Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang ditandatanganinya di Gedung Putih pada 22 Juni 2026

Trump Teken Dua Perintah Eksekutif untuk Komputer Kuantum

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Presiden Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk komputasi kuantum pada 22 Juni 2026
  • Perintah pertama targetkan pembangunan komputer kuantum praktis untuk riset pada 2028
  • Perintah kedua percepat pengembangan kriptografi pasca-kuantum dari 2035 menjadi 2031
  • Google juga memajukan tenggat PCQ-nya menjadi 2029
  • Pentagon diminta kerahkan sensor kuantum pada 2028 sebagai alternatif GPS
  • Langkah ini muncul sebulan setelah AS beli saham $2 miliar di sembilan perusahaan kuantum
  • Potensi konflik kepentingan karena PsiQuantum, penerima dana, diinvestasikan oleh firma tempat Donald Trump Jr menjadi mitra
  • Komputasi kuantum jadi medan persaingan teknologi antara AS dan China

Telset.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk mendorong riset di industri komputasi kuantum, dengan tujuan mempercepat penelitian ilmiah dan melindungi negara dari ancaman keamanan siber yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi tersebut. Langkah ini diambil pada Selasa, 22 Juni 2026, di Gedung Putih.

Dalam acara penandatanganan di Oval Office, Trump menyatakan, “Kami akan berinvestasi dalam kepemimpinan kuantum Amerika seperti belum pernah terjadi sebelumnya.” Perintah eksekutif pertama, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal, menginstruksikan badan-badan federal untuk bekerja sama dengan sektor swasta dan akademisi guna membangun komputer kuantum yang mampu melakukan penelitian ilmiah pada tahun 2028.

Keberhasilan proyek ini akan membuktikan bahwa mesin kuantum memiliki aplikasi praktis. Sejauh ini, eksperimen telah menunjukkan bahwa komputer kuantum dapat memecahkan persamaan kompleks, namun umumnya belum memiliki kegunaan di dunia nyata.

Komputasi kuantum diperkirakan akan sejalan dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI). Dalam konteks geopolitik, teknologi ini bisa menjadi medan pertempuran kunci dalam perlombaan teknologi antara AS dan China, yang juga menjadikan bidang ini sebagai prioritas nasional.

Jika komputer kuantum memenuhi potensinya, mereka akan mampu memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh komputer klasik, dan dengan kecepatan yang lebih tinggi. Alih-alih menggunakan bit tradisional yang mewakili 0 dan 1, komputer kuantum menggunakan q-bit yang bisa berada dalam kedua keadaan sekaligus, memungkinkan mereka menyimpan lebih banyak informasi.

Q-bit ini juga bisa “terjerat” satu sama lain dan berbagi keadaan yang sama, sehingga ketika satu q-bit berubah, q-bit lainnya langsung berubah juga, secara dramatis mempercepat perhitungan. Hal ini memiliki implikasi yang mengerikan di era informasi kita.

Sebuah komputer kuantum bisa dengan mudah menguraikan algoritma enkripsi kita saat ini, misalnya, menyebabkan apa yang dikhawatirkan para ahli sebagai kiamat keamanan siber. Di sinilah perintah eksekutif kedua berperan.

Perintah tersebut menginstruksikan badan-badan pemerintah untuk mempercepat “kriptografi pasca-kuantum” (PCQ) dan mengembangkan algoritma yang dapat menahan serangan dari mesin kuantum yang kuat, memajukan target pencapaian ini menjadi tahun 2031 dari target 2035 yang ditetapkan oleh pemerintahan Biden.

Ini terdengar seperti fiksi ilmiah, namun sejalan dengan suasana industri komputasi kuantum. Awal tahun ini, Google, yang merupakan pemimpin di bidang ini, memajukan tenggat waktu pengembangan sistem PCQ menjadi tahun 2029.

Perintah tersebut juga menginstruksikan Pentagon untuk mengerahkan apa yang disebut sensor kuantum pada tahun 2028, yaitu perangkat yang dirancang untuk mendeteksi perubahan yang sangat halus di lingkungan fisik sebagai alternatif sistem GPS tradisional.

Sepasang perintah eksekutif baru ini muncul sebulan setelah Departemen Perdagangan AS mengumumkan akan membeli saham senilai $2 miliar di sembilan perusahaan komputasi kuantum yang berbeda. Mungkin ada sedikit konflik kepentingan, jika bukan motif tersembunyi: salah satu penerima pendanaan adalah PsiQuantum, yang salah satu investornya adalah 1789 Capital — perusahaan modal ventura tempat putra Trump, Donald Trump Jr, menjadi mitra.

