Telset.id – Miliarder teknologi Peter Thiel menggelontorkan dana sebesar 140 juta dolar AS atau sekitar Rp22,4 triliun ke Panthalassa, sebuah startup asal Amerika Serikat yang bernilai 1 miliar dolar AS. Startup ini berencana membangun armada data center terapung di Samudra Pasifik Utara untuk mengatasi penolakan pembangunan data center di daratan.
Investasi ini diumumkan di tengah kondisi di mana lebih dari setengah data center yang direncanakan akan dibuka pada tahun 2026 mengalami penundaan parah atau pembatalan. Data center menjadi infrastruktur vital untuk mendukung pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) yang saat ini menjadi penopang utama perekonomian Amerika Serikat.
Dalam pengumuman investasinya, mantan CEO PayPal itu menggunakan bahasa yang terdengar futuristik untuk mempromosikan proyek tersebut. “Masa depan menuntut lebih banyak daya komputasi daripada yang bisa kita bayangkan. Solusi ekstra-terestrial bukan lagi fiksi ilmiah. Panthalassa telah membuka perbatasan lautan,” ujar Thiel.
Rencana dan Target Operasional
Menurut laporan Fortune, perusahaan tersebut berencana untuk mengerahkan armada data center eksperimental di Samudra Pasifik Utara pada tahun ini. Pada tahun 2027, Panthalassa menargetkan peluncuran instalasi komersial pertamanya berupa data center terapung yang akan ditenagai oleh gelombang laut.
Meski ambisius, kelayakan proyek ini dalam skala besar masih dipertanyakan. Microsoft sebelumnya telah menutup data center laut eksperimentalnya pada tahun 2024. Meskipun proyek Microsoft tersebut menjanjikan, proyek itu merupakan yang paling mendekati realisasi ambisi Thiel di Amerika Serikat. Namun, proyek penelitian serupa dilaporkan sedang berlangsung di China.
Keuntungan dan Tantangan Teknis
Profesor teknik elektro dan komputer Universitas Florida, Md Jahidul Islam, menjelaskan kepada Fortune bahwa “keuntungan utama dari memiliki data center di bawah air adalah pendinginan gratis dan isolasi dari lingkungan variabel di darat.” Faktor-faktor ini secara teoretis dapat menghasilkan data center yang lebih hemat sumber daya.
Namun, data center terapung juga menghadirkan serangkaian tantangan baru di laut lepas, seperti akses untuk pemeliharaan dan kerentanan terhadap fenomena akustik. Seperti yang diungkapkan Islam, “dua keuntungan ini juga bisa menjadi kewajiban.”
Proyek ini lahir dari situasi di mana pembangunan data center di daratan semakin sulit karena penolakan dari masyarakat lokal. Data center dianggap penting untuk pertumbuhan AI yang menjadi penyelamat ekonomi AS dari berbagai masalah. Bagi para miliarder teknologi, penolakan dari komunitas lokal menjadi hambatan serius dalam rencana ekspansi infrastruktur komputasi mereka.
Panthalassa, dengan pendanaan segar dari Thiel, berharap dapat menjadi solusi alternatif dengan memindahkan pusat data ke lautan. Konsep data center terapung ini menawarkan solusi atas konflik kepentingan antara kebutuhan infrastruktur AI dan keberatan masyarakat setempat terhadap pembangunan di daratan.
Ke depannya, keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada kemampuan Panthalassa untuk mengatasi tantangan teknis di laut terbuka. Isu seperti akses perawatan rutin dan perlindungan dari gangguan akustik menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum instalasi komersial diluncurkan pada 2027.
Dengan investasi miliaran dolar yang dipertaruhkan, dunia teknologi akan mengamati dengan saksama apakah konsep data center terapung ini benar-benar dapat berfungsi secara efektif dalam skala besar atau hanya akan menjadi proyek ambisius lainnya yang kandas di tengah jalan.





Komentar
Belum ada komentar.