Telset.id – Observatorium sinar-X NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, diprediksi memasuki kembali atmosfer Bumi pada 4 November 2026 sekitar pukul 03.30 waktu Eastern, berdasarkan prediksi Angkatan Bersenjata AS. Wahana antariksa berbobot 3.200 pon itu kembali ke Bumi 22 tahun setelah diluncurkan, setelah upaya NASA untuk menyelamatkannya pada Juli 2026 gagal. Prediksi waktu tersebut memiliki ketidakpastian hingga 11 jam, sehingga waktu pasti masuknya Swift ke atmosfer masih bisa berbeda.
Kegagalan misi penyelamatan menjadi titik akhir bagi teleskop luar angkasa yang jauh melampaui masa operasionalnya. NASA meluncurkan Swift Boost pada awal Juli 2026 untuk menarik observatorium ke orbit yang lebih tinggi, dengan harapan Swift masih bisa mengumpulkan data selama beberapa tahun ke depan. Misi senilai US$30 juta itu mengandalkan wahana robotik LINK milik Katalyst Space untuk merapat ke observatorium dan menariknya kembali ke orbit yang lebih tinggi.
Namun LINK mengalami masalah kontrol sikap yang membuatnya tidak mampu mengendalikan orientasi di ruang angkasa. Akibatnya, wahana tersebut terus berputar tanpa kendali, yang juga memicu gangguan komunikasi. Beberapa minggu setelah masalah itu muncul, NASA memutuskan menghentikan misi penyelamatan tersebut.
Administrator NASA Jared Isaacman pada Agustus 2026 menjelaskan bahwa kesulitan yang berujung pada pembatalan misi disebabkan oleh masalah pada sistem kendali wahana. Masalah itu membuat LINK tidak bisa dijaga tetap terorientasi dan stabil di ruang angkasa. Kegagalan ini menutup peluang Swift untuk bertahan lebih lama di orbitnya.
Penyebab Orbit Swift Menurun
Swift diluncurkan pada 20 November 2004 sebagai observatorium luar angkasa yang dilengkapi tiga teleskop. Wahana ini dirancang terutama untuk mendeteksi dan mempelajari ledakan sinar gamma, salah satu ledakan paling energetik di alam semesta. Swift akan menemukan peristiwa tersebut dan mengirimkan posisinya ke observatorium di seluruh dunia untuk penelitian lebih lanjut.
Observatorium itu dirancang beroperasi beberapa tahun di orbit rendah Bumi, tetapi jauh melampaui masa pakai yang diperkirakan. Pada 2024, peningkatan aktivitas Matahari memanaskan dan memperluas lapisan atas atmosfer Bumi, sehingga meningkatkan hambatan terhadap satelit dan mempercepat penurunannya. Tanpa sistem propulsi yang mampu mengoreksi orbitnya, usia Swift di orbit pun mendekati akhir.
Pada 26 Oktober 2026, NASA mengumumkan bahwa Swift berada kurang dari 170 mil dari permukaan Bumi, orbit yang sangat rendah untuk sebuah satelit. Menurut badan tersebut, teleskop di dalamnya tidak lagi dapat mempertahankan pengamatan stabil terhadap target astronominya. Swift melakukan pengamatan terakhirnya pada 20 Oktober 2026, lalu tim operasi yang berbasis di Pennsylvania State University mengakhiri status operasionalnya.
Selama masa operasinya, Swift mengamati lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma, atau ledakan paling dahsyat di alam semesta yang mencapai kecerahan puncak dalam waktu kurang dari dua detik. Sebelum Swift, kilatan energi singkat itu tidak dapat dideteksi tepat waktu. Observatorium ini juga mengumpulkan data tentang 1.400 ledakan supernova, asteroid, komet, bintang yang tercabik lubang hitam, serta aktivitas lain di ruang angkasa. Data dari Swift berkontribusi pada lebih dari 7.000 makalah penelitian.
