📑 Daftar Isi

Ilustrasi komet mendekati Bumi dengan atmosfer yang terbakar saat memasuki planet

Studi Cambridge: Komet Terlalu Ganas untuk Sebarkan Kehidupan di Bumi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi University of Cambridge di Scientific Reports menyimpulkan komet terlalu ganas saat masuk atmosfer Bumi untuk menyebarkan molekul kehidupan
  • Simulasi berfokus pada hidrogen sianida (HCN), molekul prebiotik yang umum ditemukan pada komet tata surya
  • Peneliti utama Richard Anslow menyebut peluangnya "satu dalam sejuta" karena butuh kecepatan, sudut, konsentrasi, dan waktu yang sempurna
  • HCN yang bertahan pun dinilai tidak cukup sebagai sumber bahan baku kimia prebiotik
  • Komet disebut mungkin menyemai molekul di Mars yang atmosfernya lebih tipis, tetapi tetap tidak pasti

Telset.id – Sebuah studi baru dari tim peneliti yang dipimpin University of Cambridge menyimpulkan bahwa komet terlalu ganas saat memasuki atmosfer Bumi untuk bisa menyebarkan molekul pembangun kehidupan. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Scientific Reports dan berpotensi mematahkan gagasan yang selama ini dianggap sebagai salah satu jalur utama asal-usul kehidupan di Bumi.

Selama ini, para ilmuwan menduga komet berperan penting dalam memicu kehidupan di Bumi dengan membawa molekul organik. Namun simulasi yang dilakukan tim Cambridge menunjukkan bahwa proses masuknya komet ke atmosfer Bumi terlalu brutal bagi blok pembangun kehidupan untuk bertahan hidup. Molekul yang tersisa pun akan menguap saat menghantam permukaan tanah.

Peneliti utama sekaligus astronom Cambridge, Richard Anslow, menyebut gagasan komet sebagai pembawa molekul kehidupan sebagai ide yang romantis. “Secara historis, ilmuwan berpikir bahwa komet penting bagi asal-usul kehidupan di Bumi, karena mereka membawa molekul yang mengandung karbon dan nitrogen, sehingga bola salju raksasa antariksa ini hampir seperti ‘kartu bebas keluar dari penjara’ yang membawa semua molekul yang dibutuhkan planet untuk menyemai kehidupan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan. “Ini semacam ide yang romantis, tetapi hasil kami menunjukkan itu sangat tidak mungkin.”

Simulasi HCN dan Peluang yang Nyaris Mustahil

Konsep pseudo-panspermia, yaitu gagasan bahwa blok pembangun kehidupan datang dari luar angkasa, memang menguat dalam beberapa dekade terakhir. Astronom kerap menemukan molekul organik pada komet dan asteroid, yang menunjukkan bahwa molekul tersebut melimpah di seluruh kosmos. Sampel dari asteroid bernama Bennu bahkan mengandung 14 dari 20 asam amino yang digunakan kehidupan untuk membentuk protein serta kelima molekul penyusun DNA dan RNA. Temuan itu mendukung hipotesis “RNA world” yang menyatakan bahwa bentuk kehidupan paling awal bergantung pada molekul RNA yang mereplikasi diri sebelum munculnya DNA dan protein.

Dalam studi sebelumnya, Anslow menyarankan bahwa komet bisa “memantul” di antara planet-planet yang orbitnya berdekatan, sehingga komet dapat melambat hingga kecepatan di bawah sembilan mil per detik. Pada kecepatan itu, komet dinilai mampu mengantarkan molekul organik tanpa menghancurkannya. Namun karya terbaru menunjukkan bahwa kemungkinan skenario tersebut terjadi di Bumi sangat tipis.

Dalam simulasi masuknya komet, tim berfokus pada hidrogen sianida (HCN), molekul prebiotik yang umum ditemukan pada komet di tata surya. Hasilnya, terlalu banyak kondisi yang harus sempurna agar hidrogen sianida dapat bertahan utuh selama perjalanan. “Itu benar-benar harus menjadi kejadian satu dalam sejuta,” kata Anslow, “karena Anda tidak hanya membutuhkan tumbukan pada kecepatan yang tepat dan sudut yang tepat, tetapi juga segala sesuatu harus terjadi setelah titik itu, dalam hal konsentrasi dan kecepatan dimulainya asal-usul kimia kehidupan.”

Ia menambahkan bahwa pihaknya tidak bisa menyingkirkan kemungkinan tersebut secara pasti. “Tetapi tampaknya ini kejadian yang sangat langka, paling-paling sebuah kebetulan yang terjadi sekali saja,” ucapnya. Molekul HCN yang berhasil bertahan pun tidak akan berada dalam jumlah yang cukup besar. Para peneliti menulis bahwa molekul tersebut menjadi “sumber yang tidak signifikan dari molekul bahan baku terkonsentrasi yang dibutuhkan untuk kimia prebiotik.”

Mars Jadi Alternatif, tapi Tetap Tidak Pasti

Meski temuan ini menjadi pukulan bagi teori asal-usul kehidupan di Bumi, para peneliti menyarankan bahwa komet mungkin pernah menyemai molekul pemberi kehidupan di Mars. Planet Merah memiliki atmosfer yang lebih tipis sehingga proses masuknya komet berlangsung lebih mulus dibandingkan di Bumi.

“Ini bukan berarti hal itu pasti terjadi di Mars, tentu saja, tetapi menunjukkan bahwa akan tidak mungkin jika hal itu terjadi di Bumi dan tidak terjadi di Mars,” kata Anslow. “Atau alternatif lain, yang mungkin lebih mungkin, adalah bahwa hal itu tidak terjadi di kedua planet.”

Dengan demikian, studi ini tidak hanya mempertanyakan peran komet dalam asal-usul kehidupan di Bumi, tetapi juga membuka ruang pada kemungkinan bahwa peristiwa semacam itu sangat jarang terjadi di tata surya. Simulasi yang berfokus pada hidrogen sianida menunjukkan bahwa kombinasi kecepatan, sudut tumbukan, konsentrasi, dan waktu yang sempurna membuat skenario komet sebagai pembawa kehidupan menjadi kejadian yang nyaris mustahil.

Penelitian ini menegaskan bahwa pseudo-panspermia, meski didukung oleh temuan molekul organik pada asteroid seperti Bennu, tetap menghadapi tantangan besar ketika diuji dalam kondisi atmosfer Bumi. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan sains dan teknologi, temuan University of Cambridge ini menjadi pengingat bahwa asal-usul kehidupan masih menjadi pertanyaan terbuka yang membutuhkan bukti lebih lanjut, bukan sekadar narasi yang romantis.

Sebagai informasi, studi ini dipublikasikan di jurnal Scientific Reports dan dipimpin oleh Richard Anslow dari University of Cambridge. Fokus simulasi adalah hidrogen sianida (HCN) yang umum ditemukan pada komet di tata surya, dengan kesimpulan bahwa peluang molekul tersebut bertahan utuh sangat kecil. Untuk konteks perkembangan teknologi lain yang sedang ramai dibahas, Anda bisa membaca ulasan Harga RTX 5080 serta inovasi FADU FS-SSD di kanal teknologi Telset.id.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.