Robot gudang di fasilitas Walmart yang menghadapi kendala operasional.

Walmart Gagal Otomatisasi Gudang, Robot Mahal Sering Rusak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Walmart habiskan miliaran dolar untuk otomatisasi gudang namun masih kesulitan
  • Robot kecil beroda tak mampu angkat barang berat dan sering rusak
  • Biaya insinyur di gudang otomatis melampaui gaji pekerja tidak terampil
  • Amazon dan Kroger juga hadapi kegagalan serupa, Kroger rugi US$2,6 miliar
  • Robot humanoid untuk gudang masih jauh dari kenyataan praktis

Telset.id – Walmart menghadapi kenyataan pahit dalam upaya otomatisasi gudangnya. Meski telah menghabiskan miliaran dolar, raksasa ritel asal Amerika Serikat itu masih kesulitan membuat robot-robot sederhana bekerja dengan baik. Bahkan tugas paling dasar, seperti mengeluarkan barang dari kotak kardus untuk dikemas bagi pelanggan, terbukti sangat menantang. Kegagalan ini menjadi sorotan utama dalam laporan The Wall Street Journal, yang mengungkap bahwa ambisi otomatisasi Walmart jauh panggang dari api.

Setelah merekrut sejumlah perusahaan robotik, Walmart akhirnya memilih robot kecil beroda untuk digunakan di lebih dari selusin gudangnya. Namun, robot-robot mungil tersebut masih belum mampu menangani benda besar dan berat, seperti karung makanan anjing. Selain keterbatasan kemampuan, robot-robot ini juga sering mengalami kerusakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah besarnya tekanan untuk menggantikan pekerja manusia, perusahaan menghadapi hambatan besar dalam mengotomatisasi alur kerja dunia nyata di lingkungan seperti gudang dan fasilitas logistik.

Para eksekutif Walmart bersikeras bahwa dorongan otomatisasi ini akan mengurangi jumlah pekerja gudang, dengan banyak dari mereka dialihkan ke peran mengelola dan memperbaiki robot. Namun, transisi tersebut dilaporkan menelan biaya yang sangat besar. Menurut sumber WSJ di Walmart, biaya untuk membayar insinyur mesin dan listrik di gudang otomatis mereka melampaui total gaji pekerja gudang tidak terampil. Temuan ini menegaskan bahwa efisiensi yang dijanjikan otomatisasi tidak serta-merta sejalan dengan penghematan biaya.

Masalah ini tidak hanya dialami Walmart. Amazon juga melakukan berbagai upaya luar biasa untuk mengotomatisasi gudangnya. Langkah tersebut menciptakan apa yang disebut Rueben Scriven dari firma intelijen pasar Interact Analysis sebagai “perlombaan senjata” alias arms race antarperitel. Namun, terlepas dari komitmen finansial yang besar, banyak dari upaya tersebut justru menemui kegagalan.

Contoh nyata datang dari Kroger. Perusahaan ritel tersebut harus menanggung kerugian hingga 2,6 miliar dolar AS setelah investasi besar pada “jaringan pemenuhan otomatis” atau automated fulfillment network tidak membuahkan hasil. Kerugian fantastis ini menjadi bukti bahwa otomatisasi gudang bukanlah solusi instan yang selalu menguntungkan.

A warehouse robot at a Walmart facility.

Sementara itu, transisi yang jauh lebih ambisius menuju robot humanoid untuk gudang terasa seperti sebuah angan-angan yang bahkan lebih jauh dari kenyataan. Meski perusahaan-perusahaan menyalurkan miliaran dolar untuk pengembangan robot berkaki dua atau bipedal, teknologi ini secara umum masih menjadi Moonshot alias proyek jangka panjang berisiko tinggi untuk pekerjaan fisik praktis.

Fakta bahwa robot kecil beroda saja masih sering rusak dan tak mampu mengangkat karung makanan anjing menjadi tamparan keras bagi narasi besar otomatisasi. Investasi besar dalam teknologi seperti yang dilakukan Walmart melalui berbagai inisiatif digitalnya, termasuk dalam Akuisisi Vibe.co, tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mendasar di lantai gudang. Bahkan, ekspansi ke sektor lain seperti infrastruktur kendaraan listrik melalui peresmian Stasiun Pengisian EV menunjukkan betapa luasnya lini bisnis Walmart, namun tetap tak menutupi kendala operasional di gudang.

Kegagalan ini juga mempertegas bahwa adopsi teknologi di sektor ritel tidak selalu mulus. Bahkan ketika sebuah produk teknologi baru muncul di kanal ritel seperti yang terjadi pada Galaxy S24+, dinamika di lapangan tetap jauh lebih kompleks daripada sekadar kehadiran perangkat di etalase. Otomatisasi gudang menuntut integrasi perangkat keras, perangkat lunak, dan tenaga ahli yang mahal, sesuatu yang belum mampu dijawab sepenuhnya oleh robot-robot sederhana saat ini.

Dengan biaya insinyur yang melampaui gaji pekerja tidak terampil dan seringnya kerusakan robot, pertanyaan besar tentang efektivitas otomatisasi gudang pun mengemuka. Laporan WSJ ini menegaskan bahwa meski tekanan untuk menggantikan manusia dengan mesin terus meningkat, realitas di lapangan menunjukkan hambatan teknis dan ekonomi yang masih sangat signifikan.

[ META_DESCRIPTION]
Walmart kesulitan otomatisasi gudang meski habiskan miliaran dolar. Robot sering rusak dan biaya insinyur melampaui gaji pekerja.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.