Telset.id – Danone tengah mengembangkan teknologi pemindaian iris mata berbasis smartphone untuk mendeteksi defisiensi zat besi pada anak secara cepat dan non-invasif. Inovasi ini menjadi angin segar bagi orang tua yang selama ini kesulitan melakukan skrining anemia karena prosedur tes darah yang menakutkan bagi anak.
Bagi banyak orang tua, pemeriksaan kadar zat besi anak sering kali menjadi prosedur yang menakutkan karena melibatkan tes darah yang invasif. Namun, masa depan deteksi dini anemia kini ada di genggaman tangan.
Danone tengah merintis terobosan teknologi berbasis smartphone yang mampu memindai iris mata untuk mendeteksi status defisiensi zat besi secara instan dan tanpa rasa sakit. Inovasi yang lahir dari Indonesia ini menjadi bukti nyata bagaimana integrasi sains dan teknologi digital mampu mengubah lanskap kesehatan masyarakat dengan cara yang jauh lebih inklusif dan efisien.
Masalah anemia dan defisiensi zat besi pada anak-anak bukanlah isu sepele, dan sayangnya masih sering kurang terdiagnosis. Data menunjukkan bahwa 1 dari 4 anak di Indonesia mengalami anemia akibat defisiensi besi. Di tingkat regional, angkanya mencapai 11 juta anak di bawah usia lima tahun di Asia Tenggara dengan kondisi serupa.
Padahal, masa pertumbuhan awal adalah jendela intervensi yang sangat krusial untuk menentukan masa depan kesehatan jangka panjang seorang anak.
Bruno Chevot, President Danone Asia-Pacific Zone menekankan bahwa langkah pertama dalam mengatasi masalah ini adalah kesadaran berbasis data yang akurat. Tanpa kemampuan untuk melihat masalahnya secara dini, upaya intervensi sering kali terlambat dilakukan.
“Hal pertama yang penting adalah jika Anda tidak tahu, maka Anda tidak bisa bertindak,” ujarnya dalam Exclusive Media Briefing & Wawancara Manajemen Global Danone di Jakarta, pada Senin (06/07/2026).
Menurutnya, proses skrining terhadap jutaan bayi dan orang tua sangatlah vital agar mereka dapat memahami potensi risiko kekurangan zat besi sejak dini. Menurutnya, pendekatan dengan teknologi digital akan lebih cepat, masif dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Inovasi Deteksi Anemia Tanpa Rasa Sakit
Upaya Danone dalam memerangi anemia sebenarnya tidak dilakukan secara instan. Melalui SGM yang telah hadir sejak 1954 melawan malnutrisi, langkah pencegahan terus berevolusi.
Saat ini, program edukasi dan deteksi digital seperti aplikasi e-Nutri telah menjangkau 1,25 juta penerima manfaat di Indonesia, serta menjadi bagian dari inisiatif global Iron Up yang menjangkau lebih dari 15 negara.
Chevot menjelaskan bahwa perusahaan sedang menyiapkan teknologi yang memanfaatkan smartphone untuk memindai iris mata. Dengan teknologi ini, orang tua nantinya bisa mengetahui status defisiensi zat besi anak secara presisi, cepat, dan yang terpenting tidak perlu tindakan medis (non-invasive).
Teknologi pemindaian iris sebenarnya bukan hal baru di dunia teknologi. Sebelumnya, Samsung sempat mengembangkan fitur iris scanner pada perangkat flagship mereka. Kini, teknologi serupa mulai dimanfaatkan untuk sektor kesehatan yang jauh lebih berdampak.
Baca Juga:
Berikut beberapa alasan mengapa inovasi ini menjadi angin segar bagi masyarakat:
- Praktis dan tanpa biaya: Karena hanya menggunakan ponsel yang sudah dimiliki banyak orang, teknologi ini dirancang agar tidak memakan biaya bagi penggunanya.
- Aksesibilitas tinggi: Metode ini menghilangkan hambatan bagi orang tua yang kesulitan mengunjungi rumah sakit hanya untuk sekadar melakukan pemeriksaan rutin.
- Dukung peran orang tua: Dengan hasil skrining yang cepat dan mudah didapat, orang tua bisa lebih sigap dalam memberikan penanganan yang tepat di saat yang paling dibutuhkan oleh anak.
Kebanggaan Lokal untuk Dunia
Teknologi pemindai iris mata ini bukanlah inovasi yang diimpor dari luar negeri, melainkan sebuah karya yang dirancang dan dikembangkan langsung di Indonesia, untuk masyarakat Indonesia. Hal ini menempatkan Tanah Air pada posisi yang sangat strategis sebagai beacon atau mercusuar inovasi bagi Danone secara global.
“Kami tidak hanya berinovasi dan merancang performa untuk Indonesia di Indonesia, tetapi kami juga berinovasi di Indonesia untuk seluruh dunia baru,” lanjut Chevot.
Kesuksesan teknologi seperti iron biotics di Indonesia telah membuktikan bahwa sains yang dirancang di sini memiliki relevansi yang kuat untuk menjawab tantangan kesehatan serupa di berbagai negara, mulai dari wilayah Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.
Langkah Danone menjadi cerminan bahwa kolaborasi antara sains, nutrisi, dan teknologi digital adalah kunci untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Dengan komitmen untuk terus berinvestasi pada riset dan pengembangan, perusahaan berusaha menunjukkan bahwa kinerja ekonomi harus berjalan beriringan dengan kemajuan sosial.





Komentar
Belum ada komentar.