Telset.id – Supermicro menegaskan kantornya di Taiwan tidak digerebek oleh otoritas setempat, melainkan perusahaan secara sukarela memberikan akses penuh kepada penyidik dalam kasus dugaan penyelundupan chip AI Nvidia ke China. Langkah ini diambil untuk meredakan kekhawatiran mitra dan investor di tengah penyelidikan yang semakin meluas.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Chief Revenue Officer Supermicro, Matt Thauberger, dalam surat tertulis kepada pelanggan dan mitra. Ia menegaskan bahwa perusahaan telah bekerja sama dengan otoritas Taiwan sejak Mei tahun ini dan tidak menjadi target utama investigasi. “Kami memiliki toleransi nol terhadap siapa pun yang melanggar hukum atau kebijakan internal kami,” tulis Thauberger.
Sebelumnya, pemberitaan menyebutkan bahwa polisi Taiwan melakukan penggerebekan di kantor Supermicro sebagai bagian dari penyelidikan yang lebih luas terhadap dugaan penyelundupan GPU AI Nvidia ke China. Namun, Supermicro mengklarifikasi bahwa kunjungan aparat bukanlah sebuah penggerebekan, melainkan bagian dari kerja sama sukarela perusahaan dalam memberikan akses ke perangkat elektronik karyawan yang diduga terlibat.
Karyawan yang diduga melanggar aturan ekspor AS tersebut telah ditempatkan dalam cuti administratif sementara penyelidikan berlangsung. Langkah ini menunjukkan keseriusan Supermicro dalam menangani kasus ini dan memulihkan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Dampak pada Kepercayaan Mitra dan Harga Saham
Meskipun Supermicro tidak secara langsung dituduh dalam kasus ini, fakta bahwa banyak karyawannya sedang diselidiki dan didakwa telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan mitra dan pelanggan. Bahkan, CEO Nvidia Jensen Huang telah mendesak Supermicro untuk memperbaiki kontrol kepatuhan ekspornya. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa perusahaan bergerak cepat untuk mengklarifikasi situasi yang telah menyebabkan harga sahamnya turun 8% di pasar AS.
Kasus ini merupakan bagian dari upaya Taiwan untuk menyelidiki dugaan penyelundupan chip AI Nvidia ke China melalui wilayahnya. Taiwan tidak memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur kontrol ekspor seperti AS, sehingga penyelidikan dilakukan dengan interpretasi longgar terhadap regulasi lain. Pendekatan serupa juga diterapkan oleh Singapura, yang baru-baru ini menyita aset milik tersangka penyelundup GPU AI.
Di AS, tiga individu yang terkait dengan Supermicro, termasuk salah satu pendiri perusahaan, Yih-Shyan “Wally” Liaw, telah ditangkap atas tuduhan konspirasi melanggar Undang-Undang Reformasi Kontrol Ekspor. Mereka diduga menggunakan pengering rambut untuk melunakkan lem pada ribuan nomor seri server yang dilarang, lalu memindahkannya ke unit palsu agar lebih sulit dilacak. Server tersebut kemudian dilaporkan dikirim melalui entitas terkait pemerintah Thailand sebelum akhirnya tiba di gudang raksasa teknologi China, Alibaba.
Baca Juga:
Insiden ini menjadi pengingat akan meningkatnya ketegangan dalam perdagangan teknologi antara AS dan China, terutama terkait chip AI canggih. Otoritas AS telah memberlakukan kontrol ekspor yang ketat untuk mencegah teknologi AI jatuh ke tangan China, namun celah dan upaya penyelundupan terus terjadi. Harga Terbaru server Nvidia A100 di China bahkan melonjak tiga kali lipat akibat kelangkaan pasokan.
Supermicro, sebagai salah satu pemasok server terkemuka untuk pusat data, kini berada di bawah tekanan untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi ekspor. Langkah proaktif perusahaan dalam bekerja sama dengan otoritas Taiwan diharapkan dapat meredakan kekhawatiran dan membangun kembali kepercayaan di tengah krisis ini.
Kasus ini juga menyoroti kompleksitas rantai pasok teknologi global, di mana komponen canggih seperti GPU AI dapat dengan mudah dipindahkan antar negara melalui berbagai yurisdiksi. Pasar Server global sendiri telah menembus rekor $122,6 miliar di Q1 2026, menunjukkan betapa besarnya nilai bisnis yang dipertaruhkan.
Ke depannya, pengawasan yang lebih ketat terhadap ekspor chip AI kemungkinan akan terus berlanjut, dan perusahaan seperti Supermicro harus siap menghadapi konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan oleh karyawannya. Kerja sama penuh dengan otoritas menjadi langkah penting untuk memitigasi risiko reputasi dan bisnis.





Komentar
Belum ada komentar.