Telset.id – Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal II 2026. Target harga saham GOTO dari para analis ini berkisar antara Rp70 hingga Rp78 per saham, menandakan optimisme di tengah berbagai tantangan bisnis.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, menetapkan target harga saham GOTO sebesar Rp70 per saham. Sementara itu, analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus, memberikan rekomendasi “buy” dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp78 per saham. Analis Macquarie, Ariyanto Jahja, juga mempertahankan pandangan positif dengan target harga Rp72 per saham. Dengan demikian, rata-rata target harga yang diberikan para analis masih berada di atas level Rp70 per saham.
Optimisme ini muncul meskipun ada kebijakan pemerintah yang membatasi komisi ojek daring. Dalam risetnya, Kafi menilai dampak kebijakan penurunan komisi ojek online menjadi 8 persen terhadap bisnis GoTo tidak akan sebesar yang dikhawatirkan. Hal ini karena kebijakan tersebut hanya berlaku untuk layanan roda dua.
Menurut dia, kebijakan tersebut membuat eksposur terhadap bisnis On-Demand Services (ODS) secara keseluruhan relatif terbatas. Ruang bagi perseroan untuk mempertahankan kinerja bisnis masih terbuka. Manajemen GoTo juga dinilai telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.
Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan ialah melakukan rasionalisasi promosi dan insentif kepada pelanggan. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menjaga profitabilitas di tengah perubahan struktur komisi. Strategi serupa juga pernah diterapkan saat perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran, seperti yang terlihat saat GoTo PHK 1.300 karyawan beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Meskipun prospek jangka pendek terlihat positif, para analis juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Kafi Ananta menyoroti potensi pelemahan daya beli masyarakat yang dapat memengaruhi kinerja bisnis on-demand melalui Gojek maupun layanan teknologi keuangan GoPay.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi keluarnya saham GOTO dari indeks MSCI. Risiko lainnya datang dari pelaksanaan program pembelian kembali (buyback) saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 18 Juni 2026, pemegang saham GoTo menyetujui rencana buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun untuk periode 2026 hingga 2027.
Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham GOTO masih menjadi salah satu emiten dengan volume transaksi terbesar selama kuartal II 2026. Volume transaksi saham GOTO mencapai 163,16 miliar saham atau setara 8,05 persen dari total saham yang diperdagangkan di BEI pada periode tersebut. Angka ini menunjukkan likuiditas dan minat investor yang masih tinggi terhadap saham teknologi ini.
Keputusan pemerintah terkait batas komisi ojol menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi pergerakan saham emiten teknologi seperti GOTO. Kebijakan serupa di sektor lain juga kerap menjadi perhatian pelaku pasar, misalnya kebijakan harga yang memengaruhi sektor ritel seperti yang terjadi pada iPhone 14 dijual dengan harga tertentu.
Dengan berbagai faktor tersebut, investor diharapkan dapat mencermati perkembangan laporan keuangan kuartal II 2026 yang akan diumumkan pada 29 Juli. Hasil laporan tersebut akan menjadi indikator penting apakah optimisme para analis terhadap target harga saham GOTO dapat terwujud di tengah dinamika bisnis dan regulasi yang ada.





Komentar
Belum ada komentar.