📑 Daftar Isi

Satelit Star Catcher Protostar memancarkan berkas laser ke cubesat di orbit Bumi

Star Catcher Uji Laser Kirim Energi Antar Satelit via SpaceX

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Star Catcher meluncurkan prototipe Protostar via roket SpaceX untuk uji transmisi energi laser antar satelit
  • Jika berhasil, jadi pertama kali laser mengirim daya antar objek tak terikat di antariksa
  • Perusahaan raih pendanaan US$65 juta, hadiah US$30 juta dari US Space Force, dan 10 kontrak jual beli listrik
  • Uji darat catat rekor transmisi lebih dari 1 kilowatt, kalahkan rekor DARPA
  • Tantangan efisiensi, pelacakan, dan pengelolaan panas masih harus diatasi

Telset.id – Star Catcher, startup asal Jacksonville, Florida, bersiap meluncurkan sistem prototipe ke orbit menggunakan roket SpaceX untuk mentransmisikan energi ke satelit lain di antariksa. Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama laser mengirimkan energi antara dua objek tak terikat di ruang angkasa, sebuah capaian yang menandai babak baru teknologi laser antariksa.

Perusahaan menyiapkan satelit bernama Protostar, versi skala kecil dari satelit yang kelak ingin dioperasikan Star Catcher. Satelit ini akan meluncur bersama sebuah cubesat yang diluncurkan pada waktu bersamaan. Dalam demonstrasi tersebut, Star Catcher menggunakan teknologi pelacakannya untuk mengarahkan energi ke cubesat yang bergerak menjauh, lalu mengukur seberapa besar daya yang diterima dan membandingkannya dengan model perhitungan mereka.

Pendekatan Star Catcher bertumpu pada apa yang disebutnya power node, sebuah susunan yang berfungsi sekaligus sebagai pembangkit listrik tenaga surya dan saluran transmisi. Untuk menghasilkan energi, satelit perusahaan mengumpulkan sinar matahari melalui kumpulan lensa dan memurnikannya ke panjang gelombang cahaya yang diklaim Star Catcher mampu menyediakan daya hingga 10 kali lebih besar dibandingkan sinar matahari yang tersebar. Energi itu kemudian dipancarkan dalam bentuk berkas laser yang dapat diarahkan ke satelit yang membutuhkan daya.

Peluang Komersial dan Dukungan Pendanaan

Ada minat yang jelas terhadap tawaran Star Catcher. Perusahaan mengumumkan pendanaan sebesar US$65 juta pada awal tahun ini, dan meraih penghargaan senilai US$30 juta dari US Space Force. Star Catcher juga telah menandatangani 40 surat minat dari calon pembeli dan, yang lebih penting, 10 perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement yang bersifat kontrak jangka panjang.

CEO sekaligus salah satu pendiri Star Catcher, Andrew Rush, menyebut solusi perusahaannya sebagai jawaban atas kondisi di antariksa. “Tidak ada jaringan listrik di ruang angkasa,” ujarnya. “Semua orang hanya menjalani perjalanan berkemah kecil ini.” Pernyataan itu menggambarkan bagaimana satelit selama ini bergantung pada daya terbatas yang mereka bawa sendiri.

Dalam dunia di mana peluncuran menelan biaya ribuan dolar per kilogram berat, mengurangi ukuran baterai sembari menambah instrumen yang lebih berguna—atau dalam kasus pusat data antariksa, GPU—bisa mendatangkan keuntungan. Hal ini sejalan dengan tren industri yang tergambar dalam upaya Colossus 2 SpaceXAI, yang menunjukkan ambisi besar komputasi berbasis ruang angkasa.

Ada pula tanda optimisme bagi industri berbasis antariksa yang meluncur pada misi SpaceX yang sama dengan sistem Star Catcher: upaya pertama Google membangun pusat data berbasis ruang angkasa juga menumpang roket tersebut. Hal ini memperkuat narasi bahwa infrastruktur orbit tengah menjadi perhatian pemain besar teknologi.

