Telset.id – SK hynix dikabarkan tengah menjajaki produksi chip memori di Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Intel. Laporan terbaru Reuters menyebut kedua perusahaan kini berada dalam tahap pembicaraan eksploratif, langkah yang berpotensi meredakan kelangkaan memori global sekaligus menyeret raksasa chip asal Korea Selatan itu ke pusaran tarik-menarik kebijakan antara Washington dan Seoul.
Menurut laporan tersebut, ada dua skenario yang sedang dipertimbangkan. Pertama, SK hynix menyewa sebagian ruang di pabrik chip Intel di Ohio. Kedua, perusahaan membentuk usaha patungan bersama Intel dan sejumlah “perusahaan cloud besar” yang enggan disebutkan namanya dan tengah berupaya mengunci pasokan chip memori. Seluruh informasi ini berasal dari sumber yang mengetahui permasalahan tersebut, sehingga belum ada satu pun yang bersifat konfirmasi resmi.
Rencana tersebut juga disebut melengkapi ekspansi SK hynix di Indiana. Perusahaan baru saja memulai pembangunan pabrik pengemasan HBM di sana, hanya beberapa pekan setelah pencatatan sahamnya di Nasdaq yang bernilai US$26,5 miliar atau sekitar Rp 430 triliun. Ekspansi di Negeri Paman Sam itu sejalan dengan sejumlah langkah besar lain yang tengah dijalankan perusahaan, termasuk investasi dua pabrik di Korea Selatan.
Belum jelas apakah pembicaraan ini merupakan bagian dari hasil kunjungan Presiden Korea Selatan ke Silicon Valley, yang dilakukan dalam upaya mempercepat negosiasi antara perusahaan teknologi terkemuka Korea dan mitra-mitra mereka di Amerika Serikat. Namun, Ketua SK Group Chey Tae-won sebelumnya menyatakan sikapnya kepada wartawan pada Juli. “Saya rasa kita perlu membangun pabrik di Amerika Serikat. Jika memungkinkan, saya yakin kita harus membangunnya,” ujarnya seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Kabar ini langsung mendapat respons pasar. Setelah laporan itu beredar, saham Intel dan SK hynix sama-sama bergerak naik. Bagi Intel, kesepakatan semacam ini berpotensi membantu perusahaan keluar dari situasi yang tidak terlalu cerah. Intel mengumumkan investasinya di fasilitas Ohio pada 2022 dengan komitmen hingga US$100 miliar, tetapi produksi di situs tersebut yang semula dijadwalkan mulai 2025 kini mundur menjadi paling cepat 2030.
Tarikan Kepentingan Seoul dan Washington
Di balik peluang ekspansi itu, muncul kekhawatiran bahwa Seoul berpotensi menolak investasi semacam ini. Pemerintah Korea Selatan baru saja mengumumkan rencana investasi senilai US$520 miliar atau sekitar Rp 8.400 triliun untuk meningkatkan kapasitas produksi chip di dalam negeri dan menjaga daya saing negara itu dalam perlombaan AI.
Ada satu kerutan penting dalam rencana ini: apakah pemerintah Korea akan mengizinkan langkah tersebut. Hingga kini belum jelas chip memori apa persisnya yang ingin diproduksi SK hynix di Amerika Serikat. Namun, bila kesepakatan dengan Intel melibatkan memori canggih seperti HBM atau DRAM, pemerintah Korea Selatan berpotensi menentangnya karena teknologi tersebut dianggap sensitif.
Kementerian Perdagangan Korea Selatan menyatakan bahwa keputusan apa pun berada pada “kebijaksanaan penuh” SK hynix. Meski demikian, jika kesepakatan itu menyangkut “teknologi inti nasional”, maka akan tunduk pada peninjauan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Teknologi Industri negara tersebut.
