Ilustrasi roket SpaceX yang sedang meluncur ke luar angkasa

Roket SpaceX Tabrak Bulan, Ilmuwan Pantau Dampaknya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tahap atas roket SpaceX akan menabrak Bulan dengan kecepatan 8.690 kph
  • Tabrakan menghasilkan energi setara tiga ton TNT
  • NASA dan Korea Selatan memantau dampaknya dengan dua orbiter
  • Material yang terlontar bisa terlihat melalui teleskop dari Bumi
  • Penelitian bertujuan memahami bahaya puing bagi astronot masa depan
  • AS dan China berlomba mendaratkan manusia di Bulan kembali

Telset.id – Tahap atas roket SpaceX yang mengirimkan dua pendarat lunar pada awal 2025 diprediksi akan menabrak permukaan Bulan beberapa bulan setelah misinya berakhir. Peristiwa ini menjadi perhatian para ilmuwan karena menjadi salah satu dari sedikit momen di mana objek menghantam Bulan sambil tetap diamati.

Berdasarkan laporan Japan Today, puing roket berukuran besar tersebut diperkirakan akan menghantam Bulan dengan kecepatan sekitar 5.400 mph atau 8.690 kph, yang setara dengan tujuh kali kecepatan suara. Meskipun tabrakan puing dengan Bulan mungkin tampak seperti peristiwa yang tidak signifikan bagi kebanyakan orang, para ilmuwan dan astronom mengawasinya dengan saksama.

a SpaceX rocket launching into space

## Pengamatan dari Dua Orbiter

NASA’s Lunar Reconnaissance Orbiter dan orbiter lunar Danuri milik Korea Selatan akan mengambil foto sebelum dan sesudah lokasi dampak. Danuri juga akan terbang dekat dengan roket SpaceX yang bermasalah beberapa menit sebelum memulai penurunan akhirnya.

NASA sebelumnya telah sengaja menabrakkan objek di Bulan. Hal ini dilakukan dengan bagian roket Saturn V dan pendarat lunar yang dibuang untuk melakukan eksperimen seismik selama misi Apollo pada tahun 70-an. NASA mengulangi eksperimen ini pada 2009 dengan misi LCROSS, di mana probe ditabrakkan di dekat kutub selatan Bulan untuk mencari es.

## Energi Setara Tiga Ton TNT

Yang menarik bagi para peneliti kali ini adalah bagaimana dampak tersebut akan memengaruhi permukaan Bulan. Tabrakan ini diperkirakan akan menghasilkan energi yang setara dengan sekitar tiga ton TNT. Meskipun ini mungkin tampak seperti jumlah energi yang sangat besar, kita kemungkinan tidak dapat melihat tabrakan sebenarnya dari Bumi.

Namun, karena Bulan tidak memiliki angin atau atmosfer, material yang terlontar bisa membentang bermil-mil dan terlihat melalui teleskop. “Gravitasi di Bulan rendah dan tidak ada angin untuk meniup debu,” kata Benjamin Fernando dari Los Alamos National Laboratory. “Sebagian alasan ketertarikan kami pada peristiwa ini adalah untuk mengetahui seberapa besar bahaya dampak puing bagi astronot masa depan.”

## Risiko bagi Misi Masa Depan

Puing antariksa bukanlah masalah besar bagi Bulan seperti halnya bagi planet kita saat ini, tetapi hal ini mungkin berubah dalam waktu dekat. Amerika Serikat dan China terlibat dalam perlombaan antariksa untuk menentukan siapa yang akan menjadi yang pertama mendaratkan manusia di Bulan lagi setelah lebih dari setengah abad.

Akan tiba saatnya operator tidak bisa hanya meninggalkan puing roket mereka dalam peluruhan orbit, agar tidak menabrak permukiman dan pusat data mereka di masa depan. Pengamatan terhadap peristiwa tabrakan ini menjadi langkah awal untuk memahami risiko tersebut.

## Misi Luar Angkasa yang Terus Berkembang

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas eksplorasi luar angkasa. Berbagai misi ke Bulan terus digalakkan oleh sejumlah negara dan perusahaan swasta. Kehadiran puing antariksa di orbit Bulan menjadi perhatian baru yang perlu diantisipasi.

Para ilmuwan berharap data dari pengamatan tabrakan ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana dampak puing memengaruhi permukaan Bulan. Informasi ini penting untuk perencanaan misi berawak di masa depan, termasuk pembangunan permukiman permanen di Bulan.

Dengan semakin banyaknya misi yang dikirim ke Bulan, pengelolaan puing antariksa akan menjadi aspek penting dalam eksplorasi luar angkasa. Pengamatan terhadap peristiwa ini menjadi langkah awal untuk memahami risiko tersebut.

Low earth orbit space debris

Para peneliti akan menggunakan data dari dua orbiter untuk mempelajari dampak tabrakan ini terhadap permukaan Bulan. Hasilnya diharapkan dapat membantu perencanaan misi luar angkasa di masa depan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan astronot dan infrastruktur di Bulan.

Tabrakan roket SpaceX dengan Bulan ini menjadi pengingat bahwa aktivitas luar angkasa memiliki konsekuensi yang perlu diperhitungkan. Dengan semakin banyaknya misi yang dikirim ke Bulan, pengelolaan puing antariksa akan menjadi aspek penting dalam eksplorasi luar angkasa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.