Telset.id – Seorang Senator Amerika Serikat mengecam keras Apple dan CEO Tim Cook atas keputusan perusahaan menaikkan harga sejumlah produk iPad dan MacBook. Langkah ini dinilai sebagai cerminan “keserakahan korporasi” yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Kenaikan harga yang diumumkan pada pekan lalu ini langsung memicu reaksi dari berbagai kalangan, mulai dari konsumen hingga politisi. Yang paling keras adalah Senator Independen Bernie Sanders dari Vermont. Dalam sebuah cuitan di media sosial, Sanders secara terang-terangan menyebut Tim Cook sebagai personifikasi dari “keserakahan korporasi.”
“Kenaikan harga ini tidak bisa dihindari? Tidak bisa diterima,” tulis Sanders dalam cuitannya, seperti dikutip dari laporan PhoneArena pada Minggu (28/6/2026). Sanders mempertanyakan bagaimana Apple, perusahaan yang melaporkan keuntungan miliaran dolar setiap tahun dan menghabiskan lebih banyak uang untuk pembelian kembali saham, justru membebankan biaya chip yang lebih tinggi kepada konsumen.
Keputusan Apple ini sebenarnya sudah diisyaratkan sebelumnya. CEO Apple Tim Cook pada 17 Juni lalu telah memperingatkan bahwa perusahaan tidak punya pilihan selain menaikkan harga. Penyebabnya adalah melonjaknya harga chip memori dan penyimpanan akibat permintaan besar dari pusat data kecerdasan buatan (AI).
Situasi ini bahkan disebut-sebut telah memaksa Apple untuk meminta izin kepada Gedung Putih agar bisa membeli chip memori yang langka dari perusahaan China yang masuk daftar hitam, ChangXin Memory Technologies. Ini menunjukkan betapa tertekannya rantai pasokan Apple saat ini.
Meskipun lini iPhone belum tersentuh kenaikan harga, banyak pihak memperkirakan harga iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max akan naik saat dirilis pada September mendatang. Beberapa sumber menyebut kenaikan harga iPhone 18 Pro bisa mencapai $300, sehingga harga awalnya menjadi $1.399. Sementara itu, bank investasi global J.P. Morgan memperkirakan kenaikan yang lebih moderat, yaitu $50 menjadi $1.149.
Sebagai perbandingan, harga iPhone 17 Pro tahun lalu dimulai dari $1.099. Kenaikan harga ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para penggemar setia Apple.
Baca Juga:
Kritik dan Pembelaan dari Berbagai Pihak
Kritik pedas dari Senator Sanders tidak serta-merta membuat semua pihak setuju. Bloomberg’s Mark Gurman, misalnya, memberikan tanggapan yang lugas. “Apple adalah bisnis, bukan badan amal,” tulis Gurman dalam kolom Power On mingguannya. Pernyataan ini menjadi pembelaan pragmatis atas keputusan Apple yang dinilai kontroversial.
Di sisi lain, analis Wall Street justru banyak yang membela langkah Apple. Dan Ives dari Wedbush, yang dikenal sebagai pengamat setia Apple, menyebut kenaikan harga sebagai “langkah yang tepat untuk margin.” Ives menilai Apple seperti “merobek plester” dan mengambil keputusan yang sulit namun perlu.
Gene Munster, Managing Partner Deepwater Asset Management, juga memberikan pandangannya. Menurut Munster, pelanggan Apple sangat loyal. Ia memperkirakan ada sekitar 1,5 miliar konsumen yang sudah terkunci dalam ekosistem Apple. “Mereka mendapatkan banyak nilai dari produk-produk ini bahkan dengan kenaikan harga terbaru,” cuit Munster.
Namun, perlu dicatat bahwa Senator Sanders disebut-sebut melebih-lebihkan jumlah pembelian kembali saham Apple. Dalam cuitannya, Sanders menyebut angka $310 miliar untuk tahun fiskal 2025, padahal jumlah sebenarnya adalah $89,3 miliar. Meski demikian, esensi kritik Sanders tentang beban harga yang dialihkan ke konsumen tetap menjadi perdebatan hangat.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Valuasi Apple
Kenaikan harga yang diumumkan pada 25 Juni lalu langsung berdampak signifikan pada kinerja saham Apple. Saham Apple tercatat anjlok lebih dari 6% pada hari pengumuman, ditutup di harga $275,20. Sebagai perbandingan, pada 2 Juni lalu Apple sempat mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di $315,20. Artinya, saham Apple telah turun 10% sejak saat itu.
Penurunan ini diperkirakan telah menghilangkan sekitar $500 miliar nilai pasar Apple. Gene Munster menyebut penurunan ini sebagai “reaksi berlebihan terhadap kekhawatiran akan penghancuran permintaan.”
Apple dijadwalkan merilis laporan pendapatan berikutnya pada 30 Juli. Laporan tersebut akan mengungkapkan kinerja kuartal fiskal ketiga Apple. Namun, kemungkinan masih terlalu dini untuk melihat perubahan permintaan akibat kenaikan harga yang baru berlaku pada 25 Juni. Kuartal fiskal ketiga Apple mencakup periode tiga bulan dari awal April hingga akhir Juni.
Situasi ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh keputusan harga Apple tidak hanya terhadap konsumen, tetapi juga terhadap pasar saham dan valuasi perusahaan secara keseluruhan. Para analis masih terpecah pendapat, namun mayoritas masih memegang tinggi pandangan terhadap Apple.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.