Tantangan dan Rekam Jejak Teknologi

Star Catcher bukan pihak pertama yang menguji laser di antariksa. Naval Research Laboratory menyelesaikan eksperimen pada 2023, mengoperasikan laser antariksa untuk menghasilkan daya selama 100 hari. Namun, sistem itu merupakan unit tunggal dan berkasnya menempuh jarak kurang dari 5 kaki. Laser tersebut hanya beroperasi dengan efisiensi 11 persen, sebuah persoalan yang menurut Hanieh Fattahi, peneliti di Max Planck Institute for the Science of Light, masih perlu diatasi.

Fattahi juga menyebut sistem pelacakan, pengelolaan panas, dan memastikan peralatan dapat beroperasi di vakum dingin antariksa selama bertahun-tahun masih harus dituntaskan agar laser berbasis antariksa layak secara ekonomi. Ia sebelumnya menjelaskan bahwa meluncurkan perangkat keras dalam jumlah besar ke orbit dulu sangat mahal, sehingga menghasilkan daya di antariksa dan mentransmisikannya ke tempat lain jarang masuk akal secara praktis. Kini, biaya peluncuran yang menurun membuatnya lebih mungkin menghadirkan industri orbit yang mampu menyediakan energi semacam itu.

Peneliti juga telah mengeksplorasi bentuk lain tenaga surya berbasis antariksa, termasuk uji coba yang berhasil dilakukan ilmuwan Caltech untuk mentransmisikan tenaga surya melalui gelombang mikro kembali ke Bumi. Teknik tersebut dapat mentransmisikan lebih banyak energi, tetapi membutuhkan penerima berukuran besar untuk menangkapnya, sedangkan laser dapat mengenai target yang jauh lebih kecil. Persoalan efisiensi transmisi energi juga menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi antariksa lain, seperti yang dibahas dalam upaya AI otonom AstroForge untuk mengendalikan spacecraft.

Rekam jejak Star Catcher di darat memberi keyakinan tersendiri. Perusahaan telah melakukan uji berbasis antariksa atas teknologinya yang memungkinkan pelacakan satelit yang hendak ditransmisi energinya, dan tahun lalu mencatat rekor transmisi daya di darat, mengalahkan rekor yang dibuat DARPA. Uji tersebut mengirimkan lebih dari 1 kilowatt daya ke panel surya siap pakai—cukup untuk menyalakan sebuah microwave. Artinya masih ada jarak yang panjang untuk memberi daya pada satelit telekomunikasi, apalagi pusat data berbasis antariksa.

Rush menyebut Star Catcher masih berada di fase “merangkak”, tetapi sedang menuju kemampuan berjalan lalu berlari. Ia menargetkan satelit Star Catcher dapat menyediakan “layanan penyediaan daya komersial yang berarti di orbit sebelum akhir dekade ini”.

Gagasan menghasilkan tenaga surya di antariksa sendiri bukan hal baru. Ide itu muncul dalam karya fiksi ilmiah Isaac Asimov pada 1941, dan NASA mempelajarinya pada 1970-an. Kini, dengan biaya peluncuran yang menurun dan minat komersial yang tumbuh, ambisi tersebut kembali menemukan momentumnya.

Rush memandang apa yang dibangun perusahaannya sebagai transformasional bagi sektor antariksa, sebanding dengan peran kendaraan peluncuran yang dapat digunakan ulang. “Seiring kami menumbuhkan infrastruktur di antariksa, kami mulai membuatnya lebih ekonomis untuk menempatkan industri yang lebih besar dan lebih cakap di ruang angkasa,” ujarnya. Dinamika industri peluncuran yang terus berkembang juga terlihat dari persiapan uji terbang Starship yang menjadi penanda arah sektor ini.

Keberhasilan demonstrasi Protostar akan menjadi penentu apakah transmisi energi laser antar satelit dapat berpindah dari tahap pembuktian konsep menjadi layanan komersial yang nyata di orbit.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.