Investasi dalam teknologi ini, perlu dicatat, juga bisa memberikan keuntungan pribadi bagi keluarga Trump. Namun, Trump sendiri tampaknya tidak terlalu tertarik secara pribadi dengan riset kuantum.

Saat Menteri Energinya, Chris Wright, tersandung saat memulai pidatonya dengan memperkenalkan makalah penting Einstein, Trump dengan sinis menyela: “Tidak ada yang peduli.”

Langkah kebijakan ini menunjukkan komitmen serius pemerintahan Trump terhadap komputasi kuantum, baik untuk kepentingan ilmiah, keamanan nasional, maupun persaingan teknologi global. Dengan target ambisius untuk membangun komputer kuantum praktis pada 2028 dan mengamankan infrastruktur kriptografi pada 2031, AS berusaha mempertahankan posisinya di garis depan inovasi teknologi.

Namun, kehadiran potensi konflik kepentingan dan sikap pribadi Trump yang acuh tak acuh terhadap sains menimbulkan pertanyaan tentang motivasi sebenarnya di balik kebijakan ini. Apakah ini tentang keamanan nasional, atau tentang keuntungan pribadi dan politik?

Yang jelas, perlombaan komputasi kuantum telah dimulai dengan serius. Dengan China yang juga menginvestasikan sumber daya besar di bidang ini, tekanan untuk berinovasi semakin besar. Kesepakatan chip dan investasi teknologi lainnya menunjukkan bahwa pemerintahan Trump serius mendorong kemandirian teknologi AS.

Bagi industri teknologi, perintah eksekutif ini membuka peluang baru. Perusahaan seperti Google yang sudah memajukan tenggat waktu PCQ-nya hingga 2029, akan mendapat dukungan regulasi dan pendanaan dari pemerintah. Sektor swasta dan akademisi juga diundang untuk berpartisipasi dalam proyek ambisius ini.

Namun, skeptisisme tetap ada. Banyak ahli mempertanyakan apakah target 2028 untuk membangun komputer kuantum yang benar-benar berguna secara praktis terlalu ambisius. Sejarah menunjukkan bahwa janji-janji besar tentang komputasi kuantum seringkali gagal terwujud tepat waktu.

Terlepas dari itu, langkah ini menegaskan bahwa komputasi kuantum bukan lagi sekadar riset laboratorium, melainkan prioritas kebijakan nasional yang konkret. Dampaknya akan terasa tidak hanya di laboratorium fisika, tetapi juga di ranah keamanan siber, kecerdasan buatan, dan geopolitik global.

Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa perlombaan teknologi semakin cepat. Kesenjangan digital dan teknologi antara negara maju dan berkembang berpotensi semakin lebar jika tidak diantisipasi sejak dini.

Pada akhirnya, perintah eksekutif Trump tentang komputasi kuantum adalah langkah berani yang mencerminkan ambisi besar. Apakah akan berhasil atau tidak, waktu yang akan menjawab. Yang pasti, dunia teknologi akan mengawasi dengan saksama.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan kebijakan terkini, ikuti terus teardown perangkat dan analisis mendalam hanya di Telset.id.

Dengan target ambisius ini, pemerintahan Trump berharap dapat mengamankan posisi AS sebagai pemimpin global dalam komputasi kuantum, sambil melindungi infrastruktur kritis dari ancaman yang ditimbulkan oleh teknologi itu sendiri. Sebuah keseimbangan yang rumit antara inovasi dan keamanan.

Para pelaku industri dan akademisi kini menunggu detail lebih lanjut tentang bagaimana perintah eksekutif ini akan diimplementasikan. Kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan universitas akan menjadi kunci keberhasilan proyek ambisius ini.

Sementara itu, China terus bergerak maju dengan program komputasi kuantumnya sendiri. Persaingan teknologi antara dua negara adidaya ini diperkirakan akan semakin memanas dalam beberapa tahun ke depan, dengan komputasi kuantum sebagai salah satu medan pertempuran utamanya.

Bagi konsumen dan masyarakat umum, dampak langsung mungkin belum terasa dalam waktu dekat. Namun, dalam jangka panjang, komputasi kuantum berpotensi mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan teknologi.

Komentar

Belum ada komentar.