Telset.id – Rusia berencana melipatgandakan produksi roket Angara hingga empat kali lipat per tahun dalam satu dekade ke depan. Rencana ambisius ini ternyata bergantung pada mesin perkakas impor, dan mayoritas di antaranya buatan China.
Dokumen perencanaan internal yang diperoleh peneliti menunjukkan ekspansi ini membutuhkan modernisasi pabrik secara menyeluruh. Tanpa mesin-mesin dari China, Rusia diprediksi kesulitan membangun empat roket per tahun, alih-alih hanya satu seperti saat ini.
Ketergantungan pada peralatan China ini menjadi sorotan utama di tengah sanksi Barat yang membatasi ekspor teknologi ke Rusia. Meski pangsa China hanya sekitar 10,5 persen dari total daftar peralatan, perannya sangat krusial dalam rantai produksi.
Dominasi China pada Peralatan Kunci
Dari 541 peralatan yang tercantum dalam rencana pengadaan, 477 unit buatan Rusia dan 57 unit berasal dari pemasok China. Dua mesin lainnya dari Bulgaria. Namun, angka itu berubah drastis ketika diukur berdasarkan kepentingan teknologi masing-masing mesin.
Berdasarkan dokumen internal, pemasok China menyumbang 28,2 persen dari inti teknologi seluruh proyek. Di bengkel pengerjaan logam saja, lebih dari 47 persen peralatan yang dibutuhkan berasal dari produsen China, bukan buatan dalam negeri.
Angka finansial menunjukkan cerita serupa. Lebih dari 84 persen dari total anggaran peralatan sebesar 3,62 miliar rubel (sekitar 44,71 juta dolar AS) mengalir ke inti teknologi tersebut. Secara keseluruhan, Khrunichev—perusahaan di balik produksi Angara—berencana mengalokasikan hampir 900 juta rubel (sekitar 11,29 juta dolar AS) untuk peralatan buatan China.
Sekitar 10 produsen menyumbang sebagian besar pengeluaran tersebut, dan beberapa di antaranya juga menjual mesin ke pembeli di Eropa dan Amerika. Fakta ini menunjukkan bahwa perusahaan yang sama diuntungkan dari pasar Barat yang mendukung Ukraina, sekaligus membantu memodernisasi perangkat keras militer Rusia.

Celah Sanksi dan Aliran Peralatan
Beberapa perusahaan ini mengikuti tren yang menguat sejak konflik antara Rusia dan Ukraina dimulai pada 2022. Peralatan penempaan berat dan mesin hidrolik termasuk dalam pembatasan ekspor Uni Eropa ketika pembeli yang dituju berada di Rusia.
Washington juga telah menjatuhkan sanksi kepada produsen mesin pres hidrolik berat Rusia, salah satunya perusahaan bernama Pressmash, pada 2023. Namun, di bawah kode pabean yang sama, impor mesin perkakas buatan China oleh UE masih mencapai 207 juta euro (sekitar 238 juta dolar AS) pada 2025.
Impor tersebut naik lagi 17,6 persen pada enam bulan pertama 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sanksi terhadap satu pemasok China pun kemungkinan tidak akan menghentikan aliran peralatan ini, karena mesin serupa diproduksi oleh beberapa kompetitor.
Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kehilangan akses ke pelanggan Eropa dan Amerika akan lebih besar daripada keuntungan memasok Rusia. Sampai saat ini, belum ada jawaban pasti mengenai hal tersebut.
Baca Juga:
Roket Angara yang dibangun dengan peralatan China membawa satelit Kementerian Pertahanan Rusia. Para ahli Amerika mengklaim satelit-satelit ini dapat mengancam aset di orbit dan di darat. Sementara itu, para ahli Rusia menggambarkan wahana antariksa tersebut beroperasi “untuk kepentingan Kementerian Pertahanan Rusia.”
Perbedaan antara posisi resmi Moskow dan penilaian Washington ini telah berlangsung sejak konflik di Ukraina dimulai. Ketergantungan pada peralatan China menjadi celah yang dimanfaatkan Rusia untuk terus memodernisasi kemampuan luar angkasanya di tengah sanksi Barat.
Rusia juga tengah mengembangkan berbagai inovasi militer lainnya, termasuk kompas murah untuk drone guna melawan GPS jamming. Langkah-langkah ini menunjukkan strategi adaptif militer Rusia dalam menghadapi keterbatasan teknologi akibat sanksi internasional.
Dengan rencana peningkatan produksi yang masif ini, Rusia tampaknya berkomitmen penuh untuk memperkuat program luar angkasanya. Namun, ketergantungan pada pemasok China tetap menjadi titik rawan yang dapat dimanfaatkan dalam dinamika geopolitik ke depan.





Komentar
Belum ada komentar.