Raspberry Terdeteksi di Awan Gas Antariksa Bima Sakti

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Astronom temukan erythrulose, gula raspberry, di molecular cloud dekat pusat Bima Sakti
  • Penemuan pertama gula di ruang antarbintang yang dipublikasikan di Nature Astronomy
  • Erythrulose dapat membentuk ribonucleotides, bahan penyusun RNA
  • Hingga 50 juta ton erythrulose diperkirakan turun ke Bumi saat kehidupan primitif
  • Temuan buka kemungkinan kehidupan berkembang di dunia lain

Telset.id – Astronom menemukan jejak erythrulose, gula yang sama ditemukan dalam raspberry dan kiwi, di awan gas raksasa dekat pusat galaksi Bima Sakti. Temuan ini menjadi bukti pertama keberadaan gula di ruang antarbintang dan membuka kemungkinan baru bagi asal-usul kehidupan di luar Bumi.

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy ini mengungkap bahwa erythrulose terdeteksi di sebuah molecular cloud, wilayah padat gas dan debu yang menjadi pabrik kimia alami di alam semesta. Para peneliti menggunakan dua teleskop radio di Spanyol untuk mengamati wilayah tersebut dengan presisi tinggi.

“Deteksi ini memberi tahu kita bahwa gula-gula ini lebih umum dari yang kita duga sebelumnya,” ujar Izaskun Jiménez-Serra, astrokimiawan dari Centre for Astrobiology Spanyol dan penulis utama studi tersebut, kepada The Guardian. “Ini membuka kemungkinan bagi kehidupan untuk berkembang di dunia lain dengan cara serupa seperti yang terjadi di Bumi.”

Penemuan ini menjadi terobosan besar dalam astrobiologi. Gula seperti ribose dan deoxyribose membentuk tulang punggung RNA dan DNA, sementara erythrulose sendiri dapat membentuk ribonucleotides, bahan penyusun RNA. Para peneliti memperkirakan hingga 50 juta ton erythrulose bisa saja turun ke Bumi saat kehidupan masih dalam masa primitifnya.

Ilustrasi ruang angkasa dengan sendok berisi gula yang ditemukan di awan gas antarbintang

Asal-usul gula di Bumi masih menjadi misteri. Ribose dan glukosa telah ditemukan di asteroid, dan beberapa ilmuwan percaya bahwa senyawa ini pertama kali dibawa ke planet kita oleh batuan luar angkasa. Namun, pertanyaan tentang di mana gula-gula ini terbentuk di luar angkasa masih belum terjawab.

Molecular cloud menjadi kandidat utama. Wilayah padat ini dapat bertindak sebagai “pabrik kimia,” menggabungkan atom-atom berbeda untuk membentuk zat yang lebih kompleks. Lebih dari 340 molekul telah terdeteksi di medium antarbintang sejauh ini, dan penemuan erythrulose menambah daftar panjang molekul organik di luar angkasa.

Tim peneliti menggunakan teknik laser-focused untuk memotong kebisingan dari wilayah padat tersebut. Sebuah tim lain baru-baru ini mengembangkan cara untuk menciptakan kembali tanda cahaya gula di luar angkasa menggunakan laser, yang memungkinkan fokus yang lebih tajam dalam pencarian molekul organik.

Yang mengejutkan, awan gas tersebut dipenuhi erythrulose yang terdiri dari empat atom karbon. Namun, hampir tidak ada tanda-tanda gula yang terbuat dari tiga atom karbon. Temuan ini bertentangan dengan keyakinan umum bahwa gula terbentuk secara bertahap dengan menambahkan satu atom karbon setiap kali.

Tim peneliti menduga bahwa gula dengan empat atom karbon terbentuk dari dua molekul organik lain yang masing-masing mengandung sepasang karbon. Ini menunjukkan proses pembentukan molekul yang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Untuk mengalami hujan organik seperti ini, saya pikir itu tampaknya menjadi langkah kunci,” kata Jiménez-Serra kepada The Guardian. “Material itu bisa berkontribusi pada sup prebiotik di mana biomolekul pertama disintesis.”

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi pencarian kehidupan di luar Bumi. Jika gula dapat terbentuk secara alami di molecular cloud, maka potensi kehidupan untuk muncul di planet lain menjadi lebih besar. Ini juga memperkuat teori bahwa bahan-bahan dasar kehidupan mungkin tersebar luas di alam semesta.

Para astronom kini akan melanjutkan penelitian untuk mencari molekul organik lainnya di molecular cloud yang sama. Keberhasilan deteksi erythrulose membuka jalan bagi penemuan gula-gula lain yang mungkin lebih kompleks, termasuk yang menjadi dasar pembentukan RNA dan DNA.

Penemuan ini juga mendorong pengembangan teknik deteksi yang lebih sensitif. Dengan kemampuan untuk mengidentifikasi molekul organik di ruang antarbintang, para ilmuwan dapat memetakan distribusi bahan-bahan dasar kehidupan di seluruh galaksi.

Bagi publik, temuan ini mengingatkan bahwa alam semesta menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang kita bayangkan. Gula yang kita konsumsi sehari-hari ternyata juga ada di luar angkasa, menunggu untuk ditemukan oleh teleskop-teleskop generasi mendatang.

Penelitian ini merupakan langkah maju dalam memahami asal-usul kehidupan di Bumi dan potensi kehidupan di planet lain. Dengan setiap penemuan baru, gambaran tentang bagaimana kehidupan bisa muncul dari materi sederhana menjadi semakin jelas.

Para peneliti berharap temuan ini akan mendorong lebih banyak studi tentang kimia antarbintang dan peran molecular cloud dalam menyediakan bahan-bahan dasar kehidupan. Seperti yang dikatakan Jiménez-Serra, “Ini membuka kemungkinan bagi kehidupan untuk berkembang di dunia lain.”

Dengan teknologi yang terus berkembang, kita mungkin akan segera menemukan lebih banyak molekul organik di luar angkasa, membawa kita selangkah lebih dekat untuk menjawab pertanyaan fundamental: apakah kita sendirian di alam semesta?

Penemuan erythrulose di molecular cloud dekat pusat Bima Sakti adalah bukti bahwa alam semesta tidak hanya dingin dan gelap, tetapi juga manis dalam cara yang tak terduga.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.