Telset.id – Startup teknologi nuklir Ampera baru saja memperkenalkan modul reaktor nuklir cetak 3D skala penuh pertamanya yang diklaim sebagai yang pertama di dunia. Inovasi ini secara spesifik ditargetkan untuk mengatasi kebutuhan energi yang sangat besar dari pusat data kecerdasan buatan (AI).
Modul reaktor ini disebut sebagai “reaktor nuklir thorium subkritis, solid-state, buatan pabrik pertama di dunia”. Ampera merancang modul ini sebagai bagian dari Integrated Energy Architecture, sebuah sistem energi terintegrasi yang juga mencakup modul pemulihan panas buangan (Waste Heat Recovery).
Pendiri dan CEO Ampera, Brian Matthews, menyatakan bahwa terobosan ini menetapkan fondasi untuk produksi energi nuklir massal yang dibuat di pabrik. “Inti nuklir dan bejana tekan generasi berikutnya ini menjadi fondasi untuk energi nuklir yang dibuat di pabrik dan diproduksi secara massal,” ujar Matthews dalam siaran pers perusahaan.

Teknologi yang digunakan menunjukkan jalur komersial yang jelas untuk menghadirkan teknologi nuklir baru ke pasar dengan cara yang dipercepat. Ampera yakin pendekatan ini dapat menjadi solusi krisis energi yang dihadapi oleh pusat data AI di seluruh dunia.
Keunggulan Teknologi Reaktor Thorium
Deskripsi produk Ampera yang cukup teknis mencerminkan betapa canggihnya reaktor nuklir ini. Sifat “subkritis” berarti bahan bakarnya tidak mencapai kritisitas dengan sendirinya, sehingga membutuhkan sumber eksternal untuk memulai proses fisi. Ini secara inheren lebih aman karena mengurangi kemungkinan reaksi tak terkendali yang dapat menyebabkan kehancuran inti reaktor.
Reaktor ini juga memiliki inti “solid-state” yang tidak memiliki bagian bergerak. Fitur ini membuat perawatan dan pengoperasian menjadi lebih sederhana dibandingkan reaktor nuklir konvensional yang memiliki banyak komponen mekanis.
Konsep “buatan pabrik” (factory-built) memungkinkan modul nuklir ini diproduksi relatif cepat dalam jalur produksi. Hal ini memudahkan penskalaan untuk produksi massal dan pengangkutan menggunakan kontainer pengiriman, sehingga secara signifikan memangkas biaya produksi dan membuatnya lebih terjangkau.
Yang paling menarik, reaktor ini menggunakan thorium sebagai bahan bakar utamanya. Thorium lebih melimpah daripada uranium, sehingga lebih mudah dan lebih murah untuk didapatkan. Thorium juga tidak bersifat fisil secara inheren, membutuhkan sumber neutron eksternal untuk menghasilkan protactinium-233 yang kemudian meluruh menjadi U-233.
Meskipun thorium masih bisa digunakan untuk senjata nuklir, prosesnya relatif lebih sulit. World Nuclear Association menyatakan bahwa thorium “terkadang dipromosikan sebagai memiliki kredensial non-proliferasi yang sangat baik.”
Target Pasar dan Aplikasi
Ampera menargetkan output 30MWe untuk sistem lengkapnya menggunakan turbin siklus Brayton CO2 superkritis sirkuit tertutup miliknya sendiri. Keunggulan pendekatan modular ini adalah pelanggan dapat membeli modul sesuai kebutuhan mereka.
Pelanggan dapat memasangkan modul turbin dengan modul Waste Heat Recovery untuk menambah produksi daya di pusat data. Alternatifnya, mereka dapat memasang unit Conventional-Fueled Power Generation sebagai sumber daya utama di suatu lokasi. Begitu modul nuklir tersedia, operator dapat dengan mudah menggantinya untuk mengurangi jejak karbon mereka.
“Reaktor kami dibangun untuk pasar yang paling membutuhkan daya: pusat data AI, pertahanan, industri, dan maritim,” kata Matthews. “Kami berharap menjadi perusahaan pertama yang mengindustrialisasi tenaga nuklir buatan pabrik dengan jadwal penyebaran jangka pendek.”
Meskipun startup ini meluncurkan modul nuklir yang sudah jadi, mereka belum menyebutkan tentang menyalakannya dan menghasilkan listrik. Hal ini kontras dengan Valar Atomics yang baru-baru ini menyalakan mikroreaktor nuklir Ward 250 dan menghasilkan listrik untuk menyalakan desktop Nvidia RTX Spark. CEO Valar Atomics, Isiah Taylor, juga mengumumkan kemitraan dengan Nvidia untuk menyalakan pusat data 30MW menggunakan teknologinya.
Ampera belum memberikan jadwal pasti kapan mereka mulai memproduksi daya dengan solusinya. Namun, mereka tampaknya percaya diri dapat menyebarkannya dalam berbagai aplikasi dalam waktu dekat.
Perkembangan ini menjadi angin segar di tengah meningkatnya kebutuhan energi pusat data AI. Inovasi seperti ini juga menarik perhatian para pelaku industri, termasuk startup mantan karyawan Tesla yang tengah mengembangkan solusi robotik untuk efisiensi operasional.
Krisis energi yang dihadapi pusat data AI mendorong berbagai pihak mencari solusi alternatif. Vishal Sikka Bangun Startup AI Services juga menunjukkan bagaimana ekosistem AI terus berkembang dengan pesat, menciptakan kebutuhan infrastruktur yang semakin besar.
Kehadiran reaktor thorium cetak 3D Ampera menawarkan harapan baru bagi industri yang haus energi. Dengan pendekatan modular, aman, dan relatif terjangkau, teknologi ini berpotensi menjadi game changer dalam memenuhi kebutuhan listrik pusat data AI di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.