Telset.id – Jaringan Gedung Putih diduga menjalankan perangkat lunak yang memungkinkan pihak luar menyewa akses ke jaringan kepresidenan Amerika Serikat hanya dengan “beberapa dolar”. Temuan ini berasal dari firma keamanan Layer3 Intel dan Synthient yang mendeteksi aktivitas residential proxy di jaringan Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan Krebs on Security dan The Register.
Residential proxy membuka jalan bagi siapa pun untuk menyewa akses ke alamat IP rumah dan mengarahkan lalu lintas internet melalui alamat tersebut. Cara ini memungkinkan pengguna menyembunyikan lokasi asli aktivitas mereka. Sejumlah aplikasi dan ekstensi browser menyertakan software development kit (SDK) pihak ketiga yang menempatkan node proxy di perangkat pengguna, terlepas dari apakah pengguna menyadarinya atau tidak. Layanan pihak ketiga kemudian dapat menjual akses ke residential proxy tersebut.
Menurut firma keamanan siber Spur, residential proxy memang bisa dipakai secara sah untuk keperluan seperti verifikasi iklan dan pengujian quality assurance. Namun, pelaku jahat juga memanfaatkannya untuk melewati kontrol geolokasi dan filter pertahanan. Peretas telah menggunakan residential proxy untuk berbagai aktivitas berbahaya, termasuk membentuk botnet dan melakukan account takeover.
Aktivitas Proxy Terdeteksi Hampir Setiap Malam
Di Gedung Putih, Layer3 Intel menemukan 28 layanan residential proxy yang mengarahkan lalu lintas keluar dari jaringan pada periode 5 Oktober hingga 3 November. Aktivitas tersebut biasanya terjadi antara pukul 17.00 hingga tengah malam waktu ET.
“Pola itu menunjukkan seseorang, bukan jaringan Wi-Fi tamu publik: seseorang yang rutin berada di jaringan Gedung Putih hingga larut malam, yang perangkatnya terinfeksi SDK proxy,” kata Layer3, dikutip dari laporan tersebut.
SDK yang dimaksud kemungkinan terkait dengan aplikasi watch party Rave, menurut Synthient. Synthient menyebut aplikasi tersebut “mengemas 12 proxy SDK ke dalam platform”. Synthient juga menemukan “sejumlah perangkat Windows 10 dan Windows 11 di jaringan Gedung Putih yang melakukan beacon ke penyedia proxy yang dikenal seperti Geonode, Infatica, dan Mellowtel.”
Seperti dicatat Krebs on Security, Infatica adalah layanan proxy yang didirikan oleh Vladimir Fomenko, pemilik King Servers. King Servers sebelumnya dikaitkan dengan serangan siber tahun 2016 terhadap sistem pemilihan umum di Illinois dan Arizona.
Layer3 memperingatkan bahwa residential proxy tersebut bersifat “akses publik”. “Siapa pun bisa mendapatkannya dengan mendaftar ke layanan residential proxy publik, membayar beberapa dolar, dan mengirim permintaan melaluinya,” demikian peringatan Layer3.
Baca Juga:
Risiko di Balik SDK Pihak Ketiga
Temuan ini menyoroti persoalan yang lebih luas soal bagaimana perangkat pribadi yang terhubung ke jaringan sensitif dapat menjadi pintu masuk bagi layanan proxy komersial. Perangkat yang terinfeksi SDK proxy tidak hanya membahayakan pemiliknya, tetapi juga organisasi tempat perangkat itu terhubung.
Dalam kasus Gedung Putih, aktivitas proxy yang terjadi pada malam hari mengindikasikan keterlibatan perangkat pribadi yang dibawa ke lingkungan jaringan kepresidenan. Layer3 menilai pola tersebut konsisten dengan kebiasaan seseorang yang berada di jaringan hingga larut malam, bukan berasal dari jaringan Wi-Fi tamu publik.
Keterkaitan dengan aplikasi Rave menambah dimensi baru. Aplikasi watch party yang mengemas banyak proxy SDK menunjukkan bagaimana perangkat lunak konsumen dapat membawa komponen pihak ketiga yang tidak transparan bagi penggunanya. Synthient menyebut ada 12 proxy SDK yang dibundel ke dalam platform tersebut.
Ancaman yang ditimbulkan bukan sekadar teoretis. Residential proxy telah lama dipakai untuk menyembunyikan asal lalu lintas berbahaya, termasuk dalam pembentukan botnet dan pengambilalihan akun. Kemampuan menyewa akses hanya dengan beberapa dolar membuat layanan ini mudah dijangkau berbagai pihak.
Peringatan Layer3 bahwa residential proxy di jaringan Gedung Putih bersifat “akses publik” menjadi poin krusial. Artinya, siapa pun yang mengetahui keberadaan layanan tersebut dapat mendaftar, membayar sejumlah kecil uang, dan mengarahkan permintaan melalui jaringan kepresidenan.
Keterkaitan Infatica dengan Vladimir Fomenko dan King Servers menambah catatan historis tersendiri. King Servers pernah dikaitkan dengan serangan siber pada sistem pemilihan di Illinois dan Arizona pada 2016, sebagaimana dicatat Krebs on Security.
Hingga laporan ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Gedung Putih mengenai temuan tersebut. Yang jelas, temuan Layer3 Intel dan Synthient menunjukkan bahwa aktivitas proxy di jaringan sensitif dapat berlangsung tanpa disadari, dan bahwa perangkat yang terinfeksi SDK pihak ketiga dapat menjadi jalur akses yang dijual murah ke publik.





Komentar
Belum ada komentar.