Telset.id – Rencana ambisius Elon Musk dan Jeff Bezos membangun data center di orbit Bumi kini menuai peringatan keras dari ilmuwan dan aktivis lingkungan. Mereka menilai proyek raksasa tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan permanen pada atmosfer dan langit malam.
Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, bersama Blue Origin milik Jeff Bezos, telah mengajukan izin untuk meluncurkan ribuan hingga jutaan satelit baru. Tujuannya bukan sekadar internet, melainkan untuk mengoperasikan pusat data berbasis komputasi awan di luar angkasa.
SpaceX telah meminta izin ke Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS untuk menempatkan sebanyak satu juta satelit bertenaga surya. Sementara itu, Blue Origin melalui aplikasi Project Sunrise meminta otoritas untuk mengoperasikan sebanyak 51.600 satelit pada ketinggian 500 hingga 1.800 kilometer di atas Bumi.
Langkah ini muncul karena pusat data AI di darat dinilai sudah menghabiskan terlalu banyak listrik dan air. Namun, solusi yang ditawarkan justru menghadirkan ancaman baru yang lebih besar.
Petisi untuk Hentikan Izin Data Center Orbit
Sejumlah organisasi lingkungan dan mantan pejabat antariksa kini mendesak FCC untuk menghentikan sementara persetujuan proyek ini. Earthjustice, DarkSky International, Public Employees for Environmental Responsibility, dan Environment America telah mengajukan petisi resmi ke FCC.
Mereka meminta regulator melakukan peninjauan lingkungan yang lebih luas sebelum memberikan lampu hijau. Kekhawatiran mereka tidak hanya soal sampah antariksa yang memenuhi orbit Bumi, tetapi juga dampak langsung terhadap atmosfer.
Peluncuran roket dan masuknya kembali wahana antariksa ke atmosfer dapat melepaskan karbon hitam, aluminium oksida, logam, dan zat berbahaya lainnya ke atmosfer atas. Para ilmuwan masih berupaya memahami dampak peningkatan konsentrasi zat tersebut terhadap lapisan ozon dan iklim global.
Dampak Nyata bagi Astronomi
Para astronom sudah lama menghadapi masalah akibat pantulan cahaya matahari dari satelit yang melintas di gambar teleskop. Starlink menjadi contoh paling menonjol setelah ekspansi cepatnya. SpaceX sempat bereksperimen dengan permukaan lebih gelap, pelindung matahari, dan orientasi pesawat ruang angkasa yang berbeda untuk mengurangi dampak tersebut.
Namun, masalah ini tetap berlanjut. Sebuah studi tahun 2026 berdasarkan 1.938 observasi menemukan bahwa 92% dari pengamatan satelit operasional konstelasi Leo milik Amazon melampaui batas kecerahan yang direkomendasikan International Astronomical Union (IAU) untuk melindungi penelitian astronomi. Sekitar 25% di antaranya cukup terang untuk melampaui ambang batas pelestarian tampilan visual langit malam.
European Southern Observatory (ESO) mencatat sudah ada lebih dari 14.000 satelit di orbit. Model terbaru mereka memperingatkan bahwa konstelasi yang saat ini diusulkan bisa mendorong angka tersebut melampaui 1,7 juta, yang berpotensi menciptakan jejak satelit yang meluas dan meningkatkan kecerahan langit secara keseluruhan.
Baca Juga:
ESO berpendapat bahwa menjaga populasi satelit tetap di bawah sekitar 100.000 unit dengan kecerahan yang cukup redup dapat membantu melestarikan astronomi modern. Angka ini sangat kontras dengan rencana SpaceX dan Blue Origin yang mencapai jutaan unit.
Meskipun komputasi orbital dapat memecahkan beberapa masalah nyata terkait penggunaan daya dan lahan untuk AI, mengisi langit dengan ratusan ribu atau bahkan jutaan mesin justru menciptakan masalah baru yang mungkin jauh lebih sulit untuk diperbaiki.
Para pegiat lingkungan menekankan bahwa sebelum Strategi SpaceX dan Blue Origin direalisasikan, diperlukan kajian komprehensif. Mereka khawatir dampak buruk terhadap atmosfer dan penelitian ilmiah akan terasa dalam jangka panjang.
Kekhawatiran ini muncul di tengah berbagai isu yang melibatkan kedua perusahaan antariksa tersebut. Seperti isyarat merger Tesla-SpaceX yang sempat membuat saham melonjak, kini tantangan terbesar justru datang dari dampak lingkungan proyek ambisius mereka.
Para ilmuwan menekankan bahwa keputusan untuk menggelar jutaan satelit data center harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Risiko terhadap lapisan ozon, iklim, dan kemampuan manusia untuk mempelajari alam semesta bisa menjadi harga yang terlalu mahal untuk dibayar demi efisiensi komputasi AI.





Komentar
Belum ada komentar.