Pada saat yang sama, Korea Selatan juga tengah bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk menyelesaikan komitmen investasi senilai US$350 miliar atau sekitar Rp 5.660 triliun ke Washington, guna mengurangi tarif atas barang-barang Korea. Dari jumlah tersebut, US$200 miliar atau sekitar Rp 3.230 triliun masih belum diputuskan akan dialokasikan untuk proyek apa.
Tekanan bertambah karena Menteri Perdagangan Amerika Serikat Howard Lutnick mengancam akan mengenakan tarif 100% kepada perusahaan teknologi Korea Selatan dan Taiwan apabila mereka tidak berkomitmen meningkatkan produksi chip di Amerika Serikat. Kondisi ini menempatkan SK hynix pada posisi yang berisiko, terutama karena harus menyeimbangkan tuntutan dari White House dan Blue House.
Baca Juga:
Rencana produksi di Amerika Serikat ini juga menjadi bagian dari dinamika persaingan di pasar memori yang semakin ketat. SK hynix tercatat terus memperkuat posisinya di segmen HBM, termasuk melalui langkah seperti penundaan hybrid bonding ke generasi HBM5. Di sisi lain, pesaing dari Tiongkok, CXMT, dikabarkan mulai menyaingi SK hynix di pasar RAM.
Membuat semikonduktor di Amerika Serikat jauh lebih mahal dibandingkan di Korea. Namun, SK hynix belakangan berada di bawah tekanan yang meningkat dari para pelanggannya serta berbagai pemerintah untuk memasok lebih banyak chip di tengah ledakan AI dan kelangkaan chip global. Pemerintah Korea sendiri telah mendesak SK hynix untuk membangun klaster baru fasilitas pembuatan chip di wilayah barat daya negara itu. Bulan lalu, perusahaan mengumumkan investasi senilai US$38 miliar untuk pabrik DRAM dan NAND baru di Korea.
Belum Ada Konfirmasi Resmi
Hingga saat ini, tidak ada satu pun dari kedua perusahaan yang mengonfirmasi rumor tersebut. SK hynix kepada Reuters menyatakan bahwa pihaknya “sedang meninjau berbagai langkah, termasuk mendirikan basis produksi tambahan, untuk memperkuat daya saing bisnis memorinya,” namun “belum ada hal yang ditetapkan pada tahap ini.”
Sementara itu, Intel menolak berkomentar mengenai permasalahan ini. Perusahaan hanya menyatakan bahwa pihaknya terus melanjutkan investasinya pada proyek Ohio, yang diperkirakan mulai beroperasi antara tahun 2030 dan 2031.
Posisi SK hynix di Amerika Serikat sendiri bukan hal baru. Perusahaan telah memulai pembangunan pabrik HBM pertama di Negeri Paman Sam, yang membawa produksi komponen AI kunci ke wilayah tersebut. Langkah itu menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas jejak manufakturnya di luar Korea Selatan, sejalan dengan ekspansi yang tengah berjalan di berbagai wilayah, termasuk melalui investasi pabrik Dalian.
Jika pembicaraan dengan Intel berbuah kesepakatan, SK hynix akan menjadi salah satu pemain memori utama yang memproduksi langsung di Amerika Serikat. Hal ini tidak hanya berdampak pada peta pasokan memori global, tetapi juga pada industri AI yang saat ini sangat bergantung pada ketersediaan HBM. Namun, sampai ada pernyataan resmi, seluruh rencana ini masih sebatas penjajakan yang dikategorikan sebagai pembicaraan eksploratif.
Yang jelas, posisi SK hynix kini berada di antara dua kepentingan besar. Di satu sisi, perusahaan didorong untuk memperluas kapasitas produksi di Amerika Serikat demi memenuhi permintaan pasar dan meredakan tekanan tarif. Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan tengah menggenjot investasi di dalam negeri agar tetap kompetitif dalam perlombaan AI global. Bagaimana SK hynix menyeimbangkan keduanya akan menentukan arah ekspansinya dalam beberapa tahun ke depan.

Ketua SK Group Chey Tae-won saat debut SK hynix di Nasdaq.





Komentar
Belum ada komentar.