Baca Juga:
Shawn Domagal-Goldman, direktur Divisi Astrofisika di markas NASA di Washington, menyatakan bahwa Swift memberikan hasil investasi yang luar biasa dan bertahan bagi negara. Wahana itu dirancang untuk misi utama dua tahun, tetapi produktif lebih dari 10 kali lipat dari periode tersebut. Menurutnya, Swift berperan besar dalam memajukan pemahaman tentang alam semesta yang berubah dan menjadi bagian dari revolusi astrofisika yang menunjukkan betapa pentingnya pengamatan respons cepat bagi seluruh komunitas.
Domagal-Goldman menambahkan bahwa Swift meninggalkan arsip pengamatan multiwavelength yang luar biasa, yang akan menjadi bahan penemuan baru selama beberapa dekade mendatang. Pernyataan itu menegaskan bahwa kontribusi ilmiah Swift tidak berakhir bersamaan dengan masuknya wahana ke atmosfer Bumi.
Risiko Serpihan dan Wilayah Dampak
Sebagian besar tubuh Swift diperkirakan hancur saat memasuki atmosfer. Namun beberapa komponen berpotensi bertahan dan mencapai permukaan Bumi. Brad Cenko, ilmuwan utama NASA untuk misi tersebut, mengatakan kepada Associated Press bahwa sebagian komponen berbahan tungsten dan bagian cermin bisa selamat dari proses tersebut.
Dean Sladen, manajer kualitas dan insinyur kedirgantaraan di Accu Components, menyebutkan bahwa komponen yang paling mungkin bertahan adalah enam reaction wheels berat, roda gila berputar yang digunakan Swift untuk mengarahkan dirinya, bersama bagian teleskop yang lebih kuat seperti lensa dan cermin. Menurutnya, hanya segenggam kecil fragmen hangus yang diperkirakan mencapai permukaan, dan tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop.
NASA menyatakan sebagian besar Swift akan terbakar di atmosfer, tetapi beberapa komponen mungkin bertahan dan mencapai tanah. Badan tersebut menegaskan risiko serpihan yang selamat melukai siapa pun sangat kecil. NASA dan Angkatan Bersenjata AS memantau jatuhnya teleskop dan akan memperbarui prediksi jika diperlukan.
Mengenai lokasi jatuhnya serpihan, wilayah luas di Afrika, Australia, India, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dan Selatan berada dalam zona masuk kembali yang dipantau Space Force. Jika ada perhitungan yang lebih presisi, informasi tersebut belum dipublikasikan. Menurut Sladen, kemungkinan besar seluruh sisa Swift akan berakhir di laut.
Sladen juga menyoroti persyaratan puing orbital NASA sendiri, yang menyatakan risiko korban jiwa akibat serpihan yang selamat tidak boleh melebihi satu banding 10.000. Ia menilai kemungkinan besar pekerjaan penilaian risiko itu telah diselesaikan, tetapi tidak dipublikasikan. Menurutnya, publikasi semacam itu akan memberikan gambaran faktual yang jelas kepada masyarakat, meskipun risikonya hampir pasti sangat kecil.
Perbedaan keterangan muncul pada prediksi waktu masuknya Swift. Angkatan Bersenjata AS memperkirakan wahana itu kembali ke atmosfer sekitar 03.30 waktu Eastern pada 4 November 2026, sementara Space Force memperkirakan Swift kemungkinan jatuh pada atau sekitar Jumat, 6 November 2026. Kedua perkiraan tersebut memiliki ketidakpastian, dan NASA menyatakan akan memperbarui prediksi sesuai kebutuhan.
Bagi publik, informasi terpenting adalah bahwa sebagian besar wahana akan terbakar di atmosfer dan risiko serpihan yang mencapai permukaan sangat kecil. NASA dan otoritas terkait tetap memantau jalur jatuhnya Swift hingga waktu masuk kembali tiba. Sementara itu, arsip data yang ditinggalkan Swift disebut akan terus menjadi bahan penelitian astrofisika selama beberapa dekade ke depan.
[ META_DESCRIPTION]
NASA Swift Observatory diprediksi masuk atmosfer Bumi 4 November 2026 setelah misi penyelamatan senilai US$30 juta gagal. Simak penyebab dan risiko serpilannya.





Komentar
Belum ada